Inflasi Jogja pada Juni Terendah Selama 3 Tahun Terahir

Inflasi Jogja pada Juni Terendah Selama 3 Tahun TerahirTim dari Biro Perekonomian dan Pembangunan dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY memantau harga kebutuhan pokok pangan jelang Ramadan 2018 di Pasar Wates, Selasa (8/5 - 2018).Harian Jogja/Uli Febriarni
04 Juli 2018 07:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi Kota Jogja berdasarkan laporan BPS DIY relatif terjaga di pertengahan Ramadan hingga Lebaran. Adanya penurunan harga sejumlah komoditas dan melimpahnya pasokan untuk beberapa komponen volatile food, memberikan penekanan terhadap laju inflasi. 

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Budi Hanoto mengatakan meskipun terdapat momentum Idulfitri, inflasi DIY pada Juni 2018 masih terkendali pada level 0,46%. “Tingkat inflasi tersebut terendah dalam rata-rata historis Idulfitri dalam tiga tahun terakhir sebesar 0,73 persen, serta lebih rendah dibandingkan pencapaian Nasional sebesar 0,59 persen,” ujar Budi, Selasa (3/7). 

Laju inflasi bulan kalender DIY sebesar 1,29% year to date (ytd) dengan laju inflasi tahunan mencapai 2,69% year on year (yoy). Budi memaparkan terkendalinya inflasi pada periode laporan dipengaruhi oleh terjaganya inflasi inti. Meskipun administered prices dan volatile food tercatat mengalami peningkatan tekanan. 

Budi menambahkan tekanan inflasi administered price pada Juni 2018 bersumber dari peningkatan tarif angkutan darat, antara lain angkutan antarkota dan tarif kereta api, serta tarif angkutan udara. Kondisi ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan di tengah siklus mudik pada saat Idulfitri. 

“Namun demikian, menurunnya inflasi bahan bakar rumah tangga mampu menahan tekanan inflasi administered prices pada periode laporan,” kata Budi. 

Selain itu, komponen volatile food tercatat inflasi yang disumbang meningkat cukup tajam dibandingkan periode bulan sebelumnya yang deflasi 0,53%. Meningkatnya tekanan inflasi terutama disebabkan peningkatan inflasi daging ayam ras sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat. 

Kendati demikian, penurunan tekanan inflasi telur ayam ras, bawang putih, cabai merah dan bawang merah turut menahan tekanan inflasi yang lebih dalam. Melimpahnya pasokan yang didukung oleh kelancaran distribusi mendorong penurunan harga sejumlah komoditas tersebut. 

“Terjaganya stabilitas inflasi DIY selama periode Ramadan dan Lebaran tidak terlepas dari sinergi dan koordinasi antara Bank Indonesia DIY dan Pemerintah DIY melalui forum TPID DIY,” katanya. 

Sejumlah upaya yang dilakukan TPID DIY dalam mempertahankan inflasi DIY di masa Ramadan dan Lebaran antara lain dengan pemantauan harga dan distributor. Selain itu, TPID DIY juga turut memantau dan menjaga kecukupan pasokan melalui TTI Center, Rumah Pangan Kita dan Kios Segoro Amarto. Operasi pasar dan pasar murah yang selalu digiatkan menjadi salah satu upaya yang dilakukan agar harga komoditas pokok tetap terjangkau oleh masyarakat. 

“Ke depan, Bank Indonesia DIY dan Pemda DIY akan terus berkoordinasi meningkatkan sinergi dalam rangka menjaga stabilisasi harga di DIY untuk mencapai sasaran target inflasi 2018 sebesar 3,5persen±1 persen (yoy),” ujar Budi.