Advertisement

Suku Bunga Tak Sampai Dua Digit, Properti Masih Menarik

Rheisnayu Cyntara
Senin, 26 November 2018 - 10:30 WIB
Mediani Dyah Natalia
Suku Bunga Tak Sampai Dua Digit, Properti Masih Menarik Ilustrasi perumahan. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Bisnis properti masih terdampak sentimen negatif akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi sejak awal tahun. Namun sebagian pengembang menganggap hal itu belum terlalu berpengaruh karena suku bunga perbankan belum mencapai dua digit.

Direktur Ciputra Group, Agung Krisprimandoyo mengakui bisnis properti akan sangat terpengaruh oleh nilai tukar rupiah, naik turunnya harga atau inflasi, dan tingkat suku bunga yang ditentukan oleh perbankan. Jika nilai tukar rupiah masih saja melemah seperti saat ini maka perbankan akan mengambil langkah penyesuaian dengan menaikkan suku bunga perbankan dan akan berpengaruh pada kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Namun Agung menyebut hingga kini kenaikan suku bunga masih belum signifikan karena belum mencapai dua digit.

"Karena suku bunga belum dua digit, secara psikologis masih menarik bagi konsumen. Memang dengan kondisi sekarang ini konsumen cukup sensitif hanya saja pengaruh pada pembelian, belum signifikan," katanya, Sabtu (24/11).

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Di samping itu, Agung mengatakan beberapa bank besar yang bekerja sama dengan Ciputra Grup juga belum memgambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga hingga saat ini. Skema kerja sama inilah yang menguntungkan bagi Ciputra Grup karena harga propertinya masih stabil. Ia mencontohkan proyek terbarunya Barsa City yang sudah terjual 50%. Agung menyebut hal itu menunjukkan investasi hunian vertikal saat kondisi ekonomi seperti saat ini masih diminati. Meskipun mayoritas masih dibeli oleh investor, bukan end user.

Ketua DPR REI DIY Rama Adyaksa Pradipta mengakui terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar berimbas pada penjualan properti. Karena suku bunga KPR yang naik akan terasa imbasnya pada masyarakat yang akan membeli properti. Padahal menurut Rama, pengembang biasanya menggenjot penjualan di akhir tahun karena pasar properti tengah ramai. "Jogja ini ramai pembelian properti malah saat liburan, seperti libur akhir tahun," ucapnya.

Namun di tengah ketidakpastian seperti saat ini, pihaknya belum dapat memprediksi penjualan properti akan mencapai berapa persen hingga akhir tahun nanti. Meskipun hingga kini Rama menyebut belum terjadi kenaikan suku bunga KPR yang signifikan, tetapi pasar properti terasa lesu karena masyarakat memilih untuk menunda pembelian.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Ratusan Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Terima Beasiswa Pendamping PKH

Sleman
| Minggu, 25 September 2022, 23:37 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement