BI-Menkeu-DPR Kompak Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Pasar

Ibad Durrohman
Ibad Durrohman Sabtu, 06 Juni 2026 13:17 WIB
BI-Menkeu-DPR Kompak Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Pasar

Ilustrasi uang. /Bisnis- Paulus Tandi Bone

Harianjogja.com, JAKARTA – Tiga pimpinan lembaga ekonomi utama Indonesia yakni Gubernur Bank Indonesia (Bank Indonesia) Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad tampil bersama dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6/2026). Kemunculan bersama ini dilakukan di tengah tekanan berat yang melanda pasar keuangan domestik.

Saat ini, nilai tukar rupiah tercatat masih berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terkoreksi hampir 20 persen dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh aksi jual investor asing yang masih berlanjut di pasar modal Indonesia.

Koordinasi fiskal dan moneter diperkuat

Dalam pernyataannya, Perry Warjiyo menegaskan bahwa otoritas moneter dan fiskal telah memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry di Gedung DPR, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, penguatan koordinasi saat ini difokuskan pada upaya meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar arus modal asing kembali masuk ke Indonesia.

Strategi tarik kembali modal asing

Perry menjelaskan, kenaikan suku bunga global telah memicu arus keluar dana asing dari berbagai instrumen keuangan domestik, termasuk saham, Surat Berharga Negara (SBN), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Untuk itu, kebijakan fiskal dan moneter akan diarahkan untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri agar lebih kompetitif.

“Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk,” jelasnya.

Selain itu, Bank Indonesia juga akan menjaga likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah serta kebijakan remunerasi yang lebih optimal.

Fundamental ekonomi dinilai masih kuat

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat meski tekanan eksternal meningkat.

Ia menyebut pemerintah akan terus mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia.

“Ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan kita semakin cepat,” kata Purbaya.

Menurutnya, sinergi kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik dan memperkuat stabilitas rupiah.

Dampak ke sektor riil

Purbaya juga menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap sektor usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor, seperti industri makanan dan UMKM.

Ia menilai stabilitas nilai tukar penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan kenaikan biaya produksi.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya karena bahan bakunya masih impor,” ujarnya.

Pemerintah berharap langkah sinergi lintas lembaga ini dapat menahan tekanan pasar, memperkuat stabilitas ekonomi, dan memulihkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online