Advertisement

Perekonomian DIY 2022 dan Proyeksi 2023, Begini Kondisinya

M Faisal Nur Ikhsan
Jum'at, 23 Desember 2022 - 13:37 WIB
Arief Junianto
Perekonomian DIY 2022 dan Proyeksi 2023, Begini Kondisinya Pengendara melintas di kawasan Tugu Pal Putih, Yogyakarta, Jumat (10/6/2021). - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Advertisement

Harianjogja.com, SEMARANG — Bauran aktivitas sejumlah sektor menjadi pendorong utama ekonomi DIY, beberapa di antaranya pariwisata, industri makanan dan minuman termasuk di dalamnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Dalam Laporan Perekonomian DIY yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada November 2022 lalu, disebutkan bahwa pengendalian Covid-19, peningkatan mobilitas masyarakat, juga peningkatan permintaan domestik menjadi tiga faktor utama yang mampu mendorong pemulihan ekonomi di wilayah tersebut.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Peran vital sektor pariwisata terlihat dari besarnya pertumbuhan yang dicatatkan lapangan usaha penunjang pariwisata pada kuartal III/2022. Misalnya saja lapangan usaha industri makanan dan minuman yang mampu tumbuh di atas 20% secara year-on-year (yoy). Hal yang sama juga terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum di mana pertumbuhannya mencapai 20,22 persen (yoy).

Namun demikian, peningkatan kinerja perekonomian itu juga dibarengi dengan tantangan untuk menjinakkan angka inflasi. Dalam tiga kuartal berturut-turut, DIY mencatatkan tren lonjakan inflasi yang cukup mengkhawatirkan.

BACA JUGA: Kotta GO Hotel Yogyakarta Tampil dengan Wajah Baru

Pada kuartal I/2022 misalnya, inflasi tercatat di angka 2,95% (yoy). Pada kuartal berikutnya, angkanya melonjak hingga di 5,33%. Dalam laporan terakhir, pada kuartal III/2022, angka inflasi di DIY mencapai 6,81%.

Kepala Perwakilan BI DIY, Budiharto Setyawan menjelaskan bahwa inflasi pada November 2022 disumbang oleh beberapa komoditas pengeluaran antara lain bensin, bahan bakar rumah tangga, angkutan udara, beras, dan biaya pendidikan tinggi.

"Tekanan inflasi Yogyakarta pada akhir tahun cenderung meningkat. Bersumber baik dari sisi permintaan dan penawaran. Perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) dan hari libur akhir tahun mengakibatkan tekanan sisi permintaan," jelas Budiharto dalam konferensi pers yang digelar awal pekan ini.

Adapun ketersediaan barang kebutuhan pangan di wilayah DIY jelang Natal dan Tahun Baru masih diklaim mencukupi. Stok beras masih di angka 4.114 ton, gula pasir 189.84 ton, minyak goreng 34.631 liter, dan tepung terigu mencapai 7.91 ton. Dalam pantauan harga yang dilakukan beberapa waktu lalu, selisih harga komoditas antar wilayah kabupaten dan kota di DI Yogyakarta dilaporkan masih belum signifikan.

Pada 2023 mendatang, lonjakan inflasi diperkirakan masih akan terus berlanjut. Perbaikan rantai distribusi komoditas di tingkat global, menurut BI, berpeluang menimbulkan imported inflation yang mesti diwaspadai. Namun demikian, tantangan itu diikuti dengan peluang perbaikan permintaan domestik yang bakal memperkuat perekonomian DIY.

Secara umum, dengan mempertimbangkan peluang dan tantangan tersebut, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di wilayah DIY bisa mencapai 4,9%-5,7% (yoy) pada tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Hujan Deras Sebabkan 15 Longsor di Gunungkidul

Gunungkidul
| Jum'at, 03 Februari 2023, 13:27 WIB

Advertisement

alt

5 Destinasi Dekat Stasiun Lempuyangan

Wisata
| Jum'at, 03 Februari 2023, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement