Produk Lokal Belum Penuhi Kebutuhan Pasar

Produk Lokal Belum Penuhi Kebutuhan PasarMenteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan ucapan selamat kepada pemilik OMO! Healthy Snack yang meraih penghargaan juara satu Maker Fest 2018 dalam kunjungan ke pusat produksi OMO di Sinduadi, Mlati, Sleman, Kamis (27/12). - Harian Jogja/Desi Suryanto
28 Desember 2018 08:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Serbuan produk-produk impor ke pasar Indonesia salah satunya disebabkan ketidakmampuan produk lokal memenuhi kebutuhan pasar. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito saat mengunjungi rumah produksi OMO! Healthy Snack di Jalan Magelang Yogyakarta, Kamis (27/12).

Enggar mengaku pemerintah tak dapat menyetop masuknya produk-produk impor tersebut. Pasalnya hal itu terkait dengan perjanjian dagang antarnegara. Jika Indonesia melarang produk impor masuk, maka bukan tidak mungkin negara lain juga kan menyetop pasokan produk ekspor dari Indonesia. Hal itu tentu saja malah akan merugikan kedua belah pihak. “Kita selama ini kalah dengan produk impor memang iya. Sebabnya kita tak punya produknya di sini,” katanya.

Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan, menurut Enggar dengan mendorong produk-produk lokal yang berkualitas dan mempunyai potensi besar untuk dapat menggeser serbuan produk impor ke Indonesia. Salah satunya OMO! Healthy Snack yang berhasil menjuarai kompetisi bisnis kreatif yang diadakan oleh Tokopedia. OMO! merupakan camilan sehat yang diperuntukkan anak umur di atas setahun. Enggar menyebut produk home industry semacam inilah yang harus dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar.

Jika sudah dapat meningkatkan produksi sehingga masuk dalam kategori industri besar, bukan tidak mungkin produk impor serupa akan kalah. Artinya akan ada ketahanan produk yang mampu dipenuhi oleh produk lokal. Oleh sebab itu, Enggar berjanji akan mempermudah perizinan yang harus diurus oleh OMO! sebagai salah satu syarat untuk masuk ke pasar yang lebih besar, salah satunya izin dari BPOM. “Saya punya kepentingan untuk mendorong produk lokal merebut pasar produk impor agar devisa kita bertambah dan neraca perdagangan kita tidak terganggu. Kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Selain itu, saya harap kiprah OMO! ini juga akan merangsang para UMKM lainnya untuk mau berkembang,” ujarnya.

Enggar menuturkan saat ini kekurangan utama para UMKM adalah kurang berinovasi. Mereka lebih senang meniru kesuksesan produk yang sudah ada dengan menciptakan produk serupa. Padahal seharusnya mereka harus bisa membuat produk orisinil dengan pengetahuan dan pengetahuan mereka sendiri. Apalagi menurutnya pasar Indonesia masih sangat terbuka lebar. Masih banyak produk yang dibutuhkan masyarakat namun hingga saat ini masih dikuasai oleh produk impor.

Enggar menyebut OMO! merupakan salah satu contoh produk lokal yang baik. Menggunakan bahan-bahan lokal seperti telur dan tepung gluten free, produk ini juga sangat memperhatikan kandungan gizi di dalamnya. Namun Enggar mendorong promosi dan produksi untuk terus ditingkatkan. Ia juga berjanji untuk membantu produk ini untuk masuk ke dalam pasar yang lebih besar yakni ritel modern.

Founder OMO! Healthy Snack, Stella Elvina Winoto mengaku produk ini bermula dari kegelisahannya akan minimnya camilan anak yang sehat dan mengandung gizi yang cukup. Padahal kedua anak kembarnya suka ngemil sejak umur enam bulan. Oleh sebab itu, ia lantas mengandeng co-founder lainnya termasuk ahli gizi untuk membuat resep cemilan keluarga yang 100% gluten free dan tanpa tambahan gula maupun garam.