Mc Donald’s Sarinah Tutup, Ini Kata Manajemen

Mc Donald’s Sarinah Tutup, Ini Kata Manajemen Pengunjung berkeliling MCD Sarinah yang sudah kosong di Jakarta, Jumat (8/5)./JIBI/Bisnis Indonesia - Abdurachman
08 Mei 2020 22:27 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Berhentinya operasional gerai McDonald's Sarinah pada 10 Mei mendatang tak lepas dari rencana pengelola gedung, PT Sarinah (Persero), untuk merenovasi pusat perbelanjaan pertama di Indonesia tersebut.

Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Gusti Ngurah Putu Sudiarta Yasa mengemukakan rencana renovasi tersebut sejalan dengan tranformasi bisnis yang akan dieksekusi perusahaan. Jika tidak ada aral melintang, Ngurah mengatakan renovasi dimulai seusai Idulfitri. " Kami rencanakan sejak tahun kemarin dan terus berproses. Sudah dapat persetujuan dari pemegang saham terbesar kami yakni Kementerian BUMN, jadi kami percepat. Kalau sesuai timeline setelah lebaran kita bisa mulai renovasi," kata Ngurah kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Jumat (8/5).

Ketika ditanyai mengenai alasan menjalankan transformasi di tengah pandemi Covid-19, Ngurah mengatakan manajemen meyakini bahwa tren berkunjung ke pusat perbelanjaan akan terimbas kondisi seusai pandemi. Dia mengatakan akan ada pandangan berbeda mengenai kondisi normal atau yang umum disebut The New Normal.

"Kami tentunya sangat yakin akan ada kondisi normal yang baru alias new normal. Kami ingin mempersiapkan sedini mungkin untuk penyesuaian," ujarnya.

Dia menjelaskan kondisi normal baru tersebut bakal membuat bisnis pusat perbelanjaan akan lebih berorientasi digital. Karena itu, Ngurah menyebutkan gedung Sarinah nantinya bakal mengusung konsep smart building dan green building. "Kami ingin platform digital ini pun sesuai dengan generai sekarang," lanjutnya.  

Belanja Daring

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja membenarkan Covid-19 telah membuat kegiatan belanja daring meningkat drastis. Kendati demikian, disrupsi dagang elektronik terhadap usaha pusat perbelanjaan sendiri disebutnya telah terjadi jauh sebelum pandemi terjadi. "Yang membedakan penetrasi belanja daring sekarang lebih masif. Namun diperkirakan juga tidak terjadi pada semua jenis barang," kata Alphonsus kepada JIBI.

Dalam menghadapi The New Normal , Alphonsus menyatakan pengusaha pusat perbelanjaan dihadapkan pada tantangan untuk menyediakan fasilitas yang mengedepankan suasana yang sehat. Bagaimanapun, katanya, pusat perbelanjaan tetap diperlukan bagi masyarakat sebagai lokasi untuk berinteraksi. "Pusat Perbelanjaan masih akan diperlukan oleh pengunjung, terutama untuk berinteraksi secara langsung satu sama laindalam suasana yang berbeda. Yakni bukan dalam dunia maya," ujarnya. 

Sumber : Bisnis Indonesia