Ini Bukti Nyata Indonesia Terjangkit Resesi

Ini Bukti Nyata Indonesia Terjangkit ResesiKonsumen di satu gerai supermarket di Purwokerto, Minggu (28/7). - BISNIS.COM
07 Oktober 2020 12:07 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari enam bulan berdampak pada bidang ekonomi. Resesi ekonomi di Indonesia dipastikan terjadi pada kuartal ketiga tahun ini.

Tanda-tanda ini semakin kuat ketika Bank Indonesia (BI) baru saja merilis survei konsumen, Rabu (6/10/2020). Survei BI ini melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2020 kembali turun menjadi 83,4, dari Agustus lalu sebesar 86,9.

Indeks yang di bawah 100 tersebut menunjukkan keyakinan konsumen terhadap perbaikan kondisi ekonomi, baik saat ini maupun 6 bulan mendatang, masih berada dalam zona pesimis.

Baca juga: OJK Didorong Buat Aturan SDM Perbankan untuk Antisipasi Dampak UU Cipta Kerja

Pada awal Januari 2020, IKK masih tercatat sebesar 121,7. IKK ini terus mengalami tren penurunan hingga penurunan terdalamnya terjadi pada Mei 2020, yang tercatat menjadi 77,8.

IKK sempat meningkat pada Juni dan Juli 2020, masing-masingnya menjadi 83,8 dan 86,2, dan terjadi peningkatan tipis pada Agustus 2020 menjadi sebesar 86,9. Namun, kembali turun pada September ini.

BI menyebut penurunan IKK pada September 2020 terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran, terutama pada responden dengan pengeluaran Rp3, Rp1-4 juta per bulan.

Baca juga: Harga Cabai di DIY Merangkak Naik

"Tertahannya perbaikan keyakinan konsumen terjadi pada seluruh kategori responden, baik menurut tingkat pengeluaran maupun kategori kelompok usia," tulis BI dalam laporannya, Selasa (6/10/2020).

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan IKK yang menurun ini menunjukkan kondisi daya beli konsumen yang sangat tertekan atau tendensi masyarakat untuk menahan belanja.

Data IKK tersebut sejalan dengan tren mobilitas masyarakat. Penurunan sudah mulai terlihat sejak Februari 2020 dan hingga saat ini belum menunjukkan adanya perbaikan.

Dia mengatakan, persepsi konsumen merupakan faktor terbesar terjadinya kontraksi ekonomi. Berdasarkan salah satu analisis yang dilakukan di Amerika Serikat, pengetatan aktivitas ekonomi yang diterapkan di sejumlah negara bukanlah faktor yang paling signifikan, melainkan persepsi konsumen tersebut.

Kondisi pesimistis konsumen yang masih terjadi saat ini dikarenakan adanya satu faktor risiko, yaitu Covid-19, yang belum tertangani dengan baik. Situasi ini menyebabkan konsumsi masyarakat menjadi tertahan.

"Di Indonesia juga sama, PSBB jilid I dan II memang berpengaruh, tapi yang jauh lebih dominan adalah faktor risiko, tingkat kasus positif dan tingkat kematian Covid-19. Ini menyebabkan konsumen tidak terlalu yakin terhadap perbaikan ekonomi," jelasnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menjelaskan konsumsi masyarakat yang tertahan pun sangat berkaitan dengan sisi produksi.

Konsumsi masyarakat yang menurun juga mempengaruhi penurunan dari sisi produksi. Hal ini tercermin dari penurunan PMI manufaktur pada September 2020 menjadi 47,2, dari sebelumnya 50,8 pada Agustus 2020.

"Artinya sisi produksi mengikuti tingkat konsumsi. Ke depan, ini akan meningkatkan ketidakpastian pemulihan ekonomi karena tadinya kita berpikir kita sudah mlewati tahapan terburuk di kuartal II/2020," jelas Faisal.

Adapun, BI juga mencatat Indeks Kondisi Ekononomi (IKE) saat ini masih berada pada zona pesimis, yaitu sebesar 54,1, lebih rendah dari 55,6 pada bulan sebelumnya. Indeks ini pun jauh dari angka 100.

Selain itu, ekspektasi masyarakat terhadap perbaikan ekonomi tercatat melemah, meski masih berada dalam zona yang positif.

Indeks Ekspektasi kondisi ekonomi (IEK) pada September 2020 tercatat pada posisi 112,6, lebih lebih rendah dibandingkan dengan Agustus 2020 yang sebesar 118,2.

"Konsumen memprakirakan ekspansi kondisi perekonomian pada 6 bulan ke depan masih terbatas, baik dari aspek kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan peningkatan penghasilan," tulis BI.

Beberapa indikator IEK, seperti ekspektasi konsumen terhadap perkembangan kegiatan usaha ke depan tidak sekuat bulan sebelumnya, tercermin dari indeks ekspektasi kegiatan usaha sebesar 106,4 pada September 2020, lebih rendah dari Agustus 2020 yang sebesar 115,5.

Indikator lainnya, ekspektasi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang juga terpantau lemah.

Indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja pada September 2020 menurun dari 114,4 menjadi 109,2. Penurunan ini terjadi terutama pada kelompok pascasarjana.

Sejalan dengan itu, indikator ekspektasi konsumen terhadap adanya kenaikan penghasilan dalam 6 bulan ke depan juga menurun.

Hal ini terindikasi dari indeks ekspektasi penghasilan yang menurun dari 124,7 pada Agustus 2020 menjadi 122,2 pada September 2020.

Penurunan terjadi pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp1 hingga 4 juta per bulan. Sementara berdasarkan kategori usia, penurunan terdalam terjadi pada mayoritas kelompok usia, terutama responden berusia 60 tahun ke atas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 akan tumbuh negatif di kisaran -1 persen hingga -2,9 persen. Adapun, keseluruhan tahun dia mengungkapkan ekonomi Indonesia akan berada di posisi minus dalam kisaran -1,7 persen hingga -0,6 persen.

"Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III," ujar Sri Mulyani akhir bulan lalu (22/9/2020). 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengungkapkan Indonesia sudah masuk resesi, dimana resesi sudah terjadi sejak awal kuartal I/2020.

"Ini sudah jelas resesi, tetapi dalam menilai resesi ini penting untuk melakukan perbandingan yang fair," kata Febrio dalam media briefing virtual dengan BKF, Kamis (1/10/2020).

Sumber : Bisnis.com