Advertisement

Berspirit Gotong Royong, Pasar Setupon Tawarkan Konsep Blue Economy

Arief Junianto
Minggu, 30 Oktober 2022 - 16:37 WIB
Arief Junianto
Berspirit Gotong Royong, Pasar Setupon Tawarkan Konsep Blue Economy Pegiat teh Wikiti tengah memberikan materi dalam Kelas Meracik Teh dalam acara Pasar Setupon, Sabtu (29/10/2022). - Harian Jogja/Arief Junianto

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN — Event pasar alternatif berbasis komunitas terus menjamur di Jogja. Salah satunya adalah Pasar Setupon yang digelar oleh Komunitas Setupon, di Studio Garis & Jarum, Sleman, Sabtu (29/10/2022).

Kegiatan yang bertajuk Setupon Cilik: Pasar Gotong Royong tersebut diikuti oleh total sembilan brand. Sebagai pasar alternatif, Pasar Setupon ternyata tak hanya menyajikan lapak dagangan barang, tetapi juga jasa dalam bentuk workshop dan tutorial class dari sejumlah expert.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Co-founder Setupon, Russelin Edhyati mengatakan sejak awal, pihaknya tak pernah mematok target, baik itu omset maupun jumlah vendor atau brand yang berpartisipasi dari pasar yang ia gelar.

“Setiap brand yang berpartisipasi [dalam Pasar Setupon] sama sekali tidak dipungut biaya dan dipatok omset,” kata dia kepada Harian Jogja, Sabtu.

BACA JUGA: Ini Penyebab Indonesia Sulit Jadi Negara Maju Menurut Menteri Investasi

Meski begitu, kata dia, tak sembarang brand bisa tampil dalam Pasar Setupon. Untuk bisa bergabung dalam Pasar Setupon, pihaknya memberlakukan sistem kurasi.

Salah satu indikator dalam proses pengurasian tersebut adalah value produk yang dimiliki oleh sebuah vendor/brand.

Value yang kami terapkan sebagai standar pun beragam, bisa terkait dengan pelestarian lingkungan, konten yang edukatif, hingga memiliki value yang berdasarkan pada blue economy,” kata dia.

Advertisement

Beberapa vendor yang turut berpartisipasi dalam pasar alternatif itu, di antaranya adalah Line & Needle (kerajinan), Wikiti (kedai teh), Clocky (seni melukis), Sadhabumi (jamu dan herbal), Bella Spina (tanaman hias), Creativenture (fesyen), (gerakan pangan), dan Sporadies (florist).

Pemilik Studio Garis & Jarum, Ameylia Kurniawati mengatakan Pasar Setupon yang digelar di studionya pada prinsipnya berspiritkan gotong royong. “Jadi dengan pasar ini, kami ingin membangun semangat bergotong royong, baik antarvendor, maupun dengan publik secara luas,” kata Amel, sapaan akrabnya, Sabtu.

Selain itu, melalui gelaran Pasar Setupon, pihaknya juga ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa geliat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sejatinya bisa ditingkatkan dengan tetap mengedepankan nilai-nilai positif, seperti misalnya pelestarian lingkungan dan kondisi sosial masyarakat secara umum.

Advertisement

Itulah sebabnya, kata dia, pada gelaran Pasar Setupon yang kali ini merupakan gelaran kedua, acara ditutup dengan pemutaran film yang berkisah tentang rantai distribusi bunga sejak dari petani hingga akhirnya bunga-bunga dibeli oleh konsumen secara luas.

Dalam film dokumenter berjudul Where do My Flowers Come from? karya Rheisnayu Cyntara tersebut dikisahkan perjalanan para petani dan penjual bunga di Bandungan, Kabupaten Semarang yang menjual bunga dengan harga yang sangat murah. “Film itu menggugah kita semua, betapa bunga-bunga cantik yang kita beli di pasaran dengan harga yang bisa sangat mahal, ternyata di tingkat petani dijual sangat murah, hanya sekitar Rp3.000 per ikat,” ucap Amel.

Selanjutnya, imbuh Amel, Pasar Setupon akan kembali digelar di Kedai Teh Umran, Sleman, pada 3 Desember 2022.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Tekan Angka Stunting, BKKBN Libatkan Penyuluh Agama

Sleman
| Rabu, 30 November 2022, 22:17 WIB

Advertisement

alt

Masangin Alkid, Tembus Dua Beringin Bakal Bernasib Mujur

Wisata
| Selasa, 29 November 2022, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement