Proyek PSEL Piyungan Akan Buka Peluang 1000 Lowongan Kerja
Proyek PSEL Piyungan senilai Rp2,5–3 triliun diproyeksikan menyerap hingga 1.000 tenaga kerja dengan prioritas pekerja lokal.
Ilustrasi suasana aktivitas di pelabuhan yang menjadi salah satu pelabuhan kelolaan PT Pelindo Regional 4 di kawasan Timur. Antara/ HO-Pelindo Regional 4\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat ekspor DIY Januari-April 2025 mencapai 175,97 juta dolar AS melonjak 11,27% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 158,15 juta dolar AS.
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan andil utama peningkatan ekspor ini disumbang oleh sektor industri pengolahan mencapai 99,31% atau 174,75 juta dolar AS terhadap 175,97 juta dolar AS. Perkembangan nilai ekspor pada industri pengolahan mengalami kenaikan 11,24%.
Dia menjelaskan perkembangan nilai ekspor menurut negara atau kawasan tujuan terbesar pertama adalah Amerika Serikat mencapai 72,93 juta dolar AS selama tahun 2025, Uni Eropa 47,52 juta dolar AS, Jerman 22,25 juta dolar AS, disusul Jepang 15,48 juta dolar AS.
Menurutnya jika dilihat pertumbuhan secara tahunan pada April 2025 pertumbuhan industri mencapai 13,13%. Kemudian pertanian justru mengalami penurunan 0,60%.
"Nilai ekspor industri pengolahan naik 13,13% pada April 2025 yoy, dengan andil peningkatan 99,64%," kata Herum.
BACA JUGA: Aturan BSU Sudah Diteken, Pekerja Gaji di Bawah 3,5 Juta Dapat Bantuan Rp600.000
Lebih lanjut dia mengatakan negara dan kawasan tujuan ekspor DIY pada Januari-April 2025 sebesar 72,93 juta dolar AS utamanya adalah pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan) mencapai 25,04 juta dolar AS atau 34,33%. Kemudian barang dari kulit samak 12,97 juta dolar AS atau 17,79%. Terakhir pakaian dan aksesorisnya (rajutan) sebesar 11,33 juta dolar AS atau 15,53%.
Kemudian ekspor ke Jerman mencapai 22,25 juta dolar AS utamanya berupa pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan) 17,01 juta dolar AS atau 76,47%, pakaian dan aksesorisnya 2,60 juta dolar AS atau 11,69%, dan terakhir perabot, lampu dan alat penerangan 0,82 juta dolar AS atau 3,68%.
Negara ketiga adalah Jepang dengan nilai 15,48 juta dolar AS utamanya pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan) 7,84 juta dolar AS atau 50,62%, pakaian dan aksesorisnya 2,85 juta dolar AS atau 18,41%. Dan selanjutnya perabot, lampu, dan alat penerangan sebesar 1,92 juta dolar AS atau 12,38%.
"Pada Januari-April 2025, Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia," jelasnya.
Sementara itu, nilai impor DIY juga mengalami melonjak, selama Januari-April 2025, total nilai impor meningkat sebesar 41,44%dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan impor tersebut didominasi oleh kelompok barang bahan baku/penolong, yang memberikan andil sebesar 88,45% terhadap total kenaikan.
Secara tahunan, nilai impor bahan baku/penolong pada April 2025 naik 33,16% dengan kontribusi sebesar 88,55% terhadap peningkatan impor. Tiongkok tetap menjadi negara asal impor terbesar untuk wilayah DIY.
"Meski ekspor mengalami pertumbuhan, surplus neraca perdagangan tercatat menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Proyek PSEL Piyungan senilai Rp2,5–3 triliun diproyeksikan menyerap hingga 1.000 tenaga kerja dengan prioritas pekerja lokal.
MA mengoreksi perhitungan kerugian negara kasus korupsi timah. Dari Rp300 triliun, kerugian keuangan negara ditetapkan Rp28,9 triliun.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.
Perpres ojol masih difinalisasi Komdigi. Pemerintah menguji formula bagi hasil yang adil bagi pengemudi dan menjaga bisnis platform ride-hailing.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan kasus sabu 98 kg, di salon Mangga Besar. BNN juga menyita uang dan aset Rp39,95 miliar.