Mendag dan Menperin Tagih Peran Kadin, Ini Agenda yang Disodorkan

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Sabtu, 31 Oktober 2026 11:37 WIB
Mendag dan Menperin Tagih Peran Kadin, Ini Agenda yang Disodorkan

Foto ilustrasi investasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah meminta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam memperkuat ekspor dan struktur industri nasional. Permintaan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Keduanya menyambut tawaran bantuan yang disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie. Namun, respons pemerintah tidak berhenti pada penerimaan dukungan. Kedua menteri langsung menyampaikan sejumlah agenda konkret yang diharapkan dapat ditindaklanjuti dunia usaha.

Menteri Perdagangan Budi Santoso secara khusus meminta Kadin membantu meningkatkan jumlah eksportir baru di Indonesia. Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan sejumlah kemudahan bagi pelaku usaha yang ingin memperluas pasar ke luar negeri.

Salah satu fasilitas yang disiapkan Kementerian Perdagangan adalah penerapan sistem Surat Keterangan Asal (SKA) secara otomatis. Sistem tersebut diharapkan membuat proses pengurusan dokumen ekspor menjadi lebih efisien dan sederhana.

"Kalau perjanjian dagang sudah terimplementasi, ya sebenarnya tinggal Bapak-Ibu dari Kadin, karena kami sudah menyiapkan. Tetapi bagaimana juga Kadin dan para pelaku usaha ini mendapatkan kemudahan? Salah satunya yang kita lakukan tadi adalah dengan SKA otomatis tadi," ungkap Mendag Budi Santoso dalam diskusi Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

ITPC Dibuka untuk Bantu Eksportir Mencari Pembeli

Selain mempermudah penerbitan SKA, Kementerian Perdagangan mengoptimalkan kantor perwakilan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara.

Kantor perwakilan tersebut memiliki fungsi membantu eksportir lokal menemukan pembeli atau buyer di pasar internasional. Budi menegaskan fasilitas business matching melalui ITPC dapat dimanfaatkan setiap saat oleh pengusaha yang ingin memperluas jangkauan ekspornya.

Dia meminta pelaku usaha, asosiasi, hingga pemerintah daerah tidak ragu memanfaatkan jaringan kantor perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Bahkan, kesempatan untuk mempelajari pelayanan dan pemasaran global juga dibuka bagi pelaku usaha, mahasiswa, maupun pemerintah daerah. Mereka dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti program magang di ITPC.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mendorong Kadin mereplikasi keberhasilan program pembinaan ekspor. Salah satunya Campuspreneur yang telah melibatkan 25 perguruan tinggi.

Selain itu, terdapat inisiatif pengembangan produk desa yang berhasil menembus pasar internasional. Program-program tersebut diharapkan dapat diperluas untuk melahirkan lebih banyak eksportir baru.

Menperin Dorong Investasi Industri dari Hulu hingga Hilir

Sementara itu, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyoroti pentingnya penyelarasan investasi untuk memperkuat struktur industri nasional. Dia meminta Kadin dan kalangan dunia usaha tidak hanya berfokus pada sektor hilir, tetapi juga memperkuat industri hulu.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah ketertinggalan Indonesia dalam sektor hulu bahan baku farmasi, meskipun sektor hilir dinilai sudah cukup kuat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sarmuji menantang Kadin dan lembaga riset mengembangkan potensi kekayaan hayati lokal menjadi bahan baku industri bernilai tambah.

Komoditas yang disoroti antara lain rumput laut dan sagu. Rumput laut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai superfood sekaligus bahan baku farmasi.

"Kalau kemitraan dengan Kadin dan industri bisa terbangun, tadi kami sudah sampaikan ya peluang-peluangnya, consern kami sudah kami sampaikan, kalau itu disambut saja, itu akan menjadi pertalian yang luar biasa," kata Menperin Sarmuji.

Teknologi CCUS Dinilai Bisa Jadi Sumber Keuntungan

Selain mendorong hilirisasi sektor agro, Sarmuji meminta Kadin membantu menyosialisasikan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, salah satunya Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).

Menurut dia, teknologi CCUS tidak semestinya hanya dipandang sebagai pusat biaya atau cost center. Teknologi tersebut justru berpeluang menjadi pusat keuntungan atau profit center karena dapat menghasilkan produk sampingan yang memiliki nilai ekonomi.

Salah satu produk yang disoroti adalah soda ash. Produk tersebut memiliki nilai jual dan dibutuhkan industri kaca, sementara Indonesia selama ini masih banyak mengimpornya.

Melalui pengembangan teknologi tersebut, pemerintah melihat peluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekaligus memperkuat pasokan bahan baku industri dalam negeri.

Berbagai agenda yang disampaikan dalam Rapimnas Kadin 2026 tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret antara Kadin, kementerian terkait, dunia usaha, dan lembaga riset.

Pemerintah berharap sinergi tersebut tidak berhenti pada pembahasan dalam forum, tetapi dapat dieksekusi di lapangan untuk memperkuat struktur industri dan ketahanan ekonomi nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online