PERKEMBANGAN TEKNOLOGI FINANSIAL : Sejumlah Harapan dari Bali Fintech Agenda

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI FINANSIAL : Sejumlah Harapan dari Bali Fintech AgendaPresiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) berfoto bersama Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (ketiga kanan), Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (ketiga kiri), Gubernur Bank Sentral Inggris yang juga Ketua Dewan Stabilitas Keuangan IMF Mark Carney (kiri) dan Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan yang juga Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional IMF Lesetja Kganyago (kanan) saat menghadir
12 Oktober 2018 07:10 WIB Dwi Nicken Tari, Hadijah Alaydrus, Rinaldi M. Azka Ekbis Share :

Harianjogja.com, BALI--Bagaikan dua sisi mata uang, teknologi finansial hadir dengan membawa sejumlah peluang dan risiko yang sama besarnya bagi industri keuangan. Perkembangan teknologi finansial (tekfin) yang melaju dengan cepat pun telah mengubah lansekap ekonomi dan keuangan dunia.

Melihat pesatnya perkembangan tekfin tersebut, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia Grup (WBG) pun meluncurkan Bali Fintech Agenda, yakni 12 elemen kebijakan yang bertujuan membantu negara-negara anggota IMF dan Bank Dunia memanfaatkan peluang dari cepatnya perkembangan tekfin sambil mengendalikan risiko-risikonya.

“Tekfin membawa manfaat dan tantangan, manfaatnya bisa membuat kehidupan lebih mudah tapi di sisi lain juga dapat merusak. Kita harus memastikan tekfin tidak merusak stabilitas ekonomi,” kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam seminar Bali Fintech Agenda, yang merupakan rangkaian dalam Pertemuan Tahunan IMF-WBG 2018, Kamis (11/10/2018).

Dalam seminar yang sama, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menambahkan bahwa mengelola risiko-risiko yang muncul dari tekfin harus dengan regulasi yang baik.

“Di Sillicon Valley, segala hal bergerak dan berubah dengan cepat, untuk itu diperlukan kebijakan yang dapat beradaptasi dengan cepatnya perubahan,” tutur Jim.

Dengan adanya Bali Fintech Agenda, IMF dan Bank Dunia menyatakan akan fokus menggunakan tekfin untuk memperdalam pasar keuangan, menambah akses yang bertanggung jawab terhadap layanan keuangan, meningkatkan pembayaran lintas batas, dan sistem remitansi. Seluruh panelis dalam diskusi itu pun menekankan bahwa tujuan inti dari Bali Fintech Agenda adalah untuk mendorong pertumbuhan inklusif dan globalisasi.

Sejumlah eksekutif bank sentral di Asia ikut memberikan suara dalam High-Level Policy Dialogue on Regional Cooperation to Support Innovation, Inclusion, and Stability in Asia yang digelar oleh Asian Development Bank (ADB), Bank Indonesia, dan Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3.

Di satu sisi, mereka mengakui besarnya potensi teknologi keuangan untuk meningkatkan pertumbuhan inklusi keuangan. Namun, di sisi lain hampir semua bank sentral menyadari ada risiko yang bisa ditimbulkan.

Teknologi baru seperti mobile banking, big data, dan jaringan transfer peer-to-peer memang berhasil memperluas jangkauan layanan keuangan kepada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank atau tidak terjangkau bank, sehingga meningkatkan pendapatan dan standar hidup.

Namun, teknologi keuangan juga membawa risiko penipuan siber, keamanan data, dan pembobolan privasi. Disintermediasi layanan tekfin atau konsentrasi layanan di antara beberapa penyedia juga dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

Tempat Ideal
Adapun, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan Asia, termasuk Indonesia, merupakan tempat ideal bagi teknologi finansial untuk berkembang. Indonesia yang memiliki lebih dari seperempat juta masyarakat yang tersebar di ribuan pulau, menunggu untuk terintegrasi dengan teknologi baru. Struktur demografi muda juga dengan semangat memasuki dunia digital masa depan.

Selain itu, lebih dari 50 juta UMKM tak sabar menanti untuk terlibat dalam e-commerce.

“Masyarakat baru yang didorong oleh kelompok kelas menengah yang dinamis dan demokratis, memandang ekonomi digital sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, seperti layaknya evolusi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, BI memandang inklusi keuangan dapat ditingkatkan melalui kebijakan yang mendorong inovasi keuangan, dengan meningkatkan literasi keuangan, serta memperluas dan meningkatkan infrastruktur dan jaringan digital. Tidak lupa, hal ini membutuhkan peraturan untuk mencegah kegiatan ilegal, meningkatkan keamanan siber, dan melindungi hak dan privasi konsumen.

Menanggapi perkembangan inovasi teknologi, Co Founder Gates Foundation Melinda Gates sepakat bahwa perkembangan itu memerlukan regulasi, tetapi regulasi ‘cerdas’ bukan regulasi yang ‘mencekik’ pengembangan inovasi.

Dia mengakui bahwa inovasi teknologi bergerak tidak merata di seluruh dunia. Di satu tempat bisa sangat cepat, tetapi di tempat lain bisa terhambat. Padahal, menurutnya, inovasi dapat membantu manusia hidup lebih sejahtera.

“Kami selalu percaya dengan inovasi, tapi perkembangannya tidak tersebar merata. Di negara berpendapatan rendah, hanya 12% dari masyarakatnya yang dapat mengakses internet,” ungkapnya.

Pada acara yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyampaikan bahwa Indonesia beruntung menjadi negara berpendapatan menengah yang berhasil memiliki beberapa unicorn.

“Tapi sulit sekali untuk mengendalikan [unicorn] lewat aturan, beberapa pihak mengatakan ‘jangan sentuh [inovasi] itu! Biarkan berkembang!’ Tapi ada pula yang mengeluhkan disrupsi bisnis yang disebabkannya,” kata Sri Mulyani.

Sumber : bisnis.com