Jor-joran Promo Harga Hotel Belum Mampu Tarik Minat Wisatawan

Jor-joran Promo Harga Hotel Belum Mampu Tarik Minat WisatawanWarga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan tetap mencari rumput di area Objek Wisata Bukit Klangon pasca erupsi Gunung Merapi yang ketiga kali, Sabtu (28/3/2020) pagi. - Ist
26 Juni 2020 14:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menilai selama objek wisata belum dibuka, kebijakan promo harga hotel dinilai tidak bisa mendongkrak kunjungan tamu.

Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan saat ini kunjungan tamu masih sedikit, kendati strategi paket promo dan promo weekend sudah dilakukan. “Tingkat hunian juga belum beranjak di angka 20 persen, masih naik turun, dan pasarnya masih DIY dan sekitarnya. Selama objek wisata di DIY belum ada yang buka dan transportasi masih terbatas, masih sulit,” kata Deddy, Kamis (25/6/2020).

Menurut Deddy, hal itu jadi kendala terbesar yang dihadapi pelaku hotel. Hingga saat ini baru 60-an hotel yang beroperasi kembali, dari total sekitar 400-an hotel di DIY.

Sementara soal perpanjangan masa tanggap darurat di DIY, Deddy hanya mencoba berpikir positif. “Kami berpikir positif saja, tanggap darurat itu politis, tetapi kalau pembukaan objek wisata dan transportasi dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat disiplin, itu wujud intervensi pemerintah untuk kita dalam pergerakan ekonomi yang saat ini dalam keadaan sekarat. Intinya kesehatan dan ekonomi berjalan seiring sejalan,” katanya.

Deddy mengungkapkan saat ini kerugian dampak Covid-19 sudah tidak bisa dihitung. Belum lagi, pengelola hotel masih diberatkan dengan biaya PLN yang tinggi. “Berat banget, argo berjalan untuk operasional, tapi tidak sebanding dengan pemasukan. Selain mikir property, kami juga mikir karyawan. Kami berusaha menghindari PHK, tapi kami belum tahu sudah ada yang PHK atau belum,” ucapnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi mengatakan promosi harga atau diskon merupakan strategi pamungkas untuk bisa membangkitkan permintaan. “Dalam kondisi sekarang, diskon masih efektif, tetapi dampaknya tidak akan sebesar dalam masa-masa normal. Masyarakat umum pasti akan mengalokasikan dana untuk kebutuhan primer terlebih dahulu,” kata Ike.

Ike mengatakan saat masa pandemi sebenarnya masih ada segmen masyarakat yang masih memiliki dana dan bisa mengalokasikannya untuk hiburan dengan menginap atau makan di hotel, menyelenggarakan acara, dan lain sebagainya.

Hotel harus siap mengakomodasi kebutuhan segmen-segmen ini dan merancang ulang penawaran-penawarannya. Contohnya, hotel menawarkan paket wedding skala kecil, paket ulang tahun keluarga. “Pemerintah bisa membantu untuk memberikan keyakinan masyarakat bahwa hotel sudah melaksanakan protokol kesehatan dan berarti aman untuk ditinggali atau dikunjungi. Pemerintah juga bisa mengadakan kampanye publik untuk membangkitkan permintaan,” ucapnya.