Pulsa Murah dengan Lelang Terbalik, Tertarik?

Pulsa Murah dengan Lelang Terbalik, Tertarik?Timothy Ponco Raharjo - Ist
27 Agustus 2018 20:30 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJATergerak untuk berbagi rezeki pada khalayak dengan cara aman, mudah diakses di manapun dan oleh siapapun tetapi menguntungkan, Timothy Ponco Raharjo pun membidani Box Aladin. Seperti namanya, ruang bisnis ini dirancang laksana kotak magis, seolah hanya sebuah bidang empat persegi yang kosong tetapi menyimpan kejutan di babak akhir.

Anak kelima dari pemilik jaringan hotel dan apartemen Indoluxe Hotel & Resort Group Anthony Raharjo ini memiliki keinginan besar membuka peluang usaha yang dapat diakses banyak orang. Dengan nama besar sang ayah, sebenarnya pria berusia 23 tahun ini memiliki kesempatan besar meneruskan bisnis properti. Namun dia memilih menjajal peruntungan di bidang lain.

“Awalnya kami jualan ponsel dengan bendera yang sama. Saat memulai usaha, baru kami menyadari ada yang salah. Pemain pasar ini sudah banyak, seperti Tokopedia dan yang lain. Mereka sudah punya nama besar juga. Otomatis investor besar akan memilih ke mereka untuk menanamkan modal,” katanya kepada Harian Jogja, Senin (20/8).

Dari pengalaman ini, dia mulai mencermati laju bisnis dan mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan publik. Sampai pada satu titik, dia menemukan jika masyarakat tidak bisa lepas dari pulsa. Bahkan, kata dia, pulsa itu ibarat air. Jika habis orang sesegara mungkin membeli pulsa. Transaksi ini terjadi berulang dan dialami setiap orang yang memiliki ponsel.

Meski telah menemukan kata kunci, lulusan Universitas Marymount Loyola di California, Amerika Serikat (AS) ini tak berhenti di titik tersebut. Dia berusaha mengobservasi masa depan bisnis penjualan pulsa, termasuk prospek gerai pulsa yang saat ini mulai surut jumlahnya.

Sesuai moto kami Semakin Dilihat, Semakin Murah, harga pulsa yang dijual akan semakin murah jika semakin banyak yang menggunakan. Pulsa tersebut dapat dipindahkan atau dijual pula kepada orang lain. Jadi dengan kata lain pengguna bisa memperdagangkan pulsa yang diperolehnya dengan harga murah tersebut, secara online, sehingga mendapatkan banyak keuntungan. Sistemnya seperti lelang terbalik. Kami yang menginisiasi konsep ini di Indonesia,” urai dia.

Pulsa dan lelang terbalik itu coba dikembangkan dengan satu kekuatan lagi, yakni smartphone. Dengan kata lain, Timothy ingin si pengakses Box Aladin tidak terbatas. Siapapun bisa bergabung dan mengakses. Modalnya pun terjangkau, hanya ponsel pribadi si pemilik yang juga menjadi gerai penjualan pulsa.

Lewat tiga poin tersebut, lelaki ini bertukar pikiran dengan sang ayah. Per 2016, keduanya berusaha membedah konsep. Menurut dia, mengurai rancangan besar sebuah bisnis teknologi informasi (TI) penuh dengan tantangan. Apalagi TI bukanlah dunia yang dipelajarinya saat di bangku kuliah. Beruntung ada salah satu kakak yang sangat mengerti bidang TI. Atas masukan dari kakak, akhirnya tercipta aplikasi Box Aladin dengan genre baru.

Waktu terlama saat memulai bisnis ini adalah merumuskan konsep, sedangkan sistem aplikasi dapat dikerjakan selama enam bulan. Box Aladin selain dapat diakses melalui web https://www.boxaladin.com/ juga dapat diunduh melalui Playstore atau Appstore. Sampai saat ini aplikasi ini memiliki 30.000 anggota. Rata-rata orang mengakses adalah anak muda berusia 30 tahun ke bawah atau mereka yang familier dengan ponsel pintar.

Sementara waktu, kantor pengembangan Box Aladin terletak di Jakarta. Satu lokasi di perusahaan properti keluarga yang memiliki tim TI. Kebetulan, kantor tersebut memiliki tim TI yang solid dan handal sehingga keamaan bertransaksi di Box Aladin terjamin.

Meski pulsa memegang peranan besar dalam aplikasi ini, pada 2019 Timothy berencana melebarkan layanan. “Ke depan, kami tidak berhenti di pulsa. Barang apapun bisa ditawarkan dengan lelang terbalik. Harga pasti lebih miring sehingga anggota bisa jualan ke teman, cari untung. Misal token gim, vocer listrik PLN atau yang lain,” ujar pria yang memiliki latar belakang pendidikan Ekonomi ini.

Hal lain yang tengah dipersiapkan Timothy adalah membuka kantor di beberapa kota. Rencana kota-kota yang dipilih akan fokus pada bidang pemasaran. Sedangkan Jogja menjadi pusat tim TI Box Aladin.

Kotak Keajaiban

Box Aladin, kata Timothy, bak sebuah permainan sulap. Ada sesuatu yang tersimpan dalam sebuah kotak dan disembunyikan sementara waktu. Tak lama, siapapun akan melihat ada suatu hal magis yang terlihat.

“Bisnis pulsa ini ibarat kotak ajaib. Kelihatannya biasa, saat dibuka orang-orang akan merasakan ada sesuatu yang beda, yaitu harga beli pulsa yang miring,” katanya.

Meski usia bisnis ini masih belia, Timothy mengatakan ada masterplan yang telah dipersiapkan. Misalnya merambah pasar internasional. Sementara waktu, Box Aladin akan menyasar negara yang masih banyak menggunakan pulsa, contohnya di Asia Tenggara. Rencana pengembangan ruang usaha ini dilangsungkan pada 2020.

Guna meraih mimpi itu, selama dua tahun ini, Box Aladin akan mematangkan diri. Dengan harapan dapat sepenuhnya siap menjawab kebutuhan pasar baru.

Menurut dia, hal ini sejalan dengan visinya menciptakan satu juta pengusaha pulsa sehingga dapat membuka membuka lapangan kerja yang luas tetapi halal. Dengan harapan, bisnis ini bisa membantu orang lain dan dapat diakses di manapun serta dapat menjadi pekerjaan sampingan yang juga kuat.