Restrukturisasi Meningkat, Bank Tingkatkan Alat Likuid

Restrukturisasi Meningkat, Bank Tingkatkan Alat LikuidIlustrasi pengunjung melintas didepan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
13 April 2020 08:07 WIB M. Richard Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pelaku industri perbankan tengah meningkatkan alat likuid guna menghadapi peningkatan restrukturisasi yang diperkirakan masih akan tinggi pada semester pertama tahun ini. 

Direktur Finance, Planning, & Treasury Bank BTN Nixon L. P. Napitupulu mengatakan permohonan restrukturisasi tahun ini berpotensi cukup dalam dan berpotensi membuat likuiditas mengetat. Pasalnya, cicilan yang menurun atau bahkan tertunda membuat arus kas masuk melambat.

"Untuk menjaga likuiditas, kami meningkatkan alat tunai berupa kas, surat berharga negara, dan sertifikat Bank Indonesia sampai Rp20 triliun, itu naik 30 persen dari posisi alat tunai normal kami," katanya dalam Live Streaming BTN, Sabtu (12/4).

Nixon menyebutkan restrukturisasi pada kuartal kedua tahun ini meningkat cukup pesat menjadi 17.000 debitur dengan nilai Rp2,7 triliun. Padahal pada, akhir kuartal I/2020, jumlah debitur tersebut hanya 3.000 debitur.

Dengan kondisi belum menunjukkan perkembangan positif saat ini, perseroan bahkan mempersiapkan diri untuk merestrukturisasi hingga lebih dari 40.000 debitur tahun ini. "Tentunya proses restrukturisasi akan kami lakukan dengan ketat agar tidak menimbulkan moral hazard, tetapi restrukturisasi ini menunjukkan semakin kecilnya arus kas masuk kami. Di sisi yang lain, kami terus membayar bunga simpanan," katanya.

Meski demikian, Nixon menyebutkan perseroan belum mengkhawatirkan adanya bank run yang membuat likuiditas semakin ketat. Selain karena masyarakat masih cukup bijak dalam menanggapi berbagai sentimen negatif, perkembangan teknologi perbankan saat ini memungkinkan nasabah penyimpan menggunakan uangnya tanpa menarik tunai. "Namun, untuk menjaga kepercayaan tersebut, jumlah kas di setiap kantor cabang kami tingkatkan," imbuhnya.

Dalam kesempatan terpisah, PT Bank Pan Indonesia Tbk juga menyatakan akan menggunakan strategi yang serupa, untuk menghadapi potensi restrukturisasi yang semakin tinggi. "Iya tentunya semua hal kami persiapkan, termasuk penjagaan likuiditas," kata Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo tanpa menyebutkan besaran peningkatannya.

Laporan 2019 emiten berkode PNBN ini mencatat liquidity coverage ratio (LCR) berada pada 140,17% naik dari 2018 yang 123,43%. Herwidayatmo menjelaskan perseroan lebih fokus pada sosialisasi kepada debitur UMKM yang porsinya cukup besar, yakni 22,7%. Perseroan berharap restrukturisasi hanya digunakan oleh debitur yang benar-benar terpengaruh arus kasnya.

 

Cukup Baik

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan perseroan memiliki level likuiditas yang sudah baik dan belum membutuhkan tambahan. "Liqudity to funding ratio kami saja masih di posisi 78 persen. Kondisi saat ini belum berpengaruh banyak terhadap likuiditas kami," tuturnya.

Di samping itu, dia menyebutkan debitur BCA masih memiliki arus kas yang cukup baik untuk beberapa bulan ke depan. Selain itu, dia berpendapat debitur perseroan juga memiliki itikad yang cukup baik sehingga tidak terlalu memiliki tendensi moral hazard yang dapat membahayakan bisnis bank.

Pengamat menilai peningkatan restrukturisasi tahun ini perlu didukung dengan penguatan likuditas baik dari strategi internal bank, maupun kebijakan relaksasi likuditas dari fiskal maupun moneter.

Analis Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Dendy Indramawan mengatakan potensi restrukturisasi sudah terbilang cukup besar jika hanya dilihat dari kredit usaha mikro kecil menengah yang mencakup hampir 20% dari total kredit Rp5.500 triliun. "Dari perhitungan kami, dari total sekitar Rp1.000 triliun ada penundaan arus kas cicilan kredit sekitar Rp100 triliun. Nilai tersebut cukup besar dan perlu menjadi perhatian," katanya, Minggu (12/4).

Dia menjelaskan bank khususnya bank besar saat ini sudah cukup proaktif dalam meningkatkan alat likuidnya untuk mengantisipasi pelemahan arus kas masuk yang cukup tinggi tersebut. Namun, antisipasi tersebut hanya mampu menyerap potensi pengetatan likuiditas di level rendah dan sedang. Jika terjadi pengetatan yang lebih tinggi, maka bank perlu mendapat dukungan dari fiskal ataupun moneter.

"Yang paling bisa dijaga adalah likuditas bank BUMN. Dengan begitu transasksi pasar uang atu bank bisa tetap berjalan dan membantu bank kecil yang kemapuan perolehan likuiditasnya terbatas," imbuhnya. 

Sumber : Bisnis Indonesia