Advertisement

Pangkas Proyeksi Ekonomi Jadi 1,7 Persen, Bank Dunia Wanti-Wanti Resesi di 2023

Aprianto Cahyo Nugroho
Rabu, 11 Januari 2023 - 09:37 WIB
Sunartono
Pangkas Proyeksi Ekonomi Jadi 1,7 Persen, Bank Dunia Wanti-Wanti Resesi di 2023 Ilustrasi resesi ekonomi - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 dan memperingatkan negara-negara terkait perekonomian dapat jatuh ke jurang resesi.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (11/1/2023), dalam laporan tahunannya, Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto global (PDB) global naik hanya 1,7 persen sepanjang tahun 2023. Proyeksi ini hanya setengah dari perkiraan pada bulan Juni 2022 lalu.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Jika proyeksi ini akurat, ini akan menjadi kinerja pertumbuhan tahunan terburuk ketiga dalam tiga dekade terakhir, setelah perekonomian global mengalami kontraksi tahun 2009 akibat krisis keuangan dan tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

BACA JUGA : Strategi dan Tips Keuangan yang Bebas dari Resesi

Bank Dunia mengatakan lingkungan inflasi yang masih terus tinggi dan suku bunga acuan yang semakin naik menjadi alasan utama dari pemangkasan proyeksi ini. Bank Dunia juga mengatakan invasi Rusia ke Ukraina dan penurunan investasi menjadi faktor lain.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatgakan krisis yang dihadapi pembangunan global semakin intensif dan kemunduran terhadap kemakmuran global kemungkinan akan terus berlanjut.

“PDB negara berkembang dan pada akhir tahun depan akan berada sekitar 6 persen di bawah tingkat yang diperkirakan sebelum pandemi Covid-19,” ungkap Malpass dalam kata pengantar laporan tahunan Global Economic Prospects.

Bank Dunia juga mencatat bahwa tekanan ekonomi yang terjadi di AS, China, dan Uni Eropa juga turut memperburuk tantangan yang dihadapi oleh negara-negara miskin.

Meskipun inflasi telah turun dari level tertingginya, tekanan harga ini diperkirakan masih bertahan lama dan bank sentral akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan.

BACA JUGA : Liburan Nomor Satu, Resesi Ekonomi Pikir Nanti Dulu

"Kombinasi pertumbuhan yang lambat, pengetatan kondisi keuangan, dan hutang yang besar kemungkinan akan melemahkan investasi dan memicu default perusahaan," kata Bank Dunia.

Untuk itu, Bank Dunia mendesak agar negara-negara di seluruh dunia melakukan tindakan secara nyata untuk mengurangi risiko resesi global dan tekanan utang.

Bank Dunia menyerukan agar negara-negara berkembang memacu investasi, selain melakukan pembiayaan baru dari komunitas internasional dan dari penggunaan kembali pengeluaran yang ada, seperti subsidi pertanian dan bahan bakar yang tidak efisien.

Malpass mengatakan, meskipun dunia sekarang berada dalam posisi yang sangat sulit, seharusnya tidak ada ruang untuk bersikap pesimis.

“Ada hal penting yang dapat dilakukan sekarang untuk memperkuat aturan hukum, meningkatkan prospek, dan membangun ekonomi yang lebih kuat dengan penguatan sektor swasta dan meningkatkan peluang bagi masyarakat," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Dua SD Negeri di Bantul Ini Segera Diperbaiki

Bantul
| Kamis, 09 Februari 2023, 12:37 WIB

Advertisement

alt

Buyer Terkesan saat Membuat Ecoprint & Jalan-jalan ke Tamansari

Wisata
| Kamis, 09 Februari 2023, 06:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement