Advertisement
Pertumbuhan Ekonomi DIY Diprediksi Stabil 2026
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pertumbuhan ekonomi DIY 2025 tercatat 5,49% secara kumulatif (ctc), dengan capaian triwulan IV 2025 sebesar 5,94% secara tahunan (yoy). Bank Indonesia (BI) DIY memproyeksikan ekonomi DIY 2026 tetap tumbuh di kisaran 4,9%–5,7% yoy dengan sejumlah faktor penopang domestik dan eksternal.
Secara triwulanan (qtq), ekonomi DIY pada triwulan IV 2025 juga tumbuh 3,45% dibandingkan triwulan III 2025. Angka ini memperlihatkan momentum pertumbuhan yang tetap terjaga menjelang akhir tahun, ditopang konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi daerah.
Advertisement
Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, mengatakan mencermati kondisi terkini, pihaknya optimistis pertumbuhan ekonomi DIY 2026 berada pada rentang 4,9%–5,7% yoy.
Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang menopang ekonomi DIY tahun ini. Pertama, aktivitas domestik yang terjaga seiring kuatnya konsumsi masyarakat serta kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY 2026. Kedua, penguatan interkoneksi antarwilayah Joglo-Semar. Ketiga, potensi perluasan pasar ekspor baru seiring penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
BACA JUGA
"Di sisi lain, terdapat beberapa tantangan yang berasal dari perekonomian global maupun domestik perlu diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi DIY tetap terjaga," ujarnya.
Sri menegaskan sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah, BI, dan instansi terkait akan terus diperkuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi DIY 2026. Upaya tersebut meliputi akselerasi konektivitas antar daerah, integrasi transportasi, serta penguatan promosi pariwisata.
Selain itu, diversifikasi produk ekspor juga menjadi fokus dengan mengidentifikasi produk lokal berpotensi pasar internasional. "Pemberian insentif dan kepastian berusaha dalam rangka menarik minat calon investor," katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menyampaikan tantangan pertumbuhan ekonomi DIY turut dipengaruhi dinamika regional dan global. Ia menyebut secara global beberapa negara berkembang masih mencatat pertumbuhan.
Ia menilai optimisme tetap diperlukan karena secara regional DIY memiliki penopang kuat, seperti sektor UMKM, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta sektor penyediaan makanan dan minuman.
"PR-nya adalah Jogja ini kan wilayah wisata, nanti mungkin yang bisa dipikirkan bagaimana pertumbuhan ini merata di semua kabupaten/kota. Tidak terpusat hanya di Kota Jogja saja," jelasnya.
Endang menambahkan, kepadatan aktivitas wisata di Kota Jogja berpotensi mendorong pemerataan pertumbuhan ke wilayah Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulonprogo. Pergerakan ini membuka peluang bagi sektor pariwisata, akomodasi, hingga informatika di kabupaten penyangga.
"Ini menjadi potensi yang luar biasa," lanjutnya. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi DIY 2026 yang tetap positif, penguatan konektivitas wilayah dan diversifikasi ekonomi di luar Kota Jogja dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pertumbuhan yang lebih merata di seluruh DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kasus Hipertensi Gunungkidul Naik, DPRD Desak Pemkab Fokus Penanganan
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Data Modal Asing Tak Lagi Dirilis BI, Ini Alasannya
- Harga Emas UBS dan Galeri24 Stabil, Simak Daftar Lengkapnya per Gram
- UMKM BISA Ekspor Dorong Transaksi Rp2,27 Triliun Sepanjang 2025
- Harga Pangan Turun, Cabai Rawit dan Bawang Merah Ikut Melandai
- Harga BBM Februari 2026 Turun Serentak di SPBU Pertamina hingga Vivo
- Survei BI: Optimisme Konsumen Menguat Awal 2026
- Laporan SPT Tahunan Capai 1,82 Juta Wajib Pajak, DJP Ingatkan Aktivasi
Advertisement
Advertisement



