APLIKASI TITIPKU : Antarkan Pasar Tradisional Go Digital

APLIKASI TITIPKU : Antarkan Pasar Tradisional Go DigitalCo-Founder dan CEO Titipku, Henri Suhardja./ Ist. - Titipku
25 April 2020 11:22 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dunia dalam genggaman. Begitu kira-kira mimpi yang ingin direngkuh Co-Founder dan CEO Titipku, Henri Suhardja dan Co-Founder Titipku, Ong Tek Tjan untuk mengantarkan UMKM dan pedagang pasar tradisional agar dikenal dan berdaya. Bagaimana awal perusahaan yang berdiri di bawah bendera PT Terang Bagi Bangsa ini dilahirkan?

Kepada Harian Jogja, Henri mengatakan Titipku tak hanya dibidani seorang diri. Bersama partnernya, Ong Tek Tjan yang sudah 26 tahun bekerja di perbankan, perusahaan ini dilahirkan pada 2017. Kala itu, Ong bercita-cita membantu UMKM yang konvensional untuk memasarkan produk secara online. Apalagi  selama ini mereka yang berjualan sebagai pedagang kaki lima, menggunakan gerobak atau pedagang kecil lainnya kesulitan go digital.

Kendati memiliki visi mulia, bukan berarti usaha ini mulus sejak dilahirkan. Harga ponsel pintar yang terjangkau juga tak menjadi jaminan setiap orang memiliki gadget tersebut. Jika ada yang punya, belum tentu smartphone tersebut dapat dimanfaatkan maksimal.

Dengan kata lain, para pelaku usaha ini membutuhkan pendamping untuk mengoptimalkan agar teknologi tersebut tak hanya menjadi alat komunikasi tetapi juga dapat mendongkrak kesejahteraan. “Namun kami tidak mungkin datang ke Pasar Beringharjo setiap hari, mengunjungi pedagang satu per satu atau membuatkan email untuk mereka satu-satu supaya bisa dipromosikan di sosial media,” ujarnya, Kamis (23/4)

Dari pemikiran ini, Titipku berusaha menggandeng generasi muda. Selain lebih familier dengan teknologi, mereka dianggap lebih fleksibel untuk belajar dan lebih paham kondisi di lapangan. Bahkan dengan hanya menjadi reviewer, para anak muda ini juga akan mendapat penghasilan tambahan. “Caranya mudah, tinggal unduh aplikasi Titipku. Datang ke UMKM atau pedagang yang ingin di-review. Masukkan data-data UMKM untuk dipromosikan di Titipku.  Mereka ini kami sebut sebagai penjelajah. Lalu ada pembeli atau nitiper  adalah mereka membeli dan membayar melalui aplikasi Titipku. Terakhir, ada jatiper atau kurir yang membeli barang di UMKM dan mengirimkan ke pembeli,” jelasnya.

Perusahaan dagang elektronik (dagang-el) serupa diakuinya sudah cukup banyak. Namun, sisi pembeda Titipku dengan  e-commerce lain adalah pemberian ruang yang luas untuk pengguna aplikasi mendapatkan penghasilan, baik penjelajah maupun jatiper. Khusus penjejalah, jika mereka mengunggah  review, akan mendapatkan imbal jasa sebesar Rp10.000 dan mendapat pasif income Rp1.000 untuk setiap transaksi dari jelajah yang dibuat. Semakin banyak data UMKM atau pedagang kecil yang diunggah, kian bertumpuk pula penghasilan yang mereka punya. Untuk kurir atau jatiper, mereka akan mendapat pendapatan dari ongkos kirim dan jasa titip untuk setiap transaksi yang tuntas.

Suatu saat, kata dia, Titipku akan melantai di pasar modal. Kala kesempatan itu tiba, Titipku juga berusaha menggandeng para mitra, baik penjelajah, jatiper atau nitiper. “Setiap transaksi yang sudah dituntaskan, masing-masing akan mendapat voucer saham Rp250. Nominalnya memang kecil, tetapi jika terus ditambah, saat kami initial public offering (IPO) jumlahnya akan menjadi banyak dan mitra kami ini juga berkesempatan menjadi salah satu pemilik Titipku,” kata pria yang pernah dianugerahi penghargaan Australia Awards in Indonesia Short Term Startup Ecosystem 2019 ini.

Titipku, kata dia, merupakan perusahaan sosial yang secara penuh mendukung para UMKM maupun mitra. Startup ini juga tidak meminta komisi atau menaikkan harga dari pedagang di aplikasi. Biaya yang dipatok sebatas pada ongkos kirim (ongkir) barang. Itupun, kata dia, nominalnya kecil.

“Dari mana kami mendapat omzet. Misal UMKM butuh packing.Titipku membantu desain gratis untuk kemasan hingga logo. Di sini kami bermitra dengan produsen kemasan. Namun kami tetap berusaha meringankan kami. Meski memesan lewat partner, UMKM bisa beli dalam jumlah sedikit,” kata pria lulusan UGM ini.

Selanjutnya, lewat data-data yang telah diunggah penjelajah, Titipku akan memeriksa ulang untuk memastikan data sesuai kondisi di lapangan. Melalui data ini, Titipku dapat membantu UMKM mendapatkan kredit modal. “Jadi kami bekerja sama dengan bank, koperasi atau lembaga pembiayaan. UMKM akan mendapat modal dari mitra kami. Kami mendapat komisi dari mitra, bukan UMKM karena kami benar-benar ingin mendukung UMKM,” paparnya.

 

Virus Corona

Henri juga menegaskan setiap produk yang ada di Titipku 100% produk UMKM lokal. Sama sekali tidak ada produk impor karena perusahaan ini juga 100% berdiri untuk Indonesia sehingga ingin mendukung produk asli Tanah Air. “Karena itu, visi kami adalah Menjadi Pilar Kemajuan UMKM di Indonesia,” ujar pria berusia 26 tahun ini.

Guna mendukung kapasitas UMKM lokal, secara berkelanjutan Titipku menggelar pelatihan bekerja sama dengan kementerian, pemda maupun dinas, instansi terkait maupun lembaga pendidikan. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu UMKM membaca tren maupun peluang terkini sehingga keuntungan pun didapatkan secara maksimal. 

Saat pandemi virus Corona ini, Henri mengaku jumlah transaksi Titipku melonjak. Anjuran pemerintah untuk menjaga jarak membuat masyarakat umum mengurangi bepergian termasuk belanja dan membeli produk secara daring. “Selama Corona, kami fokus membantu kebutuhan pokok masyarakat karena ini yang kita butuhkan. Jadi jika awal Maret, pasar sepi dan omzet turun, kini situasi sudah lebih baik. Kebutuhan masyarakat pun tercukupi,” paparnya.

Titipku pun secara resmi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja untuk mengangkat pasar tradisional di Kota Berhati Nyaman ini.  Kendati demikian, di kota besar lain, pihaknya juga sudah menggandeng dinas terkait. Bahkan, Titipku juga secara resmi bermitra dengan Telkom, Kementerian Komunikasi dan Informatika hingga Kementerian Koperasi dan UMKM. Jejaring ini terus diperluas agar UMKM di seluruh Indonesia dapat merasakan manfaat teknologi untuk meningkatkan pendapatan.

“Titipku karena dilahirkan di Jogja, semula pengguna terbanyak ada di DIYa. Namun sekerang bergeser. Penjejalah teraktif justru di Jawa Timur, diikuti Jawa Tengah, baru DIY, selanjutnya Jawa Barat, Jakarta dan Bali. Ditanya mengenai harapannya, Henri menuturkan akan terus membuka kesempatan kerja sama dengan berbagai pihak untuk menggaungkan semangat kemandirian ini. Dengan harapan semakin banyak jejaring, UMKM pun seutuhnya dapat menjadi tuan di negeri sendiri.