Target Bank Pelat Merah Konservatif

Target Bank Pelat Merah Konservatif Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman
27 November 2018 13:10 WIB Nirmala Aninda Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Tekanan likuiditas perbankan diperkirakan berlanjut pada 2019 sebagai dampak dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Penyesuaian bunga kredit bakal dilakukan secara selektif untuk mengantisipasi kenaikan pembiayaan bermasalah.

Bank pelat merah pun memasang target bisnis cukup konservatif untuk menjaga kualitas kredit dan mengantisipasi pengetatan likuiditas.

Wakil Direktur PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Herry Sidharta mengatakan, dalam menghadapi efek kenaikan suku bunga pada 2019, bank tidak bisa secara langsung menaikkan suku bunga kredit, karena menjaga kualitas kredit.

“Kondisi ini disiasati dengan upaya penyempurnaan proses penyaluran, monitoring, bahkan sampai dengan proses perbaikan maupun penyelesaian kredit bermasalah yang dilakukan secara terus menerus," ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/11).

Manajemen BNI memproyeksikan penyaluran kredit masih akan lebih tinggi dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dengan pertumbuhan kredit pada kisaran 12% - 13% pada 2019, atau lebih rendah dari target pertumbuhan 2018 pada kisaran 13% - 15%.

Namun, dia optimistis pada tahun depan kondisi ekonomi di dalam negeri masih cukup positif dengan didukung oleh stabilitas ekonomi domestik dibandingkan dengan kondisi ekonomi global.

"Segmen usaha kecil diharapkan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan segmen lain, karena lebih tahan terhadap perubahan ekonomi yang pada tahun 2019 yang menjadi tantangan utama perekonomian global," tuturnya.

Selain itu, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia masih menyasar pasar dalam negeri karena potensi konsumsi di dalam negeri masih cukup tinggi.

Sementara itu, penghimpunan DPK diproyeksikan relatif sama dengan tahun ini. Namun, manajemen BNI akan memprioritaskan penghimpunan dana murah atau current account saving accoung (CASA) melalui layanan digital.

Dengan mempertimbangkan pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga, dan dampak kenaikan suku bunga acuan, BNI memperkirakan rasio margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada 2019 di kisaran 5% - 5,5%.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebelumnya memprediksi rasio NIM perbankan masih akan mengetat sampai dengan akhir tahun ini. Tren tersebut diperkirakan berlanjut sampai dengan tahun depan.

Direktur Group Risiko dan Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto menerangkan, trasmisi suku bunga kredit lebih lambat dibandingkan dengan bunga dana.

Menurutnya, proses transmisi tersebut bisa memakan waktu sampai dengan 1 tahun. Hal ini membuat bank harus merelakan untuk sementara waktu margin bunga bersih tertekan.

Dia memastikan kondisi tersebut belum akan berakhir. Pasalnya, pengetatan kebijakan moneter Bank Indonesia masih akan berlangsung sesuai dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve System (The Fed), yang masih akan menaikkan suku bunga sampai 2019.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, tahun depan sejumlah bank akan menggalang dana selain dari penghimpunan DPK untuk mengimbangi pertumbuhan kredit dengan dana.

"[Pendanaan alternatif] mulai dari penerbitan obligasi internasional atau bilateral funding dari interbank dan sebagainya karena secara average loan to deposit bank saat ini sudah mencapai 90%," ujarnya saat ditemui pada Indonesia Banking Expo (IBEX) 2018 beberapa waktu lalu.

Dia menyampaikan, dampak kenaikan suku bunga acuan akan menggerus rasio NIM, tetapi masih dalam batas wajar, yakni di kisaran 5%.

Kredit Bank Mandiri pada 2019 diperkirakan tumbuh sekitar 11% - 13%. Perseroan tetap optimistis bisnis akan tetap tumbuh meskipun kondisi perbankan secara industri mengalami tren pengetatan likuiditas.

Dihubungi terpisah, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Haru Koesmahargyo mengatakan, perseroan sejauh ini telah melakukan penyesuaian suku bunga kredit secara selektif untuk menjaga kualitas aset.

Penyesuaian dilakukan pada segmen debitur tertentu yang dianggap memiliki kualitas yang cukp baik untuk menahan kenaikan bunga dan tidak menjadi kredit bermasalah, seperti pada segmen korporasi.

Sementara itu, pada sisi penghimpunan dana, perseroan akan menaikkan bunga pada simpanan deposito. Adapun, bunga tabungan dan giro, lanjutnya, tidak akan banyak mengalami perubahan.

Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Iman Nugroho Soeko menyampaikan pendapat serupa. Menurutnya, penyesuaian suku bunga kredit terhadap kenaikan bunga dana akan dilakukan secara selektif.

Menurutnya, bank harus bekerja lebih efektif dan efisien untuk menjaga kualitas bisnis pada tahun depan dengan mendongkrak pendapatan, khususnya dari nonbank, yakni fee based income.

"Memang kondisi makro saat ini tidak menguntungkan karena adanya kenaikan suku bunga pasar dana sementara transmisinya ke suku bunga kredit tidak bisa langsung. Jadi tekanan yang terjadi pada NIM merupakan situasi "new normal” saat ini," ungkapnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia