Bisnis Elektronik Masih Berat

Bisnis Elektronik Masih BeratKaryawan mencoba produk AC si Biru sebelum peluncurannya, di gerai PT Panasonic Gobel Indonesia, Jakarta, Selasa (9/10/2018). Produsen teknologi elektronik asal Jepang itu memperkenalkan produk pendingin ruangan yang dilengkapi teknologi blue consept pada material evaporator yang membuat AC bebas karat dan tahan lama. - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
12 November 2018 17:10 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Produsen elektronik menilai kondisi bisnis tahun ini masih cukup berat. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat salah satu pendorong penurunan margin.

Lee Kang Hyun, Vice President Samsung Indonesia, mengatakan tiga tahun terakhir situasi industri elektronik mengalami penurunan rerata sebesar 10% tiap tahun. Pada awalnya, penurunan ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun.

Selain itu, masyarakat lebih memilih membelanjakan uang untuk kepentingan lain, seperti perjalanan wisata, ketimbang membeli peralatan elektronik baru.

Kondisi bisnis semakin tertekan karena penguatan dolar AS, sementara bahan baku elektronik masih banyak yang diimpor. Hal ini semestinya diimbangi dengan kenaikan harga jual, tetapi produsen susah melakukannya demi menjaga penjualan di tengah pelemahan daya beli.

"Karena itu sebenarnya dari produsen elektronik sangat sulit tahun ini. Profit juga susah, karena harga enggak bisa dinaikin padahal harga bahan baku naik," ujarnya di Bali belum lama ini.

Tak hanya barang elektronik rumah tangga yang menurun, Lee menyatakan penjualan telepon pintar, yang menjadi andalan Samsung, juga tengah lesu. Sebelumnya, penjualan smartphone tumbuh 5%-10% setiap tahun.

"Penjualan semester ini susah, secara total sangat sulit kondisinya sekarang," tambahnya.

Dia berharap kondisi bisnis elektronik bakal membaik setelah pemilihan presiden pada tahun depan.

Sementara itu, Tekno Wibowo, Chief Commercial Officer PT Polytron Indonesia, menyatakan pemerintah diharapkan bisa menarik investor di sektor komponen untuk mengurangi dampak pelemahan nilai tukar. Pasalnya, saat ini industri elektronik masih bergantung 60%-70% pada komponen impor.

Dengan ketergantungan komponen impor yang masih besar tersebut, faktor nilai tukar sangat mempengaruhi biaya produksi. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah dapat menciptakan iklim investasi yang mampu menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Tanah Air, terutama untuk komponen elektronik. Dengan demikian, ketergantungan bahan baku impor bisa ditekan.

Tekno menyebutkan beberapa komponen yang diimpor antara lain kompresor untuk kulkas, panel LCD, dan chipset untuk produk telepon genggam. Menurut dia, apabila pemerintah bisa menarik investor asing untuk merelokasi pabrik mereka, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah yang besar dan menyerap tenaga kerja yang lebih besar.

"Kebijakan harus diperbaiki supaya ketergantungan bahan impor bisa dikurangi," jelasnya.

Daniel Suhardiman, Ketua Bidang Home Appliances Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), juga menyatakan pelaku industri elektronik memang merasakan penurunan kinerja. Diperkirakan terjadi penurunan kurang lebih 10% saat ini.

“Kemungkinan karena masyarakat semakin cerdas dan tidak lagi konsumtif untuk elektronik. Pola konsumsi masyarakat berubah,” ujarnya.

Perkiraan tersebut muncul karena permintaan barang elektronik tidak tumbuh, padahal jumlah keluarga di Indonesia tidak ikut berkurang, malah bertambah. Selain itu, dengan penerapan standar nasional Indonesia (SNI), kualitas produk elektronik dalam negeri meningkat sehingga lebih tahan lama. Dengan demikian, usia produk yang dimiliki masyarakat pun bertambah panjang dan waktu replacement semakin mundur.

Daniel juga menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penurunan penjualan elektronik. Beberapa produsen terpaksa menaikkan harga jual karena 70% bahan baku merupakan produk impor.

Namun, kenaikkan tersebut menyebabkan penurunan permintaan. “Belakangan ini beberapa merek sudah menaikkan harga. Dampaknya berasa, Juli-Agustus mulai lesu penjualan,” jelasnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik sepanjang kuartal III/2018 turun sebesar -1,84%, sedangkan pada kuartal I/2018 turun -2,41% dan tumbuh 0,47% pada kuartal selanjutnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia