Kinerja Bank Jateng Tetap Terjaga Baik di Tengah Pandemi Corona

Kinerja Bank Jateng Tetap Terjaga Baik di Tengah Pandemi CoronaDirektur Bisnis Korporasi dan Komersial Bank Jateng Pujiono (kiri) dan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Bank Jateng Ony Suharsono (kanan). - Ist/dok
03 Oktober 2020 06:57 WIB Media Digital Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Bank Jateng pada tahun ini dikategorikan oleh regulator dengan Tingkat Kesehatan Bank (TBK) pada komposisit 2 (sehat). Hal tersebut sejalan dengan kondisi di tahun-tahun sebelumnya yang berada pada kondisi sehat, sehingga Banknya Orang Jawa Tengah ini hari demi hari mengalami pertumbuhan yang stabil bahkan cenderung berkembang.

Bank Jateng memiliki peran besar dalam membangun dan mengangkat perekonomian di Jawa Tengah. Tercatat per September 2020 lebih dari Rp50,482 triliun kredit yang telah disalurkan, sehingga kami optimis bisa berkontribusi mendukung roda perekonomian Jawa Tengah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Jateng telah melakukan sinergi berbagai kerja sama antara lain digitalisasi pengelolaan keuangan daerah. Dari sisi penerimaan, Bank Jateng mengimplementasikan layanan Cash Management System(CMS) di 36 pemerintah daerah terdiri di 1 provisnsi dan 35 kabupaten/kota, host to host PBB di 14 kabupaten/kota, e-retribusi di 23 kabupaten/kota dan layanan transaksi perbankan kian tak terbatas.

Bank Jateng yang berkedudukan di Jawa tengah busa melayani transaksi nasabah di hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan dalam waktu dekat akan merambah hingga ke mancanegara.

Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengatakan bahwa optimalisasi digitalisasi pengelolaan keuangan merupakan langkah nyata mendorong penerimaan pajak daerah yang lebih efektif, efisien, akuntabel, dan transparan. Dari implementasi yang saat ini sudah dilakukan oleh beberapa bank mampu menaikkan pendapatan daerah hingga 200% dibandingkan dengan cara manual.

Kinerja sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu jika dilihat dari sisi laba. Sampai dengan September 2020 perolehan laba Bank Jateng (unaudited) sudah mencapai sekitar Rp1,4 triliun atau mendekati capaian pada periode 2019 full year.

Padahal masih ada empat bulan lagi, artinya masih ada peluang untuk tumbuh, selain itu Bank Jateng mengukir prestasi yang menggembirakan setelah menyabet penghargaan Diamond Trophy Award dalam acara 25th infobank Award 2020. Artinya, Bank Jateng selalu selalu mendapatkan rating dengan predikat "sangat bagus" selama 20 tahun berturut-turut.

Dalam kondisi pandemi, kredit Bank Jateng sampai dengan September masih tumbuh 3,89% secara year on year. Itu menunjukkan bahwa sistem dan mesin produksi sudah mapan. Efisien biaya operasional juga menyambung perolehan laba. Selama periode new normal ini, banyak anggaran yang bisa dihemat karena proses bisnis du shifting dengan memanfaatkan teknologi.

Biaya perjalanan dinas, biaya rapat yang biasanya diselenggarakan secara offline berkurang jauh karena hampir semua koordinasi bisa dilakukan melalui rapat online.

Kinerja Bank Jateng

Di tengah pandemi covid-19 Bank Jateng mampu mencatatkan capaian kinerja yang baik, hal tersebut terlihat perbandingan pada tahun 2017 Aset Bank Jateng sebesar Rp 61,466 Triliun dalam kurun waktu 4 tahun di September 2020 telah mencapai Rp 86,297 Triliun.

Adapun Dana Pihak ketiga per September 2020 sebesar Rp 70,148 Triliun tumbuh 12,3 persen dibanding tahun 2019 pada periode yabg sama sebesar 3,78 persen dengan ekuivalen sebesar Rp1,809 triliun masih dalam kategori sehat dan berada di bawah ketentuan regulator yang setinggi tingginya adalah 5 persen.

