Lewat Film BNNP DIY Sebut Bahaya Narkoba Bertransformasi Jadi Permen
film berdurasi 1 jam 38 menit tersebut memberikan gambaran visual mengenai dampak penyalahgunaan narkoba sekaligus upaya pencegahannya.
Ilustrasi/JIBI-Bisnis Indonesia-Paulus Tandi Bone
Harianjogja.com, JOGJA—Pengamat ekonomi dari Pusat Kajian Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogja, Ardhito Binadi, menilai persaingan bisnis keuangan sangat ketat. Di era dahulu, perbankan gencar beradu suku bunga relatif tinggi dengan pesaing agar orang menempatkan dananya.
"Kemudian berkembang menjadi adu hadiah mewah. Pada akhirnya bank yang dipilih adalah bank yang mampu memberikan keamanan dana dan layanan keuangan lengkap," ujarnya saat dihubungi, Jumat (20/12/2019).
Era berikutnya muncul e-money dan fintech. Agar masyarakat bersedia memindahkan uang tunainya menjadi e-money, provider gencar promosi kemudahan dan potongan besar-besaran untuk setiap transaksi menggunakan e-money.
"Tujuannya sama, agar orang menggunakan e-money mereka. Strategi ini jangka pendek mampu menarik sebagian masyarakat," katanya.
Meski ditawarkan dengan berbagai kemudahan dan potongan harga besar-besaran, menurut Ardhito orang yang memiliki uang banyak akan tetap bertindak rasional. Tidak mudah tergiur dengan strategi bakar uang oleh provider.
"E-money sama seperti uang kartal lainnya. Berfungsi sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. Provider yang mampu memberikan layanan lengkaplah yang akhirnya akan bertahan. E-money yang dimiliki harus bisa dipakai pada banyak tujuan bertransaksi secara retail," ujarnya.
Hal itu dikarenakan uang kertas dapat digunakan pada berbagai macam transaksi di manapun dengan ragam yang banyak. Sementara e-money sebagian masih terbatas pada transaksi tertentu di tempat tertentu.
"Jangka pendek orang tergiur memiliki e-money untuk dapat diskon promo. Seiring dengan keterbatasan bertransaksi dan tempat transaksi, akhirnya berpikir ulang untuk nambah saldo di e-money," ujarnya.
Ardhito berkesimpulan, provider dengan strategi bakar uang akan tetap kalah pada akhirnya dengan yang memberikan layanan transaksi lebih luas dan lebih lengkap.
"Akhirnya e-money yang dapat digunakan pada ragam transaksi lebih banyak dan tempat lebih banyak yang akan dipilih masyarakat, mendekati fungsi uang kertas yang selama ini telah dimiliki," tandasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
film berdurasi 1 jam 38 menit tersebut memberikan gambaran visual mengenai dampak penyalahgunaan narkoba sekaligus upaya pencegahannya.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.
Perpres ojol masih difinalisasi Komdigi. Pemerintah menguji formula bagi hasil yang adil bagi pengemudi dan menjaga bisnis platform ride-hailing.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan kasus sabu 98 kg, di salon Mangga Besar. BNN juga menyita uang dan aset Rp39,95 miliar.
Tujuh tentara AS dilaporkan tewas dalam bentrokan di USS Abraham Lincoln. Insiden disebut dipicu stres akibat perang berkepanjangan.
Satpol PP Bantul menemukan 2.704 batang rokok ilegal di dua warung di Sanden dalam operasi bersama Bea Cukai Yogyakarta.