Yah … Okupansi Hotel di Jogja Hanya 0%-5%

Yah … Okupansi Hotel di Jogja Hanya 0%-5%Ilustrasi hotel - JIBI
21 April 2020 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah & Pandu Gumilar Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Okupansi hotel semakin hari semakin merosot. Pandemi Covid-19 pun diharapkan segera berlalu kan bisnis perhotelan bisa pulih.

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DIY Herriyadi Baiin mengatakan kondisi bisnis perhotelan semakin memburuk. Ia menjelaskan okupansi saat ini hanya sekitar 0%-5%.

Ia berharap pandemi ini segera musnah dan bisnis perhotelan bisa segera bangkit. Peran pemerintah pun diharapkan maksimal dalam membantu di masa pemulihan. "Untuk recovery, anggaran-anggaran pemerintah difokuskan pada sektor pariwisata baik anggaran Pemda maupun Pusat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan di hotel dan agresif mempromosikan ke luar negeri," kata dia, Senin (20/4).

Untuk saat ini ia berharap adanya peran pemerintah membantu para tenaga kerja perhotelan yang terdampak Covid-19.Ia mengakui sudah mendapatkan informasi mengenai pendaftaran kartu prakerja.

Ia mengungkapkan pendaftaran secara kolektif sudah dilakukan melalui, IHGMA, PHRI, Disnaker dan sekarang permintaan pendaftaran secara daring oleh masing-masing tenaga kerja. Ia menilai permintaan data membuat orang bingung karena banyak instansi dan assosiasi yang meminta data dengan tujuannya sama.

"Data yang diminta secara kolektif riskan juga karena data lengkap yang di minta bisa berbahaya dimanfaatkan orang yang tidak baik untuk melakukan penipuan. Kalau data online oleh masing-masing pekerja dengan link resmi dari pemerintah lebih aman," kata dia.

Ia mengatanan pendaftaran kolektif yang terlacak sebanyak 37 orang. Ia mengakui kesulitan melacak pendaftaran karena masing-masing pekerja mendaftar secara online.  

Tutup Sementara

Direktur Pemasaran Eastparc Hotel Wahyudi Eko Sutoro mengatakan sudah sejak akhir Maret perseroan tidak beroperasi. “Sejak 29 Maret sampai dengan 20 Mei, EAST tidak menerima tamu sesuai dengan imbauan pemerintah,” katanya saat dihubungi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Presiden Direktur Eastparc Hotel Khalid Bin Omar menambahkan dalam kurun waktu itu perseroan tidak membukukan pendapatan. Namun, dia menegaskan kas perseroan dalam kondisi sehat dan baik. Keputusan penghentian sementara diambil untuk efisiensi biaya operasional dan mengurangi penyebaran Covid-19.

Tahun ini, sebelum pandemi, EAST memproyeksikan pendapatan meningkat sebesar 15,11% secara tahunan. Rata-rata tingkat okupansi juga ditargetkan naik menjadi 80% sampai 87%.

Sebagai informasi, Eastparc Hotel mencatatkan laba bersih sebesar Rp9,46 miliar pada 2019 naik 302% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp2,46 miliar. Dengan begitu, laba per saham yang dapat didistribusikan menjadi Rp2,39 dari posisi Rp0,59.

Kenaikan laba bersih, ditopang oleh peningkatan pendapatan sebesar 18,55% year on year (yoy). Pada 2019, emiten berkode saham EAST itu mencetak Rp64,08 miliar sedangkan tahun sebelumnya Rp54,05 miliar.

Selain itu, beban usaha EAST juga menurun 7,28% ke posisi Rp25,47 miliar dari posisi Rp27,47 miliar. Emiten yang tercatat pada Juli tahun lalu itu juga mendapatkan tambahan pendapatan bunga sebesar Rp1,24 miliar.  

Pada tahun sebelumnya pos itu hanya menyumbang Rp29,39 juta. Hal itu mendorong laba sebelum pajak menjadi Rp12,25 miliar atau naik 464% yoy. Selain itu, total aset EAST tercatat sebesar Rp306,78 miliar. Jumlah aset lancar mencapai Rp49,62 miliar dengan aset tidak lancar Rp257,16 miliar.

Di sisi lain, total kewajiban EAST mencapai Rp53,21 miliar dengan utang jangka pendek sebesar Rp31,17 miliar. Perseroan memiliki utang jangka panjang sebesar Rp22,03 miliar. Total kewajiban 2019 naik 21,06 persen dari posisi Rp43,95 miliar.

EAST tercatat menggelontorkan belanja modal sebesar Rp66,34 miliar naik 123,14 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp29,73 miliar.

Sumber : Bisnis Indonesia