Sampai Sekarang Kebutuhan Alkes Masih Tergantung Impor

Sampai Sekarang Kebutuhan Alkes Masih Tergantung ImporMenteri Kesehatan Nila F Moeloek (dua dari kanan) bersama Komisaris Utama PT MAK Boentoro saat mengamati proses produksi homecare bed di Export Oriented Production (EOP) Plant MAK, Kamis (1/11/2018). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
11 Januari 2020 09:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peluang bisnis alat kesehatan (alat kesehatan), produk obat tradisional dan pangan sehat dinilai besar saat ini. Sebab sampai saat ini kebutuhan alat kesehatan maupun obat masih banyak dari impor.

Direktur Swayasa Prakarsa, yang berada di bawah PT Gama Multi Usaha Mandiri, Bondan Ardiningtyas mengatakan berusaha mengembangkan riset hasil dari mahasiswa, maupun peneliti di luar UGM untuk mengembangkan industri alat kesehatan, produk obat tradisional dan pangan sehat. Upaya ini dilakukan untuk memberikan manfaat bagi konsumen.

“Kami fokus di kesehatan, peluang masih sangat besar. Saat ini 95 persen alat kesehatan masih impor, kami memperkuat lini itu. Perkuat alat kesehatan dalam negeri dan mengawal produk obat tradisional dan pangan sehat,” ucapnya, Jumat (10/1).

Meski masih memiliki peluang besar di pasar, tantangan yang dihadapi menurutnya juga tidak mudah. Ada sejumlah tantangan, mulai dari bagaimana mendorong para peneliti inovasi percaya diri, hasil kekayaan intelektualnya baik dan bisa berkompetisi dengan produk impor.

Selain itu juga, upaya mengedukasi pengguna untuk percaya pada produk dalam negeri hingga mendukung kemandirian produk dan penggunaan produk dalam negeri perlu terus didorong.

“Lalu tantangan lainnya alih teknologi tidak bergantung lagi dengan asing, karena banyak kekayaan intelektual Indonesia sejak dulu yang berpotensi. Namun, karena terbiasa konsumtif, sehingga malas inovasi,” ucapnya.