Dengan adanya wabah Covid-19, Supriyatno mengatakan bahwa Bank Jateng juga telah melakukan restrukturisasi kredit bagi debitur yang terkena dampak pandemi tersebut. Data per September 2020 menunjukkan bahwa terdapat 16,048 nasabah yang dilakukan restrukturisasi senilai Rp5 triliun. Bank Jateng melaksabakan restrukturisasi kredit nasabahnya sesuai ketentuan yang diatur oleh OJK.

Selain itu, perkembangan teknologi digital perbankan menjadi tantangan baru. Bank perlu terus meningkatkan pelayanan nasabah melalui transformasi digital, karakter masyarakat, khususnya masyarakat milenial saat ini cenderung lebih memilih layanan perbankan yang memberikan kemudahan dan kecepatan bertransaksi setiap saat dan dimana saja untuk pengembangan teknologi informasi.

"Antara lain melalui Enhancement Core banking, Middleware dan Aplikasi Webbranch gyna mendukung kegiatan bisnis dan rencana bisnis Bank Jateng, " kata Supriyanto, dalam rilisnya, Jumat (2/10/2020).

Agar bisa menjangkau nasabah lebih luas, Bank Jateng bekerja sama dengan banyak mitra. Di channel mesin ATM, Bank Jateng bermitra dengan jarian ATM Prima, ATM Bersama dan ALTO , sehingga memungkinkan kartu BPD card milik nasabah bisa ditransaksikan di jaringan bank yang tergabung dalam ketiga jaringan tersebut.

Bank Jateng juga menggandeng marketplace dan penyedia layanan dompet elektronik atau e-wallet untuk memfasilitasi sejumlah transaksi, termasuk pembayaran berbagai tagihan. Kanal ini terutama ditujukan untuk menggaet nasabah muda yang sudah sangat akrab dengan pembayaran nontunai. Transaksi pembayaran cukup dilakukan dengan memindai kode QR melalui ponsel yang telah terhubung dengan internet banking.

Saat ini, Bank Jateng juga menjajaki kerja sama dengan Union pay dan AlRajhi Bank terkait perluasan kanal pembayaran di luar negeri. Jika kerja sama tersebut terwujud, maka nasabah Bank Jateng dapat bertransaksi di luar negeri menggunakan jaringan yang dimiliki oleh mitra, oleh karena itu kami membuka kerjasama dengan banyak sekali pihak untuk perluasan jangkauab melalui teknologi virtual account.

Supriyatno menambahkan bahwa menjamurnya fintech di masyarakat setidaknya menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Bank Jateng untuk menciptakan produk yang inovatif. Dengan demikian, kehadiran fintech bukan berarti akab mematikan industri perbankan yang sudah berjalan selama ini, melainkan bisa diajak berkolaborasi untuk tumbuh bersama mencapai tujuan yang ingin dicapai.

"Meski tidak mudah, saya meyakini bahkan berarti hal ini tidak mungkin, karena Bank Jateng mendapat kepercayaan menjadi bank penyalur KUR sehingga berpeluang menjemput bola dengan gerai sampai ke pelosok desa dan di era digitalisasi sekarang ini, inovasi merupakan kunci," tambahnya.

Bank Jateng juga dipercaya mengelola uang negara Rp2 triliun untuk pemulihan ekonomi. Bank Jateng wajib meneruskan dana tersebut dalam bentuk penyaluran kredit kepada masyarakat, penggunaan sebagai konsumtif, modal kerja dan investasi dan suku bunga kredit normal.

Penempatan uang negara Rp2 triliun yakni penyaluran kredit setelah mencapai minimal dua kali lebih sebesar Rp5,088 triliun, sedangkan kinerja pemulihan ekonomi nasional sampai dengan 26 September 2020 yakni Rp2,6 triliun. Dan untuk modal kerja maksimal tiga tahun, kemudian Iuran Jasa Penjaminan ditanggung Pemerintah saat ini bank telah menyalurkan Rp57 miliar kepada 229 debitur.