KERAJINAN MODUST: Ubah Limbah Kayu Menjadi Boneka Kayu Mini

KERAJINAN MODUST: Ubah Limbah Kayu Menjadi Boneka Kayu MiniHasan Agus Wiratomo dan Diani Irdaryolita./ Ist. - Modust
28 Maret 2020 11:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Terinspirasi dari Kokeshi doll atau boneka-boneka kayu di Jepang. Hasan Agus Wiratomo dan Diani Irdaryolita, mengembangkan kerajinan boneka kayu berukuran mini.

Diani Irdaryolita atau yang kerap disapa Irda menceritakan awal usaha ini muncul karena pengembangan dari hasil kuliah dari salah satu pemiliknya, Hasan Agus Wiratomo. Hasan merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja yang fokus pada Seni Patung. Kemudian pada Oktober 2016, dia berbisnis miniatur buatannya yang terinspirasi dari boneka-boneka kayu di Jepang Kokeshi doll. “Kemudian 2017 bergabung dengan saya yang juga punya usaha kerajinan untuk anak-anak. Berdua menggelar lapak bersama di Sunday Morning UGM,” kata Irda, Jumat (27/3).

Pada Juli 2019, setelah berhasil menjadi salah satu pemenang dari lomba Innovating Jogja, Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mereka berdua mendapat arahan dan motivasi untuk mengembangkan karya yang diberi nama Modust sehingga lebih bercita rasa Nusantara Indonesia. Modust dalam konsep baru yang lebih terarah lahir kembali pada 25 Juni 2019, sesuai tanggal penetapan legalitas Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK).

“Modust berasal dari kata Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti maksud tersembunyi atau cara, kata kerja yang mengungkapkan suasana kejiwaan sehubungan dengan perbuatan. Modust adalah solusi untuk mengungkapkan rasa sayang, hormat, terima kasih, suasana jiwa bahagia kepada orang lain dalam bentuk kado, hadiah, suvenir, bingkisan, oleh-oleh, dan lain-lain,” ujarnya.

Dia menyampaikan dalam usaha ini juga ada tantangan atau kesulitan tersendiri. Misalnya, pada manajemen, karena pada dasarnya mereka berdua hanya suka berkerajinan tanpa kemampuan berpikir secara ekonomi atau kemampuan mengelola. Pelan-pelan mereka berdua mulai bergabung di instansi-instansi pemerintahan untuk belajar mengelola keuangan, harga, tim hingga mengubah mindset dari perajin menjadi pengusaha. “Alhamdulillah itu semua saat ini terfasilitasi dengan baik, gratis dari pemerintah,” katanya.

Menurut dia, sistem penjualan dilakukan berdasarkan pemesanan. Modust hampir tidak memiliki ready stock. Jikapun ada, biasanya itu untuk request yang dirasa unik, dan akan dibuat lebih sebagai contoh hasil karya. Mayoritas pemesanan melalui Whatsapp dan marketplaces. Pembeli biasanya memilih bentuk atau contoh yang dipajang di Instagram @modustmodust dan marketplace, kemudian kirim foto gambar yang diinginkan. Setelah itu mereka akan membuatkan sketsanya dan disetujui, baru proses pembuatan. Tidak butuh waktu lama. Rata-rata untuk satu buah boneka dan frame bisa diselesaikan dalam waktu dua hari. Meski begitu, terkadang ada pula pesanan-pesanan tertentu yang keluar dari bentuk boneka yang sudah ada. Prosesnya akan lebih lama daripada bentuk yang biasa telah dibuat, sekitar empat-lima hari.

“Banyak juga pesanan lain, selama itu masih berbahan dasar kayu dan berukuran kecil, Insyaallah kami sanggup, karena material kami adalah kayu jenis apapun, potongan-potongan sisa industri [limbah kayu],” ucapnya.

Untuk harga mulai dari suvenir kecil bisa dimulai dari harga Rp8.000, sementara boneka kayu mulai dari Rp35.000/boneka dan ada harga grosir. Namun, dia menuturkan harga tersebut bisa dinegoisasikan bersama. Guna mengenalkan merek usaha lebih luas, dia pun mengikuti berbagai pameran. Baik yang dimulai dari yang bekerja sama dengan dinas kabupaten/kota, kementerian, maupun komunitas.

Dia berharap usahanya dapat berjalan sesuai visi, menjadi perusahaan suvenir dari limbah kayu di Indonesia yang berjiwa budaya Indonesia, dari dan untuk Indonesia, khususnya Jogja. “Material asli Indonesia. Dikerjakan oleh seniman dan ahli kayu lokal Jogja. Menggerakkan perekonomian sejahtera untuk lokal Jogja,” ujarnya.