Nur Achmad Affandi: Promosikan Cerutu Khas Jogja ke Pasar Dunia

Nur Achmad Affandi: Promosikan Cerutu Khas Jogja ke Pasar DuniaDirut Taru Martani Nur Achmad Affandi - Harian Jogja/Holy Kartika N.S.
03 Juli 2018 10:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagai salah satu perusahaan cerutu tertua di Indonesia, Taru Martani masih bertahan di era yang serba canggih dan inovatif ini. Tak mudah bagi Nur Achmad Affandi menakhodai perusahaan yang telah berusia satu abad ini. Namun, konsistensi menjaga warisan budaya secara turun temurun yang dilakukan para perajin cerutu di pabrik ini, membangkitkan semangatnya untuk terus mempromosikan Javanese Cigar di pasar dunia. 

Bau tembakau menguar di ruangan Nur Achmad Affandi saat berbincang santai tentang perkembangan industri cerutu nasional dan dunia yang selama ini masih dikuasai oleh Kuba. Namun, optimisme Nur terhadap produk cerutu Jogja seolah meyakinkan kepada siapapun yang berbincang dengannya, cerutu lokal ini tak kalah saing. 

"Ada seorang teman bertanya, mana yang lebih enak, cerutu impor atau cerutu lokal. Saya bilang, cerutu tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain. Karena setiap cerutu memiliki ramuan yang berbeda, makanya produk ini unik. Cerutu Kuba yang begitu rasanya, pun demikian dengan cerutu Jogja," ujar Dirut Taru Martani ini saat berbincang santai dengan Harian Jogja, Senin (2/7).

Tentunya, bagi mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY ini, saat didapuk memimpin Taru Martani, terbesit rasa ingin tahu perihal kebertahanan perusahaan yang telah berdiri sejak zaman kependudukan Belanda itu. Kesungguhan dalam menjaga kualitas, kata Nur, menjadi salah satu nilai yang dipertahankan oleh para perajin cerutu Taru Martani. 

Bagi Nur, cerutu bukanlah produk rokok seperti pada umumnya. Bahkan, bagi kalangan internasional muncul suatu pemeo cigar not cigarette. Cerutu merupakan produk yang unik kaitannya dengan gaya hidup dan merupakan produk kerajinan yang dibuat dengan tangan. 

"Maka dari itu, saya menyebutnya bukan industri rokok tetapi industri kerajinan cerutu," ungkap Nur. 

Konsistensi menjaga warisan sejarah ini, terus menjadi komitmen yang dipegang Nur. Bahkan, pada suatu pertemuan yang dihadiri puluhan purna karyawan, konsistensi menjaga kualitas cerutu Jogja selalu menjadi pedoman setiap karyawan yang bekerja di pabrik ini. 

Dalam memimpin perusahaan ini, satu hal yang tengah dibangun Nur bersama bersama seluruh stafnya adalah menyampaikan pada publik internasional tentang komitmen untuk menjaga kualitas. 

"Satu hal yang kami tonjolkan, yakni mengembangkan cigar industry heritage. Kami menyebutnya sebagai warisan cagar budaya dalam industri cerutu yang masih terus bertahan selama 100 tahun tanpa pernah vakum berproduksi," kata laki-laki kelahiran Ponorogo, 31 Agustus 1961 ini. 

Kendati demikian, tak dipungkiri jika industri ini juga semakin tumbuh pesat didukung dengan perkembangan teknologi produksi yang semakin canggih. Dalam konteks bisnis di era kekinian ini, Nur juga tak melupakan peran teknologi informasi di era digital dalam upaya pemasaran dan promosi Cerutu van Java ini. 

Upaya pengembangan jaringan pasar secara daring ini juga sebagai langkah untuk menggalakkan perusahaan cerutu tertua tersebut sebagai destinasi wisata. Pasalnya, banyaknya agen-agen cerutu Jogja di luar negeri, sebagian besar berawal sebagai wisatawan. 

"Mereka datang sebagai wisatawan ke Jogja, lalu melihat potensi cerutu kami, kemudian menjadi agen penjual di negaranya. Oleh karenanya, kami mulai berbenah untuk menjadikan Taru Martani sebagai salah satu daya tarik wisata, dengan lingkungan yang mulai kami tata dan ada beberapa program yang kami siapkan untuk mengarah ke sana," kata bapak dua anak ini.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia