Aktivtas MICE di Hotel Mulai Bergeliat

Aktivtas MICE di Hotel Mulai BergeliatKetua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, saat memaparkan SOP hotel dan restoran, dalam kegiatan yang digelar Asita DIY, di Grand Keisha, Sabtu (11/7/2020). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo\\n
12 Juli 2020 13:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Aktivitas meeting yang dilakukan di hotel menjelang new normal mulai menggeliat. Selain meeting, sejumlah kegiatan juga diharapkan dapat dilakukan di hotel, sehingga dapat menghidupkan hotel dari sisi meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Singgih Raharjo mengatakan secara umum aktivitas pariwisata mulai mengalami peningkatan setelah dilakukan uji coba terbatas objek wisata, dan bukanya kembali hotel dan restoran.

“Pariwisata setelah ada uji coba, hotel dibuka memang menjadi angin baik. Terlihat pergerakan wisatawan, tidak hanya dari DIY, tetapi juga sekitar DIY. Meski begitu SOP [standar operasional prosedur] protokol harus jadi perhatian utama,” kata Singgih, Sabtu (11/7/2020).

Singgih mengatakan untuk MICE pihaknya berharap, baik dari Pusat, BUMN, swasta dapat mengeglar MICE di hotel. Tentu saja aktivitas itu tetap digelar dengan protokol kesehatan yang ketat. Dengan begitu, dia berharap perekonomian kembali bisa digerakkan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan aktivitas wisata sudah mulai menggeliat, termasuk hotel maupun restoran. “Kegiatan meeting juga sudah ada, sedikit lega kami, tetapi jangan terlena, dalam arti protokol tetap dijaga,” kata Deddy.

Deddy juga berharap kegiatan pemerintah, maupun swasta sudah dapat dilakukan di hotel, ada akses yang lebih mudah untuk kunjungan ke DIY. Saat ini, dari 400-an anggota PHRI sudah ada 120 yang beroperasi kembali, dengan protokol pencegahan Covid-19.

Sejumlah kendala pun diakui oleh Deddy, masih dihadapi pelaku wisata khususnya hotel dan restoran. Seperti halnya pemantauan untuk pelaku wisata yang tidak tergabung dalam PHRI. “Kendala kami homestay, penginapan, hotel yang belum bergabung dengan PHRI, bagaimana pengawasannya. Kalau berjalan, tanpa ada protokol, jika ada masalah atau kejadian nantinya akan merugikan semuanya,” ucapnya.

Dia mengatakan untuk mengatasi hal tersebut direncanakan pada Senin (13/7), akan dilakukan pembahasan dengan Dispar Jogja secara daring, bersama dengan kecamatan. Nantinya diharapkan pihak kecamatan dan memberi arahan pada hotel dan restoran yang ada di wilayahnya.