Advertisement
Belajar Cara Bertahan Hidup Bangsa Viking Lewat Kuksa
Thoha Amri Abdillah menunjukkan beberapa produk Volcanoes Bushcraft yang tengah dipamerkan di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 30 di Planet Pyramid, Jumat (3/8). - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Berawal dari keinginan untuk memperkenalkan bushcraft, yakni keahlian bertahan hidup di alam bebas seperti para viking, Thoha Amri Abdillah mencoba memulainya lewat produk kuksa. Cangkir kayu yang merupakan budaya masyarakat Skandinavian yang dibuatnya, tak sekadar suvenir unik, tetapi juga dapat difungsikan seperti cangkir pada umumnya.
Kecintaan pada alam bebas membawanya pada hobi yang mulai ditekuninya sejak 2009 silam. Tak sekadar mengenal aktivitas alam, Thoha juga belajar mengenai cara bertahan hidup atau survival, tetapi juga mengenal berbagai cara bertahan hidup secara tradisional.
Advertisement
Hobi petualangan alam ini membawanya pada suatu gaya hidup yang dahulu diperkenalkan oleh masyarakat Skandinavian yakni masyarakat Viking. Cara bertahan hidup yang dilakukan masyarakat ini mencoba memanfaatkan apapun yang disediakan oleh alam.
"Bushcraft ini memang belum banyak dikenal baik di Indonesia. Saya mencoba untuk memperkenalkan bushcraft melalui kuksa, yakni cangkir dari kayu," ujar Thoha saat ditemui Harian Jogja di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2018 di Planet Pyramid.
BACA JUGA
Bagi sebagian masyarakat awam, kuksa biasanya dipahami sebagai cangkir atau gelas unik karena terbuat dari kayu. Namun, melalui produk yang dibuatnya, Thoha mengaku ingin sekaligus mengedukasi konsumennya untuk lebih mengenal kuksa.
Thoha mengatakan bagi kalangan yang mengenal bushcraft, kuksa adalah simbol dari budaya tersebut. Pada masa lalu, penyebaran dan pengenalan bushcraft melalui kuksa dibawa oleh para viking, sehingga benda ini dikenal di seluruh Eropa.
"Ke depan juga tidak sekadar untuk membuat produk, tetapi saya ingin mengedukasi tentang bushcraft. Bukan hanya peralatannya, tetapi juga apa saja aktivitasnya," jelas alumni Jurusan Desain Grafis ISI Jogja ini.
Kendati tren bushcraft belum banyak dikenal masyarakat, produk kerajinan yang dibuat Thoha dan dilabeli dengan brand Volcanoes Bushcraft ini juga masih lebih banyak diminati oleh kalangan pencinta alam atau penggiat alam bebas. Selain kuksa, Thoha juga membuat bucksaw yakni gergaji, coffee box dan beberapa produk lainnya.
Produk ini tak hanya dijual secara offline melalui pesanan, tetapi juga online melalui akun Instagram @volcanoes_bushcraft. Bahan baku produk kerajinan yang dijual dengan harga mulai dari Rp100.000 ini menggunakan kayu jati lokal.
"Proses pembuatannya juga cukup rumit, karena harus melalui banyak tahapan. Selain itu, kuksa ini juga tidak sekadar untuk suvenir, karena ini bisa digunakan dan ramah untuk bahan makanan," ungkap Thoha.
Â
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
Advertisement
4.715 Siswa Jogja Bakal Terima Bantuan Pendidikan, Cair Maret 2026
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Arab Saudi Larang Impor Unggas Indonesia
- Bulog Pastikan Harga Beras dan Minyakita di DIY Stabil Jelang Lebaran
- Harga Emas Pegadaian 26 Februari 2026 Turun, UBS Rp3.082.000
- ART Indonesia-AS Resmi Berlaku, 1.819 Produk Tarif 0 Persen
- Rupiah Menguat ke Rp16.744 per Dolar AS, Dipicu Kebijakan Tarif Trump
Advertisement
Advertisement







