Industri Tekstil DIY Belum Ada yang Gulung Tikar Meski Rantai Bisnis Kacau

Industri Tekstil DIY Belum Ada yang Gulung Tikar Meski Rantai Bisnis KacauHiruk pikuk pengunjung di Pasar Beringharjo pada Jumat (30/10/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
23 Juni 2021 03:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Industri tekstil di DIY masih mengandalkan pasar ekspor, di tengah terpuruknya pasar dalam negeri karena pandemi Covid-19.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY, Iwan Susanto mengatakan dengan kebijakan lockdown sejumlah negara seperti Vietnam dan Myanmar membuat peluang pasar baru bagi Indonesia. Untuk pasar ekspor, industri tekstil dari DIY banyak yang menggarap merk-merk terkenal di luar negeri.

“Ekspor pun sebagian besar ke Amerika, Eropa. Terutama untuk underwear dalam kondisi sekarang bertumbuh, mereka menambah karyawan dan marketnya ke seluruh dunia,” ucap Iwan, Selasa (22/6/2021).

Baca juga: Rocky 1.2L, Mobil Baru Daihatsu Khusus Pasar Otomotif Tanah Air

Lain halnya dengan kondisi pasar ekspor, industri yang hanya bisa menjangkau pasar dalam negeri di tengah pandemi saat ini terpuruk. Terlebih persaingan dengan produk impor, membuat industri tekstil dalam negeri semakin berat. Dia berharap adanya keberpihakan pemerintah pada produk dalam negeri, sehingga tidak kalah bersaing dengan produk dari luar negeri.

Tantangan lain yang dihadapi industri tekstil di DIY saat pandemi Covid-19 ini, rantai pasokan yang kacau. Mahalnya harga sewa kontainer dan melonjaknya bahan baku material membuat industri semakin berat. Meski untuk anggota API DIY saat ini belum ada yang gulung tikar, namun kondisi saat ini menurut Iwan terlampau berat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Sugeng Arianto mengatakan tiga besar komoditas utama ekspor dari DIY April 2021 adalah Pakaian Jadi Bukan Rajutan mencapai US$14,1 Juta, disusul Perabot, Penerangan Rumah US$7,3 juta dan Barang-barang Rajutan US$4,4 juta.

Baca juga: DIY Siapkan Aturan, Hajatan dan Wisata di Zona Merah Dilarang

“Nilai ekspor selama April 2021 dibanding Maret 2021 menunjukkan penurunan sebesar US$3,1 juta atau 6,57%. Komoditas dengan penurunan nilai ekspor terbesar adalah Minyak Atsiri, Kosmetik Wangi-wangian sebesar US$0,9 juta atau setara 60,00%. Sementara komoditas Plastik dan Barang dari Plastik mengalami kenaikan terbesar yaitu US$0,8 juta atau 100%,” ucapnya.

Selama Januari-April 2021, ekspor dari 10 golongan barang HS 2 digit di atas memberikan kontribusi 86,29% terhadap total ekspor DIY. Tiga komoditas dengan kontribusi terbesar adalah Pakaian Jadi Bukan Rajutan sebesar 31,61%. Perabot, Penerangan Rumah sebesar 15,69%. Barang-barang Rajutan sebesar 9,18%. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang HS 2 digit tersebut meningkat 37,83% terhadap periode yang sama 2020.