Advertisement
Wamenkeu Jelaskan Alasan Pemerintah Tambah Utang
Wamenkeu Suahasil Nazara. - Detikcom/ Ardan Adhi Chandra
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA-- Wakil Menteri Keuangan (Wamanekau) Suahasil Nazara mengungkap alasan pemerintah menambah utang. Menurutnya, pemerintah harus menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5%.
Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara kunci pada acara Market Outlook 2020 di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan. Acara tersebut dihadiri para nasabah prioritas BTN.
Advertisement
"APBN itu adalah alat, dia alat untuk mengelola pembangunan, penerimaan adalah alat belanja adalah alat, pembiayaan alias utang adalah alat, untuk mengelola perekonomian," kata Suahasil di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Kementerian Keuangan masih mencatatkan bahwa realisasi kinerja APBN Tahun Anggaran 2019 masih tekor atau defisit sebesar Rp353,0 triliun. Hal itu karena realisasi penerimaan lebih kecil dibandingkan belanja negara.
BACA JUGA
Defisit anggaran yang sebesar Rp353,0 triliun setara dengan 2,20% terhadap PDB, angka ini juga naik dari proyeksi awal pemerintah yang berada di level 1,84% atau setara dengan Rp296,0 triliun.
Dia menceritakan pada 2019, banyak kejadian global yang memberikan dampak bagi perekonomian nasional. Salah satunya perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS), dan keputusan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa.
Di saat kondisi tersebut, Suahasil mengaku pemerintah memiliki pilihan untuk memangkas anggaran belanja. Namun, hal itu tidak dipilih dan tetap membelanjakan anggaran tersebut demi menjaga perekonomian nasional. Pasalnya, sebagian besar ekonomi Indonesia berasal dari tingkat konsumsi.
Sehingga yang terjadi adalah anggaran belanja lebih besar dibandingkan dengan penerimaan. Realisasi penerimaan negara Rp1.957,2 triliun per 31 Desember 2019 dari target Rp2.165,1 triliun. Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp2.310,2 triliun dari target Rp2.461,1 triliun.
"Kita naikkan utangnya, kita naikkan defisitnya itu adalah pilihan sadar supaya belanja negara tidak turun, kenapa dibela-belain ngutang karena kita pertahankan perumbuhan ekonomi di level 5%, kalau tidak naikan defisit maka pertumbuhan ekonomi 5% tidak bisa diamankan," tutur Suahasil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Antam Sabtu 28 Maret 2026 Melonjak, Ini Daftar Gramasinya
- BI Prediksi Ekonomi DIY Triwulan I 2026 Melaju Berkat Efek Lebaran
- Perputaran Uang Lebaran di Jogja Diperkirakan Tembus Puluhan Triliun
- Harga Cabai Rawit Merah Melonjak, Ayam dan Beras Ikut Naik
- Isu Dirut Bulog Jadi Kabais TNI Ternyata Tidak Benar
- BEI Yogyakarta: IHSG Bergejolak, Investor Lokal Justru Bertambah
- Lonjakan Harga BBM Picu Gangguan Pasokan di SPBU Inggris
Advertisement
Advertisement








