Kustomfest 2026 Gelar Charity Riding untuk Korban Kebakaran Hutan
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Ilustrasi uang rupiah - Antara
Harianjogja.com, JOGJA—Tren nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pekan ini. Kaprodi S1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, I Wayan Nuka Lantara mengatakan tren penguatan rupiah pekan ini banyak dikaitkan dengan faktor eksternal global.
"Khususnya rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) AS yang lebih tinggi 2,9% dari yang diperkirakan sebelumnya 2,5%," ucapnya, Sabtu (28/9/2024).
Dia menjelaskan di sisi lain juga didorong oleh ekspektasi The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) yang diperkirakan bakal menurunkan tingkat suku bunganya.
Menurutnya kondisi ini diasumsikan bisa berdampak positif pada aliran dana investasi dari negara maju ke negara berkembang termasuk Indonesia.
Secara internal, pengalaman empiris selama ini menunjukkan bahwa penurunan tingkat bunga AS biasanya juga direspon dengan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI). Sehingga diharapkan bisa memberikan ruang ekspansi ekonomi yang lebih baik.
Kemudian, kata Wayan, apakah tren penurunan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6% masih akan berlanjut, tergantung dari beberapa faktor.
BACA JUGA: 75 Juta Gen Z Indonesia Bisa Kesulitan Keuangan Gegara Tren YOLO dan FOMO
Khususnya terkait masa transisi pemerintahan yang baru. Apakah pemerintahan baru di Indonesia mampu memanfaatkan momentum optimisme global dan menjaga stabilitas indikator ekonomi.
"Faktanya saat ini masih defisit meskipun di kisaran 3%," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan stabilitas politik juga menjadi kunci penting. Sebab tanpa stabilitas politik yang baik dan kondusif, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi tidak mencapai angka yang diharapkan.
Nilai tukar rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berdasarkan data terakhir Jumat (27/9/2024) ada di posisi Rp15.138 per dolar AS.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan berdasarkan hasil RDG BI 17-18 September 2024 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
Menurutnya keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi pada tahun 2024 dan 2025 yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1%, penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah, dan perlunya upaya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, BI terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan sesuai dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat, serta pertumbuhan ekonomi yang perlu terus didorong agar lebih tinggi.
"Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kustomfest 2026 di Jogja hadir 10-11 Oktober dengan charity riding, dukungan pendidikan anak, musik, kuliner, dan tema High Octane.
Disdikpora Bantul mengandalkan program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi.
Persis Solo kalah 0-2 dari Kendal Tornado FC di Stadion Manahan. Patrick Cruz dan Ousmane Maiket mencetak gol untuk tim tamu.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyoroti proporsi mahasiswa STEM Indonesia yang masih 28 persen dan pentingnya penguatan sains fundamental.
Hotspot karhutla Indonesia naik menjadi 1.271 titik. Kalteng mencatat 355 titik dan Kalbar 246 titik hingga 2 Oktober 2026.
Profil Irjen Langgeng Purnomo, Kapolda DIY baru yang merupakan lulusan Akpol 1995 dan pernah menjabat Kapolres hingga pejabat SSDM Polri.