Advertisement

2022, Indonesia Diramal Banjir IPO Startup Non-Unicorn

Akbar Evandio
Selasa, 31 Agustus 2021 - 06:37 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
2022, Indonesia Diramal Banjir IPO Startup Non-Unicorn Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bukalapak Bambang P.S. Brodjonegoro menunjukkan sertifikat pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat (6/8/2021). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Sejumlah perusahaan rintisan atau startup non-unicorn yang berencana melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) diprediksi membanjiri Indonesia pada 2022.

Menurut pantauan Bisnis-jaringan Harianjogja.com, sejauh ini sejumlah perusahaan rintisan yang mengungkapkan rencana mereka untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) adalah RUN System, Blibli, Tiketcom, Dekoruma, Tani Hub, dan GoTo.

Sekadar informasi, lima dari enam perusahaan yang berencana melakukan IPO tersebut masih belum berstatus unicorn atau masih memiliki valuasi kurang dari US$1 miliar, atau masih berstatus centaur. 

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Centaur atau calon unicorn adalah kategori startup dengan valuasi US$100 juta—US$999 juta. Dalam laporan DSInnovate Startup Report pada 2019, tercatat ada 27 centaur dari perusahaan rintisan yang berbasis di Indonesia. Adapun, pada 2020 meningkat menjadi 43 startup.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan menilai aksi IPO dari perusahaan rintisan non-unicorn merupakan langkah wajar. Bahkan, wajib untuk dilakukan.

“Seharusnya memang harus melihat skema IPO, karena startup yang belum unicorn, memiliki lebih sedikit investor yang mengakibatkan kepentingan investor lebih sedikit,” ujarnya, Senin (30/8/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan lantaran investor yang masih sedikit dalam menyuntikan dana membuat perusahaan bisa lebih leluasa dan berani go public dan menjadi upaya untuk meningkatkan citra perusahaan.

Dianta pun meyakini, aksi IPO dari non-unicorn akan lebih aman, lantaran pemain sudah melihat Bukalapak sebagai contoh perusahaan sehingga mereka akan lebih mempersiapkan narasi yang tepat untuk disampaikan kepada masyarakat.

Selain itu, dia menilai pemain akan mulai berfokus untuk menata dan memperbaiki laporan keuangan perusahaan agar makin baik ke depannya.

Advertisement

“Untuk mempersiapkan itu semua butuh waktu, jadi mungkin [IPO non-unicorn] akan lebih booming tahun depan. Karena semua startup lagi mempelajari apa yang terjadi dengan Bukalapak,” katanya.

Selain itu, dari sisi nilai pun langkah IPO turut meningkat hingga 215 persen secara tahunan (yoy) atau US$222 miliar. Adapun, sebanyak 27 persen di antaranya atau 284 perusahan yang melakukan IPO merupakan perusahaan teknologi.

Selain IPO, Ernst & Young (EY) memperkirakan bahwa perusahaan rintisan Indonesia akan turut memilih skema merger dan akuisisi hingga akhir 2021 dengan bertujuan agar mendapatkan untung pada 2022, yaitu sebanyak 37 persen perusahaan berencana melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi secara aktif selama pandemi Covid-19.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Tol Jogja YIA Lewati Dua Desa di Bantul, Akan Melintasi Perkampungan

Bantul
| Jum'at, 30 September 2022, 19:17 WIB

Advertisement

alt

Hadir Tempat Glamping Baru di Jogja, Arkamaya Sembung Namanya

Wisata
| Jum'at, 30 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement