Advertisement

Pakar UMY: Konflik Global Tekan Ekspor, Industri Manufaktur Terancam

Anisatul Umah
Sabtu, 11 April 2026 - 04:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Pakar UMY: Konflik Global Tekan Ekspor, Industri Manufaktur Terancam Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua - Shadati

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Konflik geopolitik global yang melibatkan Iran mulai menekan kinerja ekspor Indonesia. Ketidakpastian global ini memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok, serta melemahkan permintaan internasional.

Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menjelaskan dampak tersebut terjadi melalui tiga jalur utama, yakni energy price shock, trade disruption, dan global demand contraction.

Advertisement

“Ketiganya saling memengaruhi. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi global, gangguan perdagangan memperlambat logistik, dan kontraksi permintaan membuat ekspor manufaktur semakin melemah,” ujarnya.

Tekanan dari Harga Energi hingga Permintaan Global

Susilo memaparkan, kenaikan harga energi global memang memberi keuntungan bagi sektor komoditas seperti batu bara dan gas alam cair (LNG) melalui efek harga (price effect).

Namun di sisi lain, sektor manufaktur justru menghadapi tekanan berlapis. Biaya produksi meningkat, rantai pasok terganggu, serta permintaan global melemah.

Kombinasi ini memicu cost-push inflation sekaligus kontraksi permintaan (demand contraction) yang menekan industri dalam negeri.

Surplus Perdagangan Menyusut

Ia menilai penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa dilihat sebagai penurunan permintaan semata.

“Penyusutan surplus perdagangan merupakan kombinasi dari price effect, volume effect, serta dinamika impor energi,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan adanya external shock yang memengaruhi struktur neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.

Risiko Re-Primarisasi Ekonomi

Susilo mengingatkan, sektor manufaktur padat energi menjadi yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik. Industri yang terhubung dalam rantai nilai global memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan energi.

Jika kondisi ini tidak diantisipasi, dominasi sektor komoditas berpotensi kembali menguat.

“Ketika sektor komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai dapat menurunkan daya saing industri nasional serta memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi.

Susilo menegaskan, dinamika konflik geopolitik global perlu dijadikan sinyal penting untuk memperkuat ketahanan struktur ekspor Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

KRL Solo-Jogja 11 April 2026, Simak Jadwalnya

KRL Solo-Jogja 11 April 2026, Simak Jadwalnya

Jogja
| Sabtu, 11 April 2026, 01:17 WIB

Advertisement

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten

Wisata
| Rabu, 08 April 2026, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement