Keren .. Pria Ini Meniti Karier Dari Cleaning Service hingga Kini Jadi CEO

Keren .. Pria Ini Meniti Karier Dari Cleaning Service hingga Kini Jadi CEO Pemilik Rocket Chicken Nurul Atik - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
26 Juni 2018 08:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Siapa sangka lelaki yang dulunya merupakan cleaning service di California Fried Chicken (CFC) ini, kini mempunyai 386 gerai cabang dengan merek warala Rocket Chicken. Bahkan kini ia tengah berusaha merambah pasar Timur Tengah. 

Sosok Nurul Atik, pemilik waralaba Rocket Chicken tersebut nampak bersahaja tetapi tetap rapi. Jas hitam yang ia kenakan saat berbicara di depan ratusan karyawan dan mitranya, ia tanggalkan. Lelaki kelahiran Jepara 52 tahun yang lalu itu lantas menceritakan kisah suksesnya kepada Harian Jogja. Cerita Nurul dalam menapaki dunia kerja berawal ketika ia lulus dari SMA. Kala itu, dia ingin meringankan beban orang tua, Nurul bertekad untuk melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri. Sempat menganggur selama setahun mencari pekerjaan, Nurul akhirnya diterima bekerja di CFC di Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah sebagai cleaning service. 

Ayah tiga anak tersebut mengenang gaji pertama yang ia dapatkan saat itu hanya Rp35.000 per bulan. Dengan uang sebesar itu ia harus mampu mencukupi kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Karena pas-pasan, ia seringkali harus berutang pada rekan kerjanya di CFC. Bahkan agar bisa ngirit, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. “Kadang saya harus jalan kaki satu kilometer, biar ngirit ongkos,” katanya. 

Karena kinerjanya dianggap bagus, ia diangkat menjadi pegawai tetap. Tiga bulan kemudian, Nurul dipercaya menjadi tukang cuci piring selama empat bulan. Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama empat bulan. Lantaran kinerjanya semakin hari semakin baik, ia lantas menjadi kasir selama enam bulan. Berturut-turut posisinya makin mapan, Nurul naik pangkat menjadi seorang supervisor, kemudian ke posisi asisten manajer. Karena saat itu ada kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama tiga bulan. Tak memerlukan waktu yang lama baginya untuk mengecap posisi manajer areal selama dua tahun. 

Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Jogja. Dengan kesibukannya bekerja, Nurul mengaku terpaksa mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. “Akhirnya saat krimon (krisis moneter) 98, saya akhirnya keluar, merintis usaha sendiri. 10 tahun bekerja sudah cukup bagi saya,” katanya. 

Ternyata Nurul menemukan jalan, kawannya mengajak membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng sebagai menu utamanya. Nurul menganggap pasar tersebut cukup potensial karena restoran cepat saji sedang menjadi tren saat itu. Mengusung merek Quick Chicken dengan pasar menengah ke atas, Nurul pun memegang posisi sebagai pengembang bisnis, sementara kawannya mengurusi permodalan. 

Meski telah berkembang hingga memiliki puluhan cabang, Nurul tak lantas cepat puas. Ia akhirnya membuka bisnis fried chicken sendiri dengan menyasar pasar menengah ke bawah. Pasalnya ia menilai selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran cepat saji lokal maupun asing. “21 Februari 2010 saya mendirikan gerai Rocket Chicken pertama di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang. Tanggapan masyarakat bagus sekali sampai akhirnya berkembang ke daerah lain sampai Sumatra. Jogja ini termasuk yang baru, sekitar empat tahun terakhir. Kenapa? Karena saya utamakan membaca peluang pasar,”katanya. 

Kemampuan membaca pasar tersebut, menurut Nurul sangat penting dimiliki agar sebuah bisnis dapat berkembang pesat. Buktinya kini ia telah memiliki 386 gerai cabang di seluruh Indonesia. Bahkan dengan kemampuan tersebut, ia mengaku telah ada investor luar negeri yang tertarik untuk membeli waralaba miliknya. Pasar pertama yang ia bidik adalah Timur Tengah. 

Nurul mengibaratkan jika ingin mendapat ikan yang besar, maka umpan yang disiapkan pun harus besar. Ekspansi pasar luar negeri inilah yang menjadi umpannya kini. Dengan begitu ia berharap, hasil yang didapatkan pun akan maksimal. “Prinsip saya bisnis ini ya bekerja, berdoa, dan berbagi. Tidak hanya mencari keuntungan tapi kita harus selalu ingat untuk berbagi dengan sesama,” ujarnya menutup perjumpaan siang itu.