Kabar Buruk! Minyak Goreng Bakal Makin Mahal hingga 2022

Kabar Buruk! Minyak Goreng Bakal Makin Mahal hingga 2022Ilustrasi minyak goreng curah
24 November 2021 17:27 WIB Nyoman Ary Wahyudi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan mengatakan tren kenaikan harga minyak goreng bakal berlanjut seiring momentum siklus komoditas hingga tahun depan.

Gejolak harga komoditas strategis itu juga dipicu oleh turunnya produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di sejumlah negara pemasok pada akhir tahun ini.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan harga minyak goreng curah dan kemasan sederhana di tengah masyarakat sudah berada di atas Rp17.500 hingga pekan ini. 

BACA JUGA: Jengkel APBD Rp226 Triliun Ngendon di Bank, Jokowi: Logikanya Nggak Kena!

“Kenaikan harga ini berpotensi terus bergerak bahkan kita sudah prediksi hingga kuartal pertama 2022 pun masih terus meningkat karena termasuk komoditas yang supercycle,” kata Oke dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2022 yang digelar Indef, Rabu (24/11/2021). 

Oke menerangkan potensi kenaikan harga minyak goreng dalam negeri itu juga disebabkan karena sebagian besar industri hilir CPO masih belum terintegrasi dengan kebun sawit. Hal itu mengakibatkan produsen minyak goreng membeli CPO yang sudah mengalami kenaikan harga di pasar dunia. 

“Kalau kita bicara HET memang sebesar Rp11.000 saat penyusunan HET itu harga CPO ada di kisaran US$500 hingga US$600 per metrik ton, saat ini harga CPO mencapai US$1.365 per ton itu langsung berpengaruh pada entitas produsen minyak goreng di kita,” tuturnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, produsen minyak goreng dalam negeri bekerja sama dengan pelaku usaha ritel modern mengalokasikan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga Rp14.000 menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

Adapun volume alokasi minyak goreng murah itu mencapai 11 juta liter yang didistribusikan ke setiap gerai ritel modern secara nasional. 

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan langkah itu diambil untuk menekan harga minyak goreng yang ikut terkerek akibat siklus komoditas minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia. 

“Melihat kenaikan harga yang demikian tinggi maka diusahakan jangan sampai Rp20.000 per liter, sebagai referensi dipakailah minyak goreng kemasan sederhana itu,” kata Sahat melalui sambungan telepon, Jumat (12/11/2021). 

Adapun inisiatif minyak goreng murah itu dikerjakan oleh GIMNI bersama dengan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI). Dua asosiasi produsen minyak goreng itu menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) untuk memastikan distribusi minyak goreng yang dipatok seharga Rp14.000 di gerai ritel modern. 

“Supaya tidak terjadi spekulasi di pasar tradisional makanya kita melalui ritel ada Aprindo yang menjamin bahwa harga tidak akan dinaikan di atas Rp14.000,” kata dia. 

Rencananya, program minyak goreng murah itu bakal berlanjut hingga komoditas strategis tersebut kembali normal seusai siklus komoditas CPO. GIMNI memproyeksikan siklus komoditas CPO itu bakal berakhir setelah Semester II tahun 2022. 

“Kami akan terus melihat pergerakan harga, kalau harga CPO cost, insurance dan freight (CIF) Rotterdam masih di angka US$1.500 kita masih akan tetap jalan, target kita sampai di kisaran harga US$1.100 lah, menurut perhitungan kami setelah semester II/2022,” kata dia. 

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan per 11 November 2021, harga eceran nasional untuk minyak goreng curah sudah berada di posisi Rp16.500 per liter atau naik mencapai 14,58 persen dari bulan lalu. Di sisi lain, harga minyak goreng kemasan naik sebesar 10,91 persen menjadi Rp18.300 per liter dari pencatatan bulan lalu.  

Sumber : Bisnis.com