Advertisement
Harga Kedelai Naik Perajin Tempe Dorong Produksi Kedelai Lokal
Tempe / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Lonjakan harga kedelai impor mulai berdampak pada pelaku usaha tempe, termasuk di Jogja, yang kini mendorong penguatan produksi kedelai lokal agar ketergantungan impor bisa ditekan.
Dorongan ini muncul seiring kenaikan biaya produksi yang dirasakan Perajin, menyusul dinamika global dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga bahan baku.
Advertisement
Ketua kelompok Perajin tempe Kramat Pela, Joko Asori mengungkapkan, kualitas kedelai lokal sebenarnya mulai membaik, termasuk dari hasil pengamatannya saat melakukan studi banding di Jogja.
“Memang, sekarang kedelai lokal sudah bagus-bagus, tapi kualitas ukurannya masih kecil, masih besar kedelai impor,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
BACA JUGA
Ia menilai, penguatan kedelai lokal perlu didorong serius karena saat ini harga kedelai lokal justru lebih tinggi dibandingkan kedelai impor asal Amerika Serikat.
Di sisi lain, kapasitas produksi kedelai lokal juga belum mampu memenuhi kebutuhan industri tempe dalam jangka panjang.
“Kalau kita mengandalkan kedelai lokal, kita nggak cukup dalam waktu panen sekali untuk kebutuhan enam bulan ke depan,” ucapnya.
Kondisi ini membuat pelaku usaha masih bergantung pada pasokan impor untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Namun, Joko berharap pemerintah dapat memperkuat dukungan kepada petani serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tempe agar lebih berdaya.
“Yang kita harapkan, mudah-mudahan, petani kita, pemerintah kita, menteri kita mengutamakan Perajin tempe, karena tempe itu bergelut dengan kedelai dari petani Indonesia,” katanya.
Dampak kenaikan harga juga sudah dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Harga keripik tempe naik dari Rp65.000 menjadi Rp70.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada bahan pendukung seperti plastik kemasan, dari sebelumnya sekitar Rp32.000–Rp33.000 per kilogram menjadi Rp50.000 bahkan lebih.
Untuk menyiasati lonjakan biaya, Perajin memilih mengurangi berat produk agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi konflik di Timur Tengah.
Ia menyebut Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut dan masyarakat diminta tidak khawatir serta tidak melakukan pembelian berlebihan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Forbes April 2026: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp13.746 Triliun
Advertisement
Pantai Drini Berpeluang Jadi Kampung Nelayan Merah Putih
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Iuran Belum Naik, BPJS Kesehatan Pilih Suntikan Dana dan Pencegahan
- Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 4,7 Persen di 2026
- Melonjak, Ini Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Kamis 9 April 2026
- KUHP Baru Ubah Arah Hukum Bisnis, Dunia Usaha Diminta Siap
- Utang Dijaga Ketat di Tengah Sinyal Ekonomi Menguat
- Plastik Naik Dua Kali Lipat, Usaha Jogja Mulai Tertekan
- Okupansi Hotel DIY Capai 63 Persen Saat Libur Paskah
Advertisement
Advertisement







