Bank Diminta Optimalkan Kredit untuk UMKM

 Bank Diminta Optimalkan Kredit untuk UMKMIlustrasi uang. - Bisnis/ Dwi Prasetya
24 April 2019 04:37 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peranan yang besar dalam menopang perekonomian DIY. Untuk meningkatkan kapasitas UMKM, penyaluran kredit kepada UMKM perlu dioptimalkan.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengatakan dari sisi perbankan, penyaluran kredit UMKM oleh perbankan DIY mencapai Rp15,422 miliar atau setara dengan 41,15 % dari penyaluran kredit perbankan di DIY disalurkan kepada UMKM.

"Penetrasi perbankan kepada UMKM dapat dioptimalkan, diimbangi dengan usaha memperbaiki kredit berkualitas nonlancar yang tercatat 3,86 persen [NPL UMKM - bruto]," kata dia, Selasa (23/4/2019).

Ia menjelaskan kinerja perekonomian DIY pada tahun 2018 tumbuh sebesar 6,20% (yoy), tumbuh melesat dibandingkan tahun 2017 yang tercatat sebesar 5,26% (yoy). Dari sisi permintaan, pencapaian tersebut ditopang oleh investasi sejalan dengan proyek multiyears yang dilakukan selama 2018.

Sementara, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan didorong oleh lapangan usaha kontruksi, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi serta transportasi dan pergudangan yang memiliki andil terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2018 tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh sebesar 5,17% (yoy).

Hilman memaparkan pertumbuhan ekonomi DIY triwulan I tahun 2019 diperkirakan terus berlanjut, tumbuh terakselerasi oleh peningkatan konsumsi dan investasi. Stabilitas keuangan daerah di DIY berada pada tingkat yang terjaga, tercermin dari sektor korporasi dan rumah tangga yang masih kuat.

Pada sektor korporasi, proyek strategis nasional yang mulai digarap menimbulkan efek positif bagi iklim usaha di DIY. Hal tersebut mendorong beberapa sektor korporasi untuk melakukan ekspansi. Sementara, dari sisi rumah tangga, daya beli masyarakat masih baik meskipun melambat. Dari sisi perbankan, peningkatan suku bunga acuan masih belum berpengaruh signifikan terhadap suku bunga simpanan maupun suku bunga pinjaman.

Stabilitas Perbankan

Kuatnya sektor korporasi dan sektor rumah tangga turut ditopang oleh stabilitas perbankan. Sebagai sektor yang memegang peran intermediasi, kinerja perbankan dianggap vital bagi perekonomian DIY maupun nasional. Secara tahunan kinerja perbankan posisi Maret 2019, baik dari sisi pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,13% (yoy) maupun DPK tercatat sedikit melambat dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya. Namun, ketahanan perbankan dinilai masih cukup baik, baik dengan risiko likuiditas maupun risiko kredit yang terjaga.

Ia menjelasan intermediasi perbankan DIY terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari indikator LDR yang mengalami peningkatan menjadi 64,17% pada Maret 2019, menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Walaupun LDR perbankan DIY meningkat, tetapi tingkat intermediasi tersebut masih masuk dalam kategori rendah.

Dalam satu sisi, hal tersebut menjadi negatif karena ketidakefisienan perbankan dalam penyaluran kredit. Namun, di sisi lain perbankan mempunyai ruang yang cukup lebar untuk menjaga likuiditasnya, seiring dengan sumber pendanaan yang oleh dana likuid. Secara neraca, porsi LDR yang masih rendah memungkinka perbankan di DIY untuk menyalurkan kredit lebih tinggi lagi.