Pengamat Sebut BI Bisa Pertahankan Suku Bunga, Berikut Dasarnya

Pengamat Sebut BI Bisa Pertahankan Suku Bunga, Berikut DasarnyaIlustrasi emas dan dolar. - JIBI
19 Juli 2018 16:30 WIB Ipak Ayu H Nurcaya dan Rinaldi Mohammad Azka Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA—Langkah Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin (bps) selama tiga bulan terakhir dinilai mulai menunjukkan relatif stabilnya rupiah selama dua pekan terakhir. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan meredam ketidakpastian yang muncul di pasar akibat langkah The Fed. 

Kepala Peneliti Kajian Makroekonomi dan Kebijakan Pasar Keuangan LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Febrio Kacaribu menilai gejolak di pasar keuangan global mulai mereda dan tidak ada tambahan faktor negatif lebih lanjut. Sehingga, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga acuan saat ini, mengingat inflasi dalam negeri yang masih sangat rendah. Namun, BI masih perlu terus mengawasi potensi sumber ketidakstabilan bagi mata uang Garuda. 

"Kami melihat BI masih bisa mempertahankan suku bunga acuannya tetapi perlu lebih hati-hati dengan sejumlah gejolak seperti perang dagang antara AS dengan RRT dan Uni Eropa (UE) serta gejolak komoditas ekspor utama," katanya, Kamis (19/7/2018). 

Febrio mengemukakan kondisi domestik hingga Juni 2018 masih belum menunjukkan perubahan berarti sejak 2017, di mana pertumbuhan permintaan dalam negeri masih relatif stagnan. 

Tren ini terlihat dari inflasi year-on-year (yoy) pada Juni, di mana inflasi umum dan inflasi inti sedikit turun ke level 3,12% dan 2,72% secara yoy, jika dibandingkan dengan posisi Mei 2018 yang masing-masing sebesar 3,23% dan 2,75%. 

Penurunan terjadi meskipun inflasi umum pada Juni naik ke level 0,59% secara month-to-month (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya akibat konsumsi musiman yang meningkat selama periode Ramadan dan Idulfitri. 

Inflasi juga masih relatif rendah di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat keputusan pemerintah untuk secara de facto menaikkan subsidi BBM dengan menahan harga BBM jenis Premium, Solar, dan Pertalite. 

Inflasi inti yang masih rendah terjadi di tengah membaiknya beberapa indikator sektor riil dan keuangan yang mengindikasikan adanya kenaikan daya beli. 

Indikator utama sektor riil, seperti pengangguran terbuka yang turun menjadi 5,13% pada Februari 2018, tingkat kemiskinan yang turun menjadi 9,82% pada Maret 2018, dan rasio Gini yang turun menjadi 0,389, mengindikasikan daya beli masyarakat secara agregat telah meningkat. 

Menurut Febrio, hal ini didukung oleh kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen pada Juni 2018 menjadi 128,1 dari 122,4 pada Juni 2017 serta indeks Purchasing Manager Indeks (PMI) manufaktur menjadi 50,3 dari 49,5 pada Juni 2018 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Hal ini mengindikasikan aktivitas konsumsi dan manufaktur seharusnya menunjukkan peningkatan berarti pada kuartal II/2018. 

"Walaupun data yang ada masih belum cukup untuk mengambil kesimpulan, terdapat dua faktor yang mungkin menjelaskan mengapa inflasi inti relatif stagnan di tengah indikasi daya beli dan keyakinan konsumen yang meningkat," ujarnya. 

Pertama, pertumbuhan ekonomi dan konsumsi saat ini masih berada di bawah ekuilibrium jangka panjang, masih terdapat kapasitas produksi yang berlebih sehingga kenaikan konsumsi tidak langsung direspons dengan kenaikan harga. 

Kedua, tekanan inflasi telah turun secara permanen dibanding 5-10 tahun yang lalu akibat penyesuaian ekspektasi inflasi di masyarakat, yang membuat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06% pada kuartal I/2018 tidak diiringi oleh inflasi sebesar 8,36% seperti pada kuartal IV/2014 ketika ekonomi tumbuh 5,03%. 

"Kedua faktor itulah yang membuat BI tidak perlu terlalu mengkhawatirkan faktor domestik dalam pengambilan keputusan suku bunga acuan di jangka pendek," tambah Febrio. 

BI tengah mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Juli 2018 dan hasilnya dijadwalkan disampaikan hari ini.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

Ad Tokopedia