KPR Kian Menyasar Milenial

KPR Kian Menyasar MilenialDeretan rumah tapak di kawasan Padasuka Atas, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Rachman
19 November 2018 16:10 WIB Andi M. Arief Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Sejumlah bank mengarahkan pemasaran produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk menyasar segmen nasabah milenial yang dinilai paling membutuhkan fasilitas pembiayaan untuk mendapatkan rumah tinggal.

Executive Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Ignatius Susatyo Wijoyo mengatakan bahwa rumah tinggal menjadi salah satu modal awal yang dibutuhkan oleh milenial—yang berusia antar 21—35 tahun, untuk menapaki tahapan selanjutnya dalam hidup.

Merujuk pada data nasabah payroll Bank Mandiri, Susatyo mengatakan bahwa jumlah nasabah milenial yang mendapatkan KPR dari bank pelat merah tersebut baru mencapai kurang dari 10%.

"Nasabah payroll yang jadi nasabah KPR di Bank Mandiri baru 20.000. Berarti ada 280.000 [yang belum memiliki KPR]. Ya, either sudah beli di bank lain atau belum beli rumah sama sekali," tuturnya kepada Bisnis, Sabtu (17/11).

Selain itu, dari realisasi penyaluran KPR senilai Rp42 triliun pada Oktober, porsi nasabah yang berasal dari generasi milenial hanya 12%. Susatyo melihat hal ini sebagai sebuah peluang untuk menggali segmen milenial untuk mendapatkan KPR.

Belum lama ini, Bank Mandiri telah mengeluarkan produk KPR yang secara khusus menyasar segmen nasabah milenial. Produk ini menawarkan suku bunga tetap sebesar 6,5% selama 5 tahun, dengan tenor pinjaman maksimum 25 tahun.

Guna mempertahankan daya beli nasabah KPR dari kelompok milenial yang secara umum masih memiliki keterbatasan akibat banyaknya tanggungan serta kebutuhan gaya hidup, perseroan berencana menetapkan angsuran rendah pada awal periode kemudian semakin meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan debitur.

Perseroan akan membuat semacam grace periode selama 2 tahun pertama untuk KPR ini. Hal ini guna memudahkan debitur memiliki tahapan sebelum mengangsur secara normal. Produk ini dicanangkan akan dirilis sekitar semester I/2019.

"Kalau perlu cicilannya 10%—15% dari gaji. Jadi debitur masih bisa bayar kost, masih bisa nongkrong, bisa jalan-jalan, tapi punya rumah," jelasnya.

Di sisi lain, imbuh Susatyo, bagi generasi muda yang memiliki penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan, bisa memperoleh KPR melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Seperti diketahui, KPR dengan skema FLPP ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang memilik gaji sekitar Rp4 juta—Rp7 juta per bulan. Pengelolaan dana KPR ini dilaksanakan oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan perumahan di Kementerian PUPR dengan suku bunga tetap 5%.

Dihubungi terpisah, Direktur PT Bank Centra Asia Santoso mengatakan akan ada sedikit tekanan terhadap penyaluran kredit konsumer pada 2019, khususnya bagi penyaluran KPR. Pasalnya, dengan pengetatan likuiditas, bunga kredit akan melambung dan bunga KPR menjadi lebih tinggi.

"Namun kami melihat segmen market yang dituju. Kami pasti akan lihat segmen market yang tepat dan masih menerima secara pricing," ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia