Advertisement

Pasar Milenial Menggiurkan buat Bisnis Properti

Ilman A. Sudarwan & Ipak Ayu H.N.
Senin, 26 November 2018 - 15:10 WIB
Laila Rochmatin
Pasar Milenial Menggiurkan buat Bisnis Properti Deretan gedung perkantoran dilihat dari kawasan Gajah Mada, Jakarta, Kamis (25/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA -- Generasi milenial diyakini turut menjadi motor penggerak perekonomian. Meskipun mereka banyak membelanjakan duitnya untuk kebutuhan konsumsi, wisata, dan kuliner, tetapi hal itu ikut memberikan dampak pada ekonomi.

Generasi milenial ke depan juga membutuhkan tempat tinggal. Pemahaman untuk mulai memiliki tempat tinggal perlu diberikan kepada generasi tersebut. Hal itu dinilai menjadi pasar potensial bagi perbankan. Mendorong mereka memiliki tempat tinggal dengan cara kredit ke bank.

Sepanjang tahun ini, perbankan berlomba-lomba menawarkan produk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) kepada generasi milenial. Berbagai promo ditawarkan untuk menarik hati generasi yang disebut-sebut akan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun kedepan.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Milenial memiliki rentang yang cukup panjang, yakni dari usia 21—35 tahun. Bagi perbankan, generasi milenial yang banyak digarap saat ini adalah mereka yang baru bekerja dan akan ingin memiliki rumah pertama.

Dengan karakteristik tersebut, pendapatan mereka per bulan tidaklah besar, sehingga kemampuan mengangsur kredit tidak cukup tinggi. Bank pun menyiasati dengan menawarkan tenor pembiayaan yang cukup panjang untuk meringkankan beban cicilan.

PT Bank CIMB Niaga Tbk. misalnya, yang menawarkan KPR dengan tenor sampai dengan 25 tahun agar lebih sesuai dengan kemampuan milenial. Rata-rata hunian yang ditawarkan berkisar antara Rp350 juta—Rp400 juta dalam bentuk rumah susun atau apartemen.

Direktur Konsumer CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan bahwa KPR dengan tenor panjang tersebut bukanlah produk baru. Perseroan, lanjutnya, telah menawarkan produk tersebut sejak 2 tahun ke belakang.

“Untuk CIMB Niaga, kami sudah lama menyediakan KPR untuk segmen tersebut [milenial] dengan tersedianya tenor KPR sampai 25 tahun. Jadi sebetulnya bukan baru,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (25/11).

Lani sebelumnya mengatakan, pertumbuhan KPR saat ini didominasi oleh pembeli rumah pertama. Sementara itu, segmen KPR untuk hunian dengan ticket size besar untuk tujuan investasi cenderung menurun.

Advertisement

Kendati jumlah pembiayaan tidak besar, Lani menilai hal tersebut membuat pembiayaan KPR untuk milenial menawarkan risiko yang lebih rendah. Pasalnya, tujuan pembeli untuk menjadi tempat tinggal.

“Secara potensi bisnis memang jumlah cukup menarik sehubungan dengan meningkatnya jumlah milenial. Secara risiko juga baik dengan ticket size lebih kecil, primary KPR dan hunian pertama,” ujarnya.

Bank swasta lainnya, seperti PT Bank Central Asia Tbk. juga memiliki program KPR serupa untuk generasi milenial. Tidak hanya memberikan tenor panjang, perseroan memberikan kemudahan lain dalam bentuk angsuran terencana.

Advertisement

“Angsuran awalnya lebih ringan sehingga affordable untuk segmen milenial dan first jobber. Seiring dengan kenaikan income-nya, angsuran tahun berikutnya disesuaikan,” kata EVP Consumer Credit Business BCA Felicia M. Simon.

Dia menguraikan, program KPR itu dirilis perseroan pada 2017. Namun demikian, dia mengatakan bahwa program ini belum memberi kontribusi signifikan karena terbilang masih baru dan perlu pemasaran yang lebih intensif.

Felicia menuturkan, tren menyasar milenial tidak hanya terjadi pada industri perbankan, tetapi juga pada industri properti secara umum. Menurutnya, banyak pengembang yang mulai beralih dan berfokus pada segmen hunian dengan harga terjangkau yang lebih cocok untuk generasi tersebut.

“Developer banyak yang menyasar segmen ini kok, sebagai contoh pada BCA EXPO di ICE BSD [Serpong], ada apartemen mulai Rp300-an juta. Memang lokasinya tidak bisa di tengah kota karena di areanya sudah padat, tidak ada lahan besar yang bisa dikembangkan. Tapi masih di sekitaran Bodetabek,” jelasnya.

Advertisement

Selain bank swasta, bank pelat merah seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga mengeluarkan program serupa untuk milenial dengan nama BNI Griya Gue. Saat ini komposisi BNI Griya bagi milenial sudah mencapai lebih dari 50% dengan tren yang terus meningkat.

Vice President Consumer Lending BNI Egos Mahar menyampaikan, produk perseroan tersebut secara spesifik menyasar milenial dengan rentang usia 25 sampai dengan 30 tahun yang baru bekerja atau first jober.

"Kami juga berupaya mengedukasi milenial untuk ambil langkah berani beli properti di usia muda, makin muda makin baik, biasanya setelah memiliki masa kerja 3 sampai dengan 5 tahun," katanya.

Advertisement

Untuk mengakomodasi penghasilan yang masih kecil, BNI memberikan fasilitas grace period pokok sampai dengan 5 tahun dan jangka waktu kredit hingga 25 tahun. Dengan demikian, angsuran menjadi lebih terjangkau bagi milenial.

Bank pelat merah lainnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. juga menawarkan program KPR serupa dengan nama KPR Gaeesss! Perseroan meringankan uang muka sampai dengan 1% saja untuk nasabahnya, memanfaatkan relaksasi aturan Loan to Value (LTV) Bank Indonesia pada Agustus.

Direktur Konsumer BTN Budi Satria mengatakan, banyaknya bank yang bersaing di segmen ini disebabkan oleh kondisi demografi yang mulai didominasi oleh generasi muda. Perseroan melihat milenial sebagai potensi konsumen pasar keuangan pada masa depan.

“Sehingga jangan hanya melihat size saat ini saja, tetapi mengantisipasi market yang akan berkembang kelak. Mereka yang saat ini merupakan first time jobber kelak akan berpengaruh di masa yang akan datang. BTN sendiri mengantisipasi ini dengan mengenalkan produk yang sesuai dengan kebutuhan segmen tersebut,” jelasnya.

Advertisement

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga merilis produk serupa untuk generasi milenial. Tenor panjang serta cicilan nasabah yang meningkat secara berkala diharapkan dapat memaksimalkan pasar milenial dengan optimal.

Ignatius Susatyo, Consumer Loan Group Head Bank Mandiri menjelaskan, program KPR milenial tersebut saat ini lebih difokuskan untuk menggarap nasabah dengan payroll di perseroan.

Menurutnya, generasi milenial yang memiliki payroll di Bank Mandiri mencapai 300.000 nasabah. Meski demikian, dari jumlah tersebut baru sekitar 20% nasabah payroll yang mengambil KPR di Bank Mandiri.

“Kami melihat segmen ini belum terlalu dimaksimalkan karena kami sebelumnya lebih banyak berfokus pada segmen prioritas, ataupun KPR dengan nilai di atas Rp1 miliar,” katanya.

Advertisement

Dia menuturkan, saat ini KPR untuk hunian dengan harga di atas Rp1 miliar mengalami penurunan pemintaan sampai dengan 30%. Di sisi lain, segmen hunian di bawah harga tersebut meningkat sampai dengan 200%.

Kondisi ini, ungkapnbya, membuat banyak bank mulai bergeser ke segmen KPR milenial, terutama untuk pembeli rumah pertama. Para pengembang papan atas di Tanah Air pun, mulai menyadari kondisi ini dan mulai membangun hunian untuk segmen tersebut.

“Semua developer mulai bergeser ke arah yang sama, Ciputra, Sinarmas, Summarecon, Paramount, grupnya Jaya semua buat rumah di bawah Rp1 miliar. Semua proyek baru mereka, karena mereka melihat pasarnya ada di sana,” jelasnya.

Pemasaran

Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung menilai, maraknya program KPR milenial sebagai tren positif. Namun, dia mengungkapkan masih ada sejumlah sisi yang luput dari pengamatan para bankir untuk menggarap pasar ini secara optimal.

Salah satu hal yang masih kurang adalah mengenai edukasi kepada nasabah mengenai pentingnya memiliki hunian. Dia menilai, kalaupun ada edukasi yang diberikan masih terbatas melalu medium pengantar pesan konvensional yang kurang melekat dengan milenial.

Internet, menurutnya, bisa menjadi kunci perbankan dalam menyampaikan edukasi kepada nasabah. Sejauh ini, dia menilai penetrasi belanja iklan sektor properti di media daring masih sangat minim atau baru mencapai 6% saja.

Dibandingkan dengan negara tetangga, penetrasi tersebut terbilang masih sangat minim. Di Malaysia misalnya, belanja iklan properti sudah mencapai sekitar 20%. Begitu pula di Thailand dan Australia yang sudah mencapai 66%.

"Milenial itu tidak bisa lepas dari internet. Banyak faktor memang yang akan memengaruhi kemauan milenial beli rumah, tapi setidaknya kalau industri properti saja belum sepenuhnya melek internet bagaimana bisa mendorong generasi ini untuk tergerak membeli," ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan perbankan dan regulator tidak bisa lengah dan terlena dengan manisnya pasar properti milenial dan pembiayaannya. Semua pihak, lanjutnya, harus tetap waspada dan menjaga market ini dari serbuan para spekulan investasi.

“Harus hati-hati di segmen ini, banyak instrumen kebijakan yang bisa dilakukan, kemarin kan mengurangi LTV dan pajaknya, sekarang segmen top tier [Rp1 miliar ke atas] ini sangat lesu. Yang besar itu malah itu di segmen bawah, tetap harus dijaga tetap sehat,” tuturnya.

Dia mencontohkan di China saat ini terdapat lebih dari 50 juta apartemen, atau 22% dari apartemen yang ada tidak berpenghuni. Kekosongan tersebut disebabkan oleh aksi para spekulan yang membeli hunian tersebut dengan tujuan investasi.

Kondisi tersebut berimbas pada calon pembeli rumah pertama. Mereka tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli hunian tersebut dari para pemiliknya karena harga sudah melambung tinggi. Akhirnya, banyak muda-mudi di negeri tersebut yang masih tinggal di rumah mertua atau orang tuanya.

“Kebijakan kemarin sudah sangat bagus kemarin, LTV diturunkan, properti ini bahayanya kalau dia booming, jadi bubble, kalau kolaps itu pulihnya lama sekali. Memang mereka, pengembang, harusnya juga sadar,” ujarnya.

Ignatius Susatyo pun tidak menyangkal saat ini cukup banyak spekulan yang memanfaatkan pasar milenial untuk berinvestasi. Namun, menurutnya, saat ini jumlahnya tidak terlalu banyak dan mereka lebih diarahkan untuk membeli properti non-hunian seperti rumah toko.

Tentu potensi pasar milenial sangat menggiurkan dengan tetap memperhatikan tingkat kehati-hatian.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Imperial Digital Printing, Jasa Percetakan Terlengkap di Jogja

Jogja
| Selasa, 27 September 2022, 22:57 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement