BTPN Jenius Sediakan Pinjaman Siaga

BTPN Jenius Sediakan Pinjaman Siaga Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan
26 November 2018 12:10 WIB Nirmala Aninda Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) kembali meningkatkan layanan nasabah pengguna produk Jenius melalui pengembangan fitur-fitur tambahan sebagai solusi keuangan.

Kali ini BTPN memperkenalkan fitur Flexi Cash. Fitur ini adalah fasilitas pijaman siaga bagi pengguna Jenius yang membutuhkan dana tambahan. Dana tersebut dapat ditarik dan digunakan kapan saja sesuai kebutuhan.

Di samping itu, aplikasi Jenius kini juga dilengkapi dengan fitur e-Wallet Center dan Aplikasi Bisnis.

Digital Banking Value Proposition & Product Head BTPN Irwan Sutjipto Tisnabudi mengatakan, dalam peluncuran perdana Flexi Cash, perseroan hanya menawarkan pinjaman kepada pengguna aktif Jenius terpilih sebagai langkah uji coba.

"Plafon pinjaman yang ditawarkan bervariasi. On average stand by loan sebesar Rp7 juta - Rp8 juta. Dana tersebut dapat ditarik dan digunakan kapan saja sesuai kebutuhan," ujarnya dalam kegiatan #jalan2jenius di Yogyakarta, Jumat (22/11).

Menurut Irwan, konsep pinjaman yang ditawarkan oleh perseroan sangat fleksibel dan memudahkan nasabah dengan pengaturan pinjaman yang serba customer centered.

Nasabah Jenius yang telah mendapatkan penawaran dapat langsung mengaktifkan pinjaman dengan menarik dana siaga dari Flexi Cash hingga Rp50 juta.

Minimum nilai penarikan pinjaman ditetapkan sebesar Rp500.000 dengan minimum cicilan minimal Rp75.000 per bulan dengan bunga pada kisaran 1,75% hingga 2,25%.

"Bunga ini berlaku untuk dana yang dicairkan saja, bukan plafonnya. Jika dibandingkan dengan yang lain, apalagi kartu kredit, tentu jauh lebih rendah," ungkap Irwan.

Meskipun saat ini penawaran masih sangat terbatas, dia menegaskan bahwa perseroan akan membuka fasilitas Flexi Cash kepada seluruh pengguna Jenius.

Sampai dengan kuartal III/2018 BTPN mencatatkan 900.000 pengguna Jenius dan lebih dari 700.000 pengguna aktif dengan rata-rata frekuensi transaksi per hari mencapai 4 juta transaksi.

Irwan menerangkan jumlah total pengguna Jenius mengalami kenaikan hingga 2,5 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu.

BTPN pertama kali meluncurkan aplikasi Jenius pada 2016, investasi digital yang dikeluarkan perseroan sejak 2015 sampai dengan Juni 2018 mencapai Rp2,12 triliun untuk pengadaan infrastruktur digitalisasi layanan perbankan, pengembangan BTPN Wow! dan Jenius.

Lebih lanjut Irwan menuturkan, saat ini BTPN tengah serius menggarap operasional bisnis untuk mencapai skala bisnis ritel yang lebih besar dalam 3-5 tahun ke depan.

Perseroan berencana untuk membuka ketersediaan jaringan layanan berbasis digital seperti Jenius di kota-kota lainnya di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Digital Banking Business Product Head BTPN Waasi B. Sumintardja menjelaskan fitur baru, yakni Aplikasi Bisnis dari Jenius dikembangan melalui proses kreasi bersama para pelaku bisnis dan terintegrasi dengan aplikasi Jenius.

Inovasi baru ini tidak hanya menyediakan sistem pembayaran, pengguna dapat dengan mudah mengelola bisnis melalui fitur untuk memantau ketersediaan barang dan kondisi keuangan usaha.

Dalam aplikasi tersebut para pelaku usaha juga dapat mengakses berbagai kiat-kiat bisnis hingga akses untuk promosi di media sosial langsung dari aplikasi.

"Dengan demikian pelaku bisnis dapat dengan mudah mengelola dan mengembangkan usaha melalui smartphone," ujarnya.

Lebih lanjut Waasi mengatakan versi Beta aplikasi tersebut sudah diluncurkan dengan kurang lebih 200 nasabah Jenius dan secara aktif melakukan workshop dan focus group discussion dengan para pengguna.

Pengguna aplikasi yang menjadi target market Aplikasi Bisnis dari Jenius adalah para pelaku usaha mikro dan kecil dengan tujuan akhir agar para pengusaha ini dapat tumbuh menjadi pelaku usaha menengah.

"Kami ingin memastikan mereka melakukan usaha secara profesional untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi pelaku usaha menengah," kata Waasi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia