Anggota DPR Sebut Dampak Positif Depresiasi Rupiah Tidak Signifikan

Anggota DPR Sebut Dampak Positif Depresiasi Rupiah Tidak SignifikanKapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018). - Bisnis Indonesia
08 Juli 2018 13:17 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam menyebut dampak positif dari depresiasi mata uang rupiah terhadap ekspor tidak signifikan dan yang akan menikmatinya juga hanya pengekspor bahan mentah.

"Dampak positif depresiasi rupiah terhadap ekspor rasanya tidak akan terlalu signifikan. Yang dapat menikmati 'wind fall profit' hanya eksportir komoditas mentah, yang sebetulnya harganyapun lebih dibentuk oleh pasar internasional," kata Ecky Awal Mucharam dalam rilis, Sabtu (7/7/2018).

Politikus dari PKS itu menambahkan, sementara eksportir berbasis industri manufaktur tidak akan menikmati pelemahan rupiah yang terjadi. Hal tersebut, lanjutnya, karena hampir 80% impor yang masuk ke Indonesia adalah bahan baku atau bahan penolong industri.

Bagi sektor keuangan, ujar dia, depresiasi rupiah akan menekan pembiayaan valas dan meningkatkan eksposur risiko valas khususnya bagi pinjaman asing yang tidak ter-hedging (lindung nilai), sedangkan hedging itu memerlukan biaya.

"Ini meningkatkan risiko default [gagal bayar] dari debitur yang diperparah kelesuan kegiatan di sektor riil itu sendiri. Sementara BI dengan bauran kebijakan moneter-nya sudah dan mungkin akan menaikan lagi suku bunga acuan untuk menahan capital outflow. Bunga yang mahal tentu saja akan membuat pengusaha menahan kegiatan usahanya," katanya.

Ia berpendapat bahwa saat ini, struktur perekonomian yang rapuh menyebabkan Indonesia tidak bisa melaju kencang hanya karena satu kebijakan The Fed yang menaikan bunganya.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perbaikan struktur ekspor nasional menjadi penting untuk mengatasi dampak dari potensi perang dagang yang dilakukan oleh negara maju.

"Kita harus susun kebijakan, baik dari industri atau sumber daya alam untuk perbaiki ekspor kita," kata Darmin di Jakarta, Kamis (21/6/2018).

Untuk itu, ujar dia, perbaikan struktur ekspor nasional menjadi penting agar kinerja perdagangan nasional makin membaik dan defisit neraca transaksi berjalan yang selama ini menjadi salah satu penyebab depresiasi rupiah makin mengecil.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, perusahaan milik negara yang operasionalnya menggunakan valuta asing siap menggunakan fasilitas lindung nilai (hedging) dalam menghadapi kondisi nilai tukar rupiah pada saat ini.

"Pada dasarnya kita ada instrumen 'hedging' yang bisa digunakan antar-BUMN melalui fasilitas 'swap' untuk membantu pengelolaan risiko keuangan," kata Rini dalam kunjungan kerjanya di Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (1/7/2018).

Menurut Rini, dalam melakukan lindung nilai harus dilihat dari sisi BUMN yang melakukan ekspor maupun impor karena memang membutuhkan dan menerima devisa dalam bentuk valuta asing.