Advertisement
Pengembang Punya Solusi untuk Milenial yang Kesulitan Beli Rumah
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/1/2022). Bisnis - Arief Hermawan P
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA- Konsultan properti Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia menilai saat ini banyak inovasi developer atau pengembang di sektor perumahan untuk mengatasi kalangan milenial yang kesulitan membeli rumah.
Head Research JLL Indonesia Yunus Karim tak menampik pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa kalangan milenial akan semakin sulit mendapatkan rumah.
Advertisement
Namun, di tengah lonjakan kenaikan harga bahan material, menurutnya, pengembang kini punya berbagai cara menarik membuat proyek yang lebih terjangkau.
"Kita lihat memang strategi-strategi dari para pengembang ini dari sisi mereka melakukan inovasi untuk membuat rumah dengan size yang lebih compact untuk kelas milenial," kata Yunus dalam paparan "Second Quarter 2022 Jakarta Property", Rabu (27/7/2022).
Menurut Yunus, pengembang saat ini mempertimbangkan segementasi untuk meluncurkan proyek. Sehingga untuk menyasar milenial, mereka akan meluncurkan berbagai macam size hingga tipe beragam sehingga dapat memenuhi kebutuhan juga mengjangkau kemampuan pembeli.
Baca juga: Milenial di Jogja Sulit Beli Rumah, REI Sarankan Pemerintah Turun Tangan
"Memang kita tahu dari sisi affordability, kemudian dari sisi behaviour atau taste, sebetulnya [milenial] menyenangi rumah-rumah yang compact jadi kita lihat inovasi itu yang dilakukan oleh para pengembang dalam membangun atau meluncurkan produk mereka," sambungnya.
Pembangunan rumah compact tersebut dinilai dapat memangkas harga pembangunan sehingga dalam menentukan harga jual pun dapat lebih mudah dijangkau kalangan muda.
Tak hanya itu, Yunus juga menekankan mekanisme pembayaran untuk pembelian rumah yang dilakukan developer kini diproyeksikan lebih fleksibel.
"Setelah itu mungkin juga kemudahan fleksibilitas cara bayar juga menjadi salah satu hal strategi untuk memudahkan pembelian rumah," jelasnya.
Di sisi lain, dari adanya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dapat dimanfaatkaan untuk pembelian rumah tapak. Meski insentif hanya sementara, namun penjualan bisa diprediksi tetap sehat mengingat rumah adalah kebutuhan primer.
"Jadi kalau kita lihat meman proyeksi berakhirnya PPN DTP terhadap pasar hunian, dari rumah tapak memang tetap presilience mengingat bahwa rumah merupakan kebutuhan, tapi memang perlu dilihat lagi segmentasi dari rumah2 tersebut. Jadi kita memang melihat bahwa permintaan akan tetap cukup sehat di kelas atau di sektor rumah tapak," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Rp160 Juta Disiapkan untuk Pakan Monyet Demi Lindungi Lahan Pertanian
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Antam Sabtu 28 Maret 2026 Melonjak, Ini Daftar Gramasinya
- BI Prediksi Ekonomi DIY Triwulan I 2026 Melaju Berkat Efek Lebaran
- Konsumsi Pertamax Melonjak 33,9 Persen Selama Periode Lebaran 2026
- Perputaran Uang Lebaran di Jogja Diperkirakan Tembus Puluhan Triliun
- Harga Cabai Rawit Merah Melonjak, Ayam dan Beras Ikut Naik
- Isu Dirut Bulog Jadi Kabais TNI Ternyata Tidak Benar
- Lonjakan Harga BBM Picu Gangguan Pasokan di SPBU Inggris
Advertisement
Advertisement







