Respons Operasi Pasar di Jogja Rendah, Ada Apa?

Respons Operasi Pasar di Jogja Rendah, Ada Apa?Aktivitas jual beli di operasi pasar murah yang dilaksanakaan di depan Kantor Dinas Perdagangan Bantul, Jumat (25/5/2018). Sebagian besar pembeli adalah kalangan PNS. - David Kurniawan/Harian Jogja
21 Agustus 2019 09:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Respons masyarakat terhadap operasi pasar (OP)  yang dilakukan Disperindag DIY rendah.

“Respons rendah  sekali. Berarti sudah bagus, warga tidak kesulitan beras,” kata Kepala Seksi Pengawasan Perdagangan, Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Disperindag DIY, Sabar Santosa, Selasa (20/8).

Pada hari pertama atau Senin (19/8), OP yang dilakukan di Dusun Giriloyo, dan Dusun Pucung, Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul menjual 55kg beras. Dari Total yang disediakan 36 ton.

Meski respons rendah, OP terus dilakukan. Sebab OP bersifat mengantisipasi kenaikan harga memasuki musim kemarau. 

Di Kecamatan Imogiri, Bantul, OPi digelar di Desa Sriharjo, dan Karangtengah pada Selasa (20/8). Terakhir Desa Girirejo pada Rabu (21/8). “Kemungkinan minggu depan Gunungkidul, akan banyak responnya,” ujarnya.

Harga yang dijual pada OP tersebut untuk beras medium yaitu Rp8.100/kg. Sementara di pasaran untuk beras IR 1, Rp9.800/kg dan IR 2 yaitu Rp9.500/kg. “Masih stabil di pasar juga harganya,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala BULOG Divre DIY, Rini Andrida mengungkapkan upaya untuk penstabilan harga beras khususnya terus dilakukan, dengan upaya ketersedian pasokan dan stabilisasi harga (KPSH).

KPSH bermacam-macam salurannya, dapat melalui rumah pangan kita (RPK), upaya mendekatkan titik transaksi dengan masyarakat, kemudian memasok di pasar-pasar mitra, dan berbagai saluran lainnya.

“Prinsipnya KPSH atau OP bertujuan memudahkan akses pangan masyarakat sehingga harga pangan stabil,” kata Rini.