Selama Bertugas, Pria Ini Mengaku Hadapi Banyak “Kaca”

Selama Bertugas, Pria Ini Mengaku Hadapi Banyak “Kaca”Eric Rossi Priyo Nugroho - Ist
07 Agustus 2018 10:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menjabat sebagai Manajer PT PLN (Persero) Area Jogja dilakoni Eric Rossi Priyo Nugroho dengan sepenuh hati. Selain berkutat dengan urusan kelistrikan, peningkatan kualitas layanan juga jadi prioritasnya.

“Saya senang hal-hal yang berkaitan dengan maintenance. Memperbaiki sesuatu yang rusak,” ujar Eric saat ditemui Harian Jogja di kantornya beberapa waktu yang lalu. Eric mengaku kegemaran itulah yang membawanya masuk ke dunia kelistrikan sejak di bangku kuliah. Lulus dari Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, ia lantas bekerja di perusahaan plat merah, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Bekerja dekat dengan hal-hal berbau pemeliharaan agaknya sudah menjadi panggilan hatinya.

Apalagi menurut Eric, jaringan PLN merupakan jaringan lama yang butuh perhatian khusus. Pemeliharaan maupun peningkatan jaringan tak bisa dilakukan secara serampangan. Baik yang berkaitan dengan material ataupun hal-hal teknis lainnya. Oleh sebab itu berbagai program pemeliharaan terus menerus dilakukan. PLN Area Jogja yang membawahi tujuh rayon punya program inspeksi per rayon. Tiap-tiap rayon harus mengecek jaringan di wilayahnya paling tidak sepanjang lima kilometer dalam satu hari. Hal itu, menurut Eric dilakukan untuk mendata adanya gangguan listrik berupa ranting pohon yang menjuntai ataupun billboard yang menghalangi kabel listrik. Jika data telah terkumpul, maka skala prioritas dapat disusun. Sehingga dapat ditentukan jaringan mana yang butuh didahulukan untuk pemadaman saat perbaikan.

“Inspeksi ini dilakukan dengan jalan kaki. Nah kami punya target dalam setahun, titik yang sama harus pernah dicek dua kali. Artinya setiap rayon harus membuat hitung-hitungan harus berjalan berapa kilometer per hari agar bisa sampai di titik yang sama minimal dua kali. Tiap rayon bisa berbeda karena luas wilayahnya juga tak sama,” ujar Eric sambil menyunggingkan senyum.

Sikap ramah dan helpfull agaknya sudah mendarah daging dalam diri pria asal Kota Gudeg ini. Menurut Eric, di era teknologi yang kian pesat seperti sekarang ini, PLN tak bisa hanya berkutat pada urusan kelistrikan tetapi juga berhadapan dengan pelayanan pelanggan. Pasalnya kini keluhan pelanggan akan sangat mudah tersampaikan melalui media sosial. Baik Twitter, Facebook, atau bahkan grup-grup warga seperti Info Cegatan Jogja. Sehingga sedikit saja alpa yang diperbuat PLN, konsumen yang merasa kecewa akan dengan mudah membagikannya dalam hitungan detik saja. Mau tak mau, Eric menyebut PLN harus terus menerus berbenah untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya.

Maka berbagai cara pun ditempuh. Eric menuturkan saat ini PLN Area Yogyakarta telah memiliki berbagai channel aduan pelanggan yang dikelola dengan baik. Kesemuanya dioperasikan agar dapat mengukur timbal balik (feedback) para pelanggan terhadap pelayanan PLN. Semua aduan yang masuk ke channel tersebut akan berusaha ditangani dengan sebaik-baiknya. Sebab Eric mengaku PLN juga telah memiliki service level agreement (SLA) yang didalamnya mengatur standar layanan. Berdasarkan SLA tersebut, respons waktu terhadap keluhan pelanggan dibatasi maksimal 30 menit seusai diterima oleh petugas. Sedangkan recovery time dibatasi hanya tiga jam setelah ditangani. Hal itulah yang menjadi pegangan PLN dalam peningkatan kualitas layanannya.

Eric sadar betul saat seluruh konsumen telah terhubung dengan dunia digital, ekspektasi mereka terhadap layanan publik, termasuk listrik, pun akan meningkat. Dahulu, saat pertama kali ia bergabung di perusahaan pelat merah ini, teknologi belum maju pesat. Meskipun ada keluhan dari pelanggan tetapi saat itu masih diterima langsung oleh petugas tanpa banyak orang tahu.

Saat ini, Eric mengibaratkan lebih banyak “kaca” yang dihadapi oleh PLN. Salah sedikit, semua orang akan tahu dan ikut menilai. “Sebenarnya ini lebih baik buat kami. Kami bisa tahu apa kekurangan yang ada dan segera memperbaikinya. Tidak hanya “jual” listrik tetapi juga harus peduli pelayanan,” tutur Eric. Maka tak dapat dipungkiri, peningkatan kualitas layanan jadi salah satu prioritasnya.