Advertisement
Pengembang Lebih Memilih Bangun Rumah Buat Menengah Atas, Ini Alasannya
Foto udara komplek perumahan di kawasan Gading Serpong, Kelapa Dua, Tangerang, Banten, Jumat (11/6/2021). Bisnis - Abdullah Azzam
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pasar properti residensial, khususnya rumah tapak kembali menggeliat usai pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Hanya saja ada pergeseran tren yang terjadi dari sisi produksi pasokan yang dilakukan pengembang. Pengembang properti lebih memilih membangun rumah untuk kalangan menengah atas.
Advertisement
Director Strategic Consulting Indonesia, Arief Rahardjo mengatakan kepercayaan pasar terhadap produk perumahan terus tumbuh. Permintaan rumah tapak segmen menegah kini melaju kencang sebesar 26% dari total permintaan.
BACA JUGA: Tiga Perumahan di Tanah Kas Desa Sardonoharjo Sleman Ditutup, Sebagian Sudah Berpenghuni
"Ada perbedaan mengenai segmentasi yang ditawarkan jadi tadinya pengembang banyak yang perumahan lebih kecil, tapi kita lihat semester ini pengembang menawarkan segmen lebih tinggi," kata Arief, Kamis (27/7/2023).
Sementara itu, segmen rumah tapak kelas atas pun terus menunjukkan peningkatan permintaan yang mewakili sekitar 23,9% dari total unit yang terjual. Adapun, sebagian besar permintaan berasal dari end-user, sekitar 77%.
Profil end-user pembeli rumah tapak merupakan konsumen pemilik rumah pertama dan keluarga yang lebih mapan dan mencari hunian yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan terus meningkat.
Dari segi pasokan, unit segmen kelas atas mendominasi pasokan baru semester ini dengan 34,3% dari total pasokan sebanyak 4.445 unit, diikuti oleh segmen menengah sebesar 27,3%. "Kawasan Tangerang mendominasi pasokan baru dengan mendominasi sebesar 51 persen, diikuti oleh Bogor dan Depok dengan 22 persen," terangnya.
Menurut Arief, hal ini menunjukkan keyakinan pengembang dalam pasar dengan memperkenalkan produk-produk kelas atas di berbagai perumahan, yang menandakan optimisme mereka terhadap kepercayaan pasar secara keseluruhan dan potensinya.
"Harga perumahan pun naik seiring dengan improvment infratruktur jalan dan fasilitas lain di sekitar, biaya konstruksi juga mempengaruhi kenaikan harga dari properti," ujarnya.
Kemajuan dalam infrastruktur transportasi juga berkontribusi pada laju kenaikan harga tanah. Akibatnya, harga jual rata-rata tahunan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 4,49%.
Berdasarkan data terbaru Cushman & Wakefield Q2 2023 Marketbeat Reports, nilai transaksi rata-rata per unit sekitar Rp2,08 miliar, menunjukkan peningkatan sebesar 15,6% dibandingkan dengan paruh pertama pada 2022.
Wilayah Jabodetabek menunjukkan tingkat rata-rata penyerapan bersih bulanan sebanyak 20 unit per perumahan selama semester I/2023, menurun 20,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Meskipun nilai ini mencerminkan penurunan 8 persen secara tahunan, namun tetap relatif stabil dibandingkan semester sebelumnya naik 4 persen yang menunjukkan daya beli yang menjanjikan dalam pasar," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Avtur Mahal, Biaya Tambahan Tiket Pesawat Naik, Ini Dampaknya
- Program Bedah Rumah Diperluas Tahun Ini Jangkau Seluruh Daerah
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Tiket Pesawat Diprediksi Naik, Pemerintah Pasang Batas Kenaikan
- Sawit Indonesia Dialihkan ke Energi B50 Mulai Juli 2026
- Harga Cabai Rawit Merah Melonjak, Tembus Rp85 Ribu per Kg
- Segini Besaran Penerimaan Negara dari Pajak MBG
Advertisement
Advertisement








