Hyundai Stargazer Siap Mengaspal di Jogja
Hyundai Stargazer resmi hadir di Jogja, setelah sebelumnya diluncurkan oleh PT Hyundai Motors Indonesia (HMID)
Maman (kiri) dan rekannya Nurjaya (kanan) saat ditemui di Festival Kebudayaan Yogyakarta, Kamis (18/7)./ Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, JOGJA—Bermula dari kecintaan pada bunga, tanaman, hutan dan alam menumbuhkan ide Riyogo Dhimesworo Hadiwijaya atau yang akrab disapa Maman mengembangkan Nyata Resin & Flower Art.
Selain kecintaannya pada bunga, Maman mengaku handmade ini mengingatkan pada almarhum ibunya yang juga suka bunga. Dari sinilah ia memulai untuk meneliti kerajinan resin dan bunga. Singkat cerita, dia mencoba resin untuk mengawetkan bunga. Namanya saja percobaan, tentu kegagalan saat merintis menjadi karib. Saat itulah dia bertemu dengan rekannya, Nurjaya.
Selain itu, duo rekanan ni juga harus memperhatikan masalah bahan. Sebab resin yang dibeli di toko kimia, belum tentu memiliki kualitas yang sama. Jika tak cermat, saat resin dicampur dengan katalis, suhunya akan menjadi lebih tinggi. Alhasil bunga yang ada di dalam rusak. Proses uji coba, kata dia, dilaluinya selama dua tahun. Pada titik inilah Maman dapat membuat tanaman bunga yang ada tetap segar.
Maman mengatakan ada dua cara dalam pembuatan aksesori. Pertama dengan cetakan, hanya tinggal mencampur katalis dan resin. Kedua manual, katalis dan resin dicampur kemudian setelah keras diparut dengan pisau dan dibentuk sesuai yang diinginkan kemudian finishing. “Awalnya bingung juga mau dibuat apa, terus coba dibentuk dibuat aksesori saja,” ujar Maman, Kamis (18/7).
Dari berbagai proses dan pengalaman yang ia jalani, produk-produk yang dihasilkan Nyata Resin & Flower Art berkisar kalung, cincin, gelang, tusuk konde, dan berbagai produk lain. Sedangkan harga yang dilepas berkisar Rp50.000-Rp200.000 dengan garansi seumur hidup. “Selama rusak tidak disengaja,” katanya.
.jpg)
Berbagai Jenis Bunga
Maman sengaja memilih nama Nyata pada ruang usahanya lantaran ingin menghadirkan keaslian dari bunga yang ada. “Ambil nama Nyata ya nyatanya seperti itu tidak kita ubah warna bentuknya, di luar sana ada bikin warna-warna. Kami enggak mau, nyatanya gini warnanya gini bentuknya gini saja,” ucapnya.
Sementara waktu ini, Nyata Resin & Flower Art baru menggunakan bunga Anaphalis javanica Edelweis. Tentu saja, kata dia, bunga itu diperolehnya secara legal. Bukan memetik sendiri di daerah pegunungan. Ke depan, dia menggunakan bunga jenis lain yang belum popular sebagai bahan dasar. Langkah ini diambilnya untuk memperkenalkan bermacam-macam bunga itu.
Selain jenis bunga, Maman juga berencana mengembangkan ragam produk. Misalnya saja peralatan makan maupun memasak. Diversifikasi produk ini diharapkan dapat memberikan pilihan tambahan bagi pasar.
Pasar Internasional
Menggunakan media sosial, Instagram @nyataindonesia, dagang elektronik (dagang-el) Moselo serta jejaring kawan, produk-produk tersebut dipasarkan secara offline dan online. Hasilnya, Nyata Resin & Flower Art tak hanya dikenal di dalam negeri. Bahkan, Maman mengaku pasar luar negeri dirasa lebih prospek, meski sejumlah tantangan masih dihadapinya. Menurut dia, hal ini dilatarbelakangi pasar internasional yang lebih menghargai nilai artistik suatu produk.
Dari sekian negara, Turki dan Filipina menjadi negara yang paling banyak berminat pada produk Nyata Resin & Flower Art. Adapun Turki dirasa menjadi salah satu negara yang potensial untuk memasarkan berbagai kerajinan, selain Amerika dan negara di Eropa.
“Pasar luar negeri lebih menjanjikan. Negara sana [luar negeri] “gila” handmade dan Indonesia gudang handmade tetapi orang lokal enggak bisa menghargai handmade, tetapi tidak semua juga ya,” katanya.
Ia berharap ke depan tetap konsisten untuk berkarya. Di sisi lain, dia menginginkan pemerintah mempermudah perajin atau pengusaha untuk mengekspor produk-produknya. Sebab patut diakui meski produk yang dimiliki berkualitas dan berprospek besar tetapi pemasaran tersebut sulit untuk dilakukan.
“Pemerintah bisa membantu bagaimana cara terbaik keluar [ekspor] dengan aturan untuk menekan biaya kirim. Wirausaha muda seperti kami, crafter indie sudah siap ditaruh di luar, tetapi regulasi belum siap kayak pengiriman mahal, terus kesulitan kirim negara besar. Jadi bukan hanya masalah modal, workshop, tetapi secara hukum regulasinya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hyundai Stargazer resmi hadir di Jogja, setelah sebelumnya diluncurkan oleh PT Hyundai Motors Indonesia (HMID)
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.