Advertisement
Galeri Oma, Berdagang sembari Menyimpan Ingatan & Menjodohkan Barang
Setrika listrik jadul koleksi Galeri Oma. - Harian Jogja/Sirojul Khafid
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN — Setiap barang memiliki sejarah dan jodoh pemiliknya masing-masing. Di Galeri Oma, barang-barang ini dikumpulkan dan masing-masing menyimpan cerita perjalanannya.
Seorang seniman keramik pernah menceritakan salah satu karya gelasnya. Dari mayoritas warna cokelat muda dan tua, ada satu garis panjang berwarna merah yang melingkar. Si seniman memberi judul Takdir di konsep gelas tersebut.
Advertisement
Dalam interpretasinya, takdir akan memiliki benang merah sejak manusia lahir sampai dewasa. Ada sesuatu yang memang terus dilakukan oleh seseorang. Meski tidak dilakukan secara sadar, tapi kebiasaan itu terus terbawa, dan mungkin justru menjadi pekerjaannya saat ini.
Semasa masih duduk di bangku SMP, Vera Orchidlia sering mengunjungi pasar loak yang biasa disebut dengan Pasar Senthir.
Pasar barang bekas di sekitar Pasar Beringharjo itu menjadi tempatnya berburu pernak-pernik sampai barang antik. Dengan menyisihkan uang saku, dia mengoleksi barang yang baginya unik.
Dalam beberapa tahap, Vera meminta penjual di pasar itu untuk menghubunginya apabila memiliki barang bagus.
“Dulu beli barang itu buat koleksi saja. Memang saya suka desain interior, senang menata rumah,” kata Vera saat ditemui di Galeri Oma yang berada di Jl. Monumen Jogja Kembali No.47, Sleman, Rabu (7/12/2022).
BACA JUGA: Jadi Tuan Rumah ASEAN Tourism Forum 2023, Ini Kesiapan DIY
Detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun terus berjalan. Kebiasaan Vera mengoleksi barang tetap berjalan, meski kegiatan dan pekerjaan lain tetap menjadi prioritas. Sebagai lulusan perbankan, dia sempat lima tahun bekerja di bank sebagai marketing.
Kunjungi Oma
Dalam perjalanannya, Vera menjadi orang yang gemar mengunjungi orang-orang tua. Kebiasaan ini menurutnya memberi banyak arti bagi orang tua.
Banyak orang tua yang masa senjanya kesepian. Sehingga saat dikunjungi, kebahagiaan yang terpancar tidak bisa dibendung.
Pada 2016, selang beberapa tahun setelah keluar dari pekerjaannya di bank, Vera bertemu orang tua yang hendak menjual barang koleksinya. Orang tua yang sudah tidak bekerja ingin memiliki uang untuk menyambung hidup.
“Awalnya membantu orang-orang yang sudah sepuh, oma-oma, simbah-simbah berumur 70-80 tahun, butuh untuk kelangsungan hidup,” kata Vera yang saat ini berusia 55 tahun.
“Dari situ ada pelukis yang menjual lukisan serta kain batiknya. Adapula yang menjual piring-piring kuno dan sebagainya.”
Beberapa orang tua menjual barang koleksinya untuk biaya berobat. Barang yang Vera beli, ia letakkan di vilanya. Ternyata beberapa orang tertarik membeli barang kuno ini.
Meski ternyata yang terjual tidak hanya barang, vilanya juga ikut terjual. Maka, berpindah lah tempat penjualan barang kuno tersebut ke galeri yang saat ini bernama Galeri Oma.
Tidak hanya membeli barang dari para orang tua yang membutuhkan uang, usaha semakin berkembang dengan membeli barang-barang dari supplier toko barang bekas, bahkan dari luar daerah dan luar negeri. Kini Vera memiliki dua toko yang menyimbang barang-barang kuno nan antik.

Anak Muda
Ada dua cara penanganan barang yang masuk ke Galeri Oma. Setelah memperhatikan jenis barang, ada keputusan untuk membuatnya tetap seperti keadaan semula atau original. Adapula barang yang di-remake untuk meningkatkan nilai kegunaan dan harganya.
Bagian yang memang sudah rusak parah diperbaiki. Sementara bagian yang bertahan dan menjadi ciri khasnya dipertahankan.
Selain para kolektor yang membeli barang yang harganya tinggi, konsumen Gelari Oma saat ini justru banyak anak muda sekitar usia 30 tahun. Di samping konsumen personal, beberapa juga datang dari pemiliki kafe atau usaha yang ingin mendekorasi tempatnya.
Galeri Oma pernah mengirim barang ke seluruh Indonesia. Beberapa kali juga mereka mengirim barang ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, sampai Hong Kong.
“Agar bisa bertahan menjalankan usaha, passion menjadi faktor yang besar di sini. Dari dulu saya emang pengin punya usaha dari hobi, dari kesenangan. Saya percaya barang seperti ini tidak akan ketinggalan zaman, misal hari ini enggak laku, suatu hari bakal laku,” katanya.
Cerita menariknya barang-barang antik mungkin akan terasa saat berkunjung ke Galeri Oma. Kondisi yang terawat dan tertata rapi membuat barang-barang ini seakan masih relevan menjadi barang koleksi. Tidak hanya itu, barang-barang di sini juga masih berfungsi sesuai muruahnya.
“Semua barang punya sejarahnya sendiri. Setiap barang juga punya jodohnya sendiri,” kata Vera. “Pengin sekali nantinya bisa buat wisata galeri vintage.”
Barang yang memiliki jodoh mungkin bisa tergambar dari koper buluk yang pernah Vera beli dari seseorang. Sekilas, koper itu sepertinya lebih layak masuk tempat sampah daripada galeri. Tetapi dengan tekad membantu orang yang hendak menjualnya, Vera tetap mau membelinya. Tentu saja dia pesimistis apakah koper itu akan terjual atau tidak.
“Mungkin yang di Atas lihat, kalau ini niatnya membantu, ternyata ada orang film yang beli koper itu,” katanya.
Tentang usaha:
Nama: Galeri Oma
Tahun berdiri: 2016
Instagram: galerioma
Alamat: Jalan Monumen Jogja Kembali Nomor 47, Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman.
Harian Jogja/Sirojul Khafid
Vera Orchidlia saat berada di Galeri Oma, Sleman, Rabu (7/12/2022).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja 5 Sektor Padat Karya 2026
- Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar, tapi Produksi Anjlok
- Penjualan Tiket KAI Tembus 4 Juta pada Arus Balik Nataru
- GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Advertisement
Pemkab Sleman Luncurkan e-Kalurahan, Awasi Transaksi Desa
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Hari Ini 7 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Melonjak
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,02 Persen pada 2025, Tertinggi 3 Tahun
- Konsumsi Dex Series di Jateng-DIY Naik 35,6 Persen Saat Nataru 2026
- Libur Nataru, Konsumsi Listrik di DIY Meningkat 16 Persen
- 75 Persen Tiket Nataru Dibeli Lewat Access by KAI
Advertisement
Advertisement




