BATIK ALLUSAN : Peduli dan Cinta Lingkungan

BATIK ALLUSAN : Peduli dan Cinta LingkunganOwner Batik Allussan Sri Lestari ketika ditemui di showroom Batik Allussan, Mlati, Sleman, beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah\\n\\n
22 Februari 2020 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sri Lestari menyukai batik sudah sejak lama dan kesukaan itu ia lebarkan dalam sebuah bisnis batik dengan brand Batik Allussan. Sebagai pengusaha batik, ia ingin menguatkan citra Batik Allussan sebagai rumah batik yang peduli dan cinta terhadap lingkungan.

Batik Allussan didirikan oleh Sri Lestari pada 1 Maret 2005. Namun, ia memiliki kecintaan terhadap warisan budaya ini sudah sejak lama. Filosofi yang dalam yang terkandung di dalam setiap motif batik itu juga yang membuat keinginannya melestarikan budaya semakin mantap.

Sebelum mendirikan usaha, ia bermula membuat batik untuk teman desainer. Rupanya, baju yang dia buat laris manis. Ia pun didorong untuk memproduksi batik dan menjualnya. Kemudian, ia melakukan berbagai persiapan untuk membuka sebuah usaha termasuk mengurus legalitas dan SNI.

"Kita membuat usaha juga harus memperhatikan legalitas karena itu penting. Pasar internasional juga akan lebih percaya kalau produk kita berizin sehingga untuk berjualan ke sana lebih mudah," kata dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di showroom Batik Allussan, Mlati, Sleman beberapa waktu lalu.

Begitu terjun ke dunia usaha, ia tak ingin setengah-setengah. Impian setiap pebisnis adalah agar usahanya kelak menjadi semakin besar. Ketika gerai semakin besar, ia mulai mem-branding dengan mencoba ikut lomba di Guizhou, Tiongkok.

"Kita harus mencintai dan melestarikan budaya sendiri. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi. Saat lomba di Tiongkok, saya menceritakan filosofi yang tertuang dalam sebuah batik, dalam setiap prosesnya," jelas dia.  

Peduli Lingkungan

Ia mengatakan Batik Allussan merupakan rumah batik yang peduli dan cinta lingkungan hidup. Kepedulian itu diwujudkan dalam bentuk motif batik seperti tumbuh-tumbuhan, bunga, dan hewan seperti kupu-kupu, gajah, belut, dan lainnya. "Batik Allussan peduli mengolah limbah batik agar tidak merusak lingkungan," ujar dia.

Limbah batik diolah menjadi sumber pemasukan lain misalnya mengolah lilin menjadi malam, limbah dari kayu bakar yang berupa arang menjadi media tanam tanaman terutama anggrek. "Limbah cairnya kamu gunakan untuk menyirami tanaman langka, tanaman obat, tanaman pangan," jelas dia.

Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan ia wujudkan dengan melibatkan warga sekitar. Ia berharap keberadaan Batik Allussan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Produk Batik Allussan sudah mulai diterima di luar negeri. Produknya sudah masuk ke Singapura, Brunei Darussalaam, Manila, Australia, Berlin, Belanda, Tiongkok, dan beberapa negara di Timur Tengah.

Ia juga selalu meneliti pasar sebelum membidik pasar tersebut. Agar produk yang dijual bisa diterima oleh pasar tersebut karena sesuai keinginan pasar. Selain itu, ia juga senantiasa memperhatikan kualitas produk dan selalu ditingkatkan. "Kita harus naik tingkat. Bisnis yang bagus itu enggak hanya materi semata. Prestasi dari produk yang dijual harus diperhatikan. Materi akan mengikuti," sebut dia.  

Selain itu, ia mengutamakan kepuasan pelanggan sehingga produknya tetap menjadi pilihan. Model pun selalu mengikuti perkembangan zaman. "Saya memiliki tiga desainer yaitu desainer baju, warna, dan motif batik. Untuk warna, selalu berubah terus jadi kita harus tahu tren saat ini dan akan datang," ungkap dia.

Selain itu Barik Allussan juga bersinergi dengan dunia pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi dengan menerima banyak kunjungan untuk bertukar ilmu. Batik Allussan juga dijadikan percontohan untuk pengusaha batik unggulan yang akan disalurkan ke Jepang melalui program Jetro oleh lembaga keuangan permodalan PNM.

Batik Allussan juga aktif berkarya dengan ikut serta dalam ajang fashion show misalnya dalam gelar fesyen di JEC, fashion show di Balai Kota Solo, dan ajang fashion show lainnya. Batik Allussan juga menjadi juara Sidhokaryo pada 2014 dari Disnakertrans DIY kategori peningkatan produktivitas perusahaan dan menjadi juara Paramakarya yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 2015. "Kami juga mendapatkan Golden Award tingkat dunia untuk kategori craft melawan 32 negara di Guizhou, Tiongkok pada 2013," jelas dia.

Batik Allussan memiliki factory dan showroom di Sumberadi, Mlati, Sleman. Batik Allussan juga memiliki gerai di beberapa hotel dan mal seperti Hotel Melia Purosani Yogyakarta, Hotel Grand Inna, Hotel Santika Slipi, Jogja City Mall, Hotel Cavinton, Hotel Grand Artos Magelang, dan Sleman City Hall.