Mendekati Masa Panen, Bulog Fokus Jual Stok Beras Lama

Mendekati Masa Panen, Bulog Fokus Jual Stok Beras LamaPetugas mengecek stok beras di kawasan pergudangan Bulog, Purwomartani, Kalasan, Jumat (21/12/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
10 Februari 2020 07:22 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebelum masa panen, Perum Bulog bakal fokus pada penyaluran dan penjualan stok beras yang saat ini dikelola perusahaan. Guna memaksimalkan penjualan, Bulog mengharapkan dukungan dari sejumlah kementerian demi memuluskan dibukanya kanal penyaluran. 

Dari 1,8 juta ton stok beras yang dikelola Bulog sampai awal Februari ini, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan 900.000 ton di antaranya merupakan beras eks-impor hasil pengadaan 2018 silam. Dia mengatakan beras ini berjenis pera dan sulit disalurkan lantaran hanya segelintir masyarakat yang memiliki preferensi beras jenis tersebut.

Bulog kala itu, kata Budi, mengimpor dengan mempertimbangkan kuota alih-alih kualitas. Dia pun melanjutkan beras yang tak kunjung disalurkan berpotensi menimbulkan persoalan lantaran Bulog harus menyerap pada musim panen.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penyaluran stok yang masih tersimpan, terutama untuk 900.000 ton beras berstatus cadangan beras pemerintah (CBP) sisa pengadaan luar negeri 2018 tersebut. "Kami akan melakukan sejumlah pengelolaan, biasanya akan kami campur dengan beras pulen. Atau kami akan distribusi ke daerah yang memang membutuhkan beras pera, contohnya Sumatra Barat," kata Tri kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Dia pun mengemukakan Bulog bakal menggandeng Kementerian Perdagangan untuk menyalurkan beras melalui kegiatan operasi pasar dalam rangka menjaga Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) yang berlangsung sepanjang tahun. Tri mengemukakan target penyaluran per harinya berjumlah 4.000 ton.

"Dari sini disepakati beras Bulog dapat dikirim antarpulau dan dilakukan proses mixing sesuai dengan preferensi konsumen. Kalau tidak demikian beras tidak akan tersalur," imbuhnya. 

Stok Lama

Ketika ditanyai mengenai soal kesiapan Bulog dalam membeli beras petani kala musim panen mendatang, Tri mengaku selalu siap. Kendati demikian, dia mengatakan untuk saat ini Bulog bakal memprioritaskan penyaluran beras stok lama yang berpotensi mengalami penurunan mutu.

"Intinya Bulog selalu siap menghadapi musim panen. Stok kami sekarang 1,8 juta ton, artinya kami harus memprioritaskan penyaluran dulu. Jika dengan stok saat ini dan kami harus membeli lagi dengan ruang yang terbatas, bagaimana?" kata dia.

Argumen Tri tak muncul tanpa musabab. Volume penyaluran beras Bulog dalam rangka kewajiban layanan publik (PSO) tercatat terus tergerus sejak pemerintah mengubah mekanisme bantuan sosial dari beras sejahtera (Rastra) ke bantuan pangan non tunai (BPNT). Hal ini setidaknya tercermin dari pendapatan Bulog pada segmen PSO yang turun dari Rp28,31 triliun pada 2016 menjadi Rp18,62 triliun pada 2018.

Berkaca pada kondisi ini, Tri mengemukakan bakal memaksimalkan penjualan melalui KSPH yang sampai 7 Februari 2020 telah tersalurkan sebanyak 179.684 ton. Pada 2019 lalu, penjualan melalui KSPH setidaknya berada di angka 589.885 ton, masih jauh dari target awal yang ditetapkan berjumlah 1,48 juta ton.

"Kami memaksimalkan penjualan ke KPSH. Kami juga menjual beras komersial dan juga BPNT. Kami sedang berkoordinasi dengan pihak terkait agar bisa berpartisipasi aktif dalam program BPNT. Harapan kami dari program tersebut dapat memprioritaskan beras dari kami," kata Tri.

Sumber : Bisnis Indonesia