Ekonomi DIY Tumbuh 5,75% pada Triwulan II 2026, Tertinggi di Jawa
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Inflasi DIY pada Maret 2024 diperkirakan akan dipengaruhi oleh harga pangan bergejolak atau volatile food dan juga transportasi. Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo mengatakan besarannya secara bulanan atau (month-to-month/mtm) akan lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Dia mengatakan inflasi bulan lalu didominasi dengan tingginya harga beras, dan sampai saat ini belum turun. Ditambah pada awal Ramadan beberapa kebutuhan pangan juga naik seperti telur, daging, dan lainnya. "Dugaan saya inflasi Maret 2024 akan lebih tinggi dibandingkan inflasi pada Februari," paparnya, Kamis (21/3/2024).
Menurutnya kegiatan pasar murah sebagai langkah menekan inflasi sifatnya sporadis dan spasial daerah tertentu saja. Sehingga secara agregat tidak serta merta menurunkan harga. Namun upaya ini baik untuk membantu kelompok sasaran tertentu yang kurang mampu. "Tapi secara keseluruhan tidak berpengaruh pada inflasi, karena sporadis di beberapa tempat saja dan jumlahnya terbatas," tuturnya.
Baca Juga
BPS: Inflasi DIY 2023 Capai 3,17%
Inflasi DIY Lebih Tinggi dari Nasional, Ternyata Ini Alasannya
Kenaikan Harga Beras Bikin Inflasi DIY Februari 2024 Capai 0,39 Persen
Sementara untuk transportasi saat ini harga tiket sudah mulai merangkak naik, baik transportasi udara dan darat. Ini juga akan berdampak pada inflasi di Maret 2024. "April saya kira jauh lebih tinggi [inflasinya] dibandingkan Maret karena harga tinggi di volatile food, transportasi juga tinggi ada arus mudik dan balik," jelasnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ibrahim menjelaskan ada tiga komponen utama terkait dengan inflasi. Core inflasi adalah barang-barang yang dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Apabila pendapatan naik maka permintaan pada barang tersebut juga naik.
Kemudian ada komoditas yang penetapan harganya oleh pemerintah, seperti bensin, angkutan udara, kereta api, minyak tanah, hingga PDAM. Lalu ada juga komoditas yang mudah bergerak atau volatile food. Ini biasanya berlaku untuk seluruh produk pangan, ada pengaruh seasonal, cuaca dan lainnya.
"Melihat tiga jenis komponen inflasi ini berbeda-beda, makanya diperlukan strategi kebijakan yang berbeda-beda. Karena berada di lembaga yang berbeda-beda maka diperlukan sinergi dan koordinasi yang semakin kuat," jelasnya.
Di daerah BI berperan menjaga penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Juga fokus pada isu-isu spesifik seasonal seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), dan isu struktural seperti faktor pertanian. Bagaimana irigasinya, bagaimana pengeluaran dinas terkait dengan perbaikan infrastruktur sektor pertaniannya.
"Karena ada tiga faktor yang berbeda-beda tadi, maka faktor sinergi dan koordinasi antardinas atau lembaga semakin penting untuk pengendalian inflasi."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
OJK mencatat pembiayaan investasi multifinance turun 5,33% menjadi Rp167,89 triliun pada semester I/2026.
Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan ancaman, operasi militer, sanksi, dan blokade laut.
Komisi B DPRD Kota Jogja Soroti Penurunan Pendapatan Taman Budaya, Target 2027 Diminta Realistis
Peta kuno karya MD Roy tahun 1695 mengungkap nama Terboyo telah tercatat sebelum era Bupati Suryadi Menggolo V.
BPBD Banjarnegara telah menyalurkan 3,19 juta liter air bersih untuk 18.172 jiwa terdampak kekeringan di 21 desa dan enam kelurahan